JAKARTA, KOMPAS.com – Limbah padat dari industri minyak atsiri berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket untuk mendukung pengembangan energi alternatif berbasis biomassa sekaligus mengurangi limbah agroindustri.
Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Anny Sulaswatty, mengatakan limbah dari berbagai tanaman penghasil minyak atsiri, seperti akar wangi, serai wangi, kayu manis, cengkeh, jahe, hingga kayu cendana, gaharu, dan masoi, masih memiliki kandungan karbon yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar padat.
"Banyak limbah biomassa dapat dimanfaatkan menjadi biobriket, tetapi poin utamanya adalah bahan tersebut harus memiliki nilai karbon minimal 40 persen," ujar Anny, dikutip dari laman resmi BRIN, Sabtu (11/7/2026).
Baca juga: Inovasi Guru di Gayo Lues Jaga Hutan Lewat Penyulingan Atsiri
Salah satu limbah yang dinilai paling menjanjikan adalah residu padat hasil penyulingan rimpang jahe (Zingiber officinale). Selama ini limbah tersebut umumnya belum dimanfaatkan secara optimal, padahal masih mengandung lignoselulosa yang dapat diolah menjadi biochar dan selanjutnya diproses menjadi biobriket.
Menurut Anny, limbah rimpang jahe memiliki kandungan lignin mencapai 45,98 persen sehingga berpotensi menjadi bahan baku biobriket berkualitas.
"Limbah padat rimpang jahe memiliki kandungan lignin yang tinggi, sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku biobriket. Melalui proses pirolisis, limbah ini dapat ditingkatkan kualitasnya," katanya.
Dalam penelitian tersebut, limbah penyulingan jahe terlebih dahulu dikeringkan sebelum melalui proses karbonisasi untuk menghasilkan biochar. Biochar kemudian dicampur dengan berbagai jenis perekat, dicetak menjadi biobriket, dan diuji karakteristiknya.
Penelitian mengevaluasi pengaruh berbagai jenis perekat terhadap kualitas biobriket, mulai dari kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, karbon tetap, densitas, kuat tekan, laju pembakaran, hingga nilai kalor.
Selain itu, tim peneliti melakukan karakterisasi fisikokimia menggunakan berbagai teknik analisis laboratorium untuk melihat perubahan struktur material selama proses pembuatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa proses karbonisasi mampu meningkatkan kandungan karbon sekaligus menghasilkan struktur biochar yang lebih berpori. Sementara itu, pemilihan perekat yang tepat berpengaruh terhadap densitas dan kekuatan mekanik biobriket.
"Melalui optimasi jenis perekat, penelitian ini bertujuan menghasilkan biobriket yang memenuhi standar mutu bahan bakar padat, memiliki performa pembakaran yang stabil, serta berpotensi dikembangkan sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan dan bernilai tambah," ujar Anny.
Menurut Anny, pemanfaatan limbah penyulingan jahe menjadi biobriket tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah agroindustri, tetapi juga menjadi solusi atas meningkatnya akumulasi limbah dari industri minyak atsiri dan herbal.
Limbah yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan dapat diubah menjadi bahan bakar padat terbarukan yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Ia berharap hasil penelitian tersebut dapat menjadi dasar pengembangan teknologi pemanfaatan limbah biomassa, baik di tingkat industri maupun masyarakat.
Baca juga: Nilam, Harapan, dan Mimpi Besar Aceh Jadi Kota Parfum Kedua setelah Grasse Prancis
Teknologi tersebut dinilai berpotensi diterapkan di sentra produksi minyak atsiri, industri herbal, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menghasilkan limbah rimpang jahe dalam jumlah besar.
"Di tengah meningkatnya kebutuhan akan energi terbarukan, pengembangan biobriket berbasis limbah pertanian menjadi salah satu alternatif yang menjanjikan," kata Anny.
Selain mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, pemanfaatan limbah biomassa sebagai biobriket juga dinilai dapat mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, meningkatkan efektivitas pengelolaan limbah, serta menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian dan agroindustri.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya