JAKARTA, KOMPAS.com – Kesenjangan literasi digital dan literasi keuangan masih menjadi tantangan utama yang menghambat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Temuan awal tersebut diperoleh dari implementasi program AIM ASEAN oleh KUMPUL Impact yang telah menjangkau 16.037 UMKM di 32 provinsi. Dari jumlah peserta, sekitar 62,2 persen merupakan pelaku UMKM perempuan.
Founder sekaligus Chairperson KUMPUL Impact, Faye Wongso, mengatakan kebijakan pengembangan AI perlu disusun berdasarkan kondisi nyata yang dihadapi pelaku UMKM agar implementasinya dapat berjalan efektif.
Baca juga: Google Klaim Berhasil Kurangi Emisi Meski Konsumsi Listrik AI Meningkat
"Sebagaimana sebuah bangunan membutuhkan cetak biru agar dapat berdiri kokoh, kebijakan AI juga harus berangkat dari realitas di lapangan. Kebijakan sehebat apa pun di atas kertas tidak akan bermakna jika gagal menjawab tantangan keseharian UMKM," ujar Faye dalam keterangan tertulis, Kamis (9/7/2026).
Selain literasi digital dan finansial, KUMPUL Impact juga menemukan bahwa ekosistem lokal menjadi faktor penting dalam keberhasilan adopsi AI oleh UMKM.
Daerah yang memiliki kolaborasi kuat antara pemerintah daerah, komunitas UMKM, dan mitra pembangunan dinilai menunjukkan tingkat partisipasi serta keberlanjutan program yang lebih baik.
Salah satu contohnya terlihat di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, di mana sinergi antarpemangku kepentingan dinilai mampu mempercepat pemanfaatan AI sekaligus meningkatkan kapasitas pelaku UMKM.
Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan dalam forum National Policy Convening Indonesia: Charting the Blueprint for AI-Inclusive Indonesia yang digelar di Jakarta.
Forum tersebut merupakan bagian dari program AIM ASEAN, inisiatif regional yang dipimpin ASEAN Foundation bekerja sama dengan AVPN serta didukung Google.org dan Asian Development Bank (ADB).
Menurut Faye, penyusunan kebijakan AI tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dengan mempertimbangkan pengalaman langsung pelaku UMKM.
"Karena itu, National Policy Convening ini hadir untuk memastikan arah kebijakan dirumuskan berdasarkan lived experience para pelaku usaha di akar rumput," katanya.
Project Manager AIM ASEAN yang mewakili ASEAN Foundation, Eci Ernawati, mengatakan program tersebut bertujuan membuat teknologi AI lebih mudah diakses, dipahami, dan diterapkan oleh UMKM sebagai tulang punggung perekonomian kawasan ASEAN.
"Keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi dari seberapa banyak UMKM yang mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup, mengembangkan usaha, dan pada akhirnya naik kelas," ujar Eci.
Senada, Staf Khusus Presiden Bidang UMKM dan Teknologi Digital, Tiar Nabilla Karbala, menilai AI seharusnya menjadi instrumen untuk mempersempit kesenjangan produktivitas, bukan hanya dinikmati oleh pelaku usaha besar.
Baca juga: Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
"AI bukan sekadar lompatan teknologi, melainkan alat strategis untuk mempersempit kesenjangan produktivitas. Teknologi ini tidak boleh menjadi privilese segelintir pelaku besar, tetapi harus memperluas daya saing jutaan UMKM Indonesia," kata Tiar.
Ia menambahkan, pengembangan AI perlu dibarengi dengan regulasi yang mampu menciptakan ekosistem yang aman, inklusif, dan bertanggung jawab, dengan kebijakan yang disusun berdasarkan pembelajaran nyata dari pelaku UMKM.
Forum tersebut ditargetkan menghasilkan tiga dokumen, yakni ringkasan eksekutif, ringkasan kebijakan publik, serta perangkat media dan advokasi yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi penyusunan kebijakan nasional terkait adopsi AI oleh UMKM.
Secara keseluruhan, AIM ASEAN menargetkan pemberdayaan 54.000 UMKM di Indonesia. Dalam program tersebut, KUMPUL Impact bertugas mendampingi sekitar 32.000 UMKM melalui pemanfaatan teknologi AI yang aman dan bertanggung jawab.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya