“Saya rasa jumlah makanan yang hilang itu setara dengan porsi makanan yang dikonsumsi oleh sekitar 2 miliar orang dalam waktu satu tahun,” katanya lagi.
Perkiraan tersebut bahkan bisa jadi jauh lebih kecil daripada dampak nyata perubahan iklim yang sebenarnya karena beberapa alasan penelitian ini baru menghitung tiga jenis tanaman saja yakni jagung, gandum, kedelai.
Proyeksi belum menghitung kerusakan akibat banjir, badai, atau hujan ekstrem, serta belum memasukkan kemungkinan melonjaknya harga pangan akibat kelangkaan barang seperti yang saat ini sudah mulai terjadi pada komoditas lain seperti kopi dan cokelat.
Di sisi lain, Jonas Jägermeyr dari Universitas Columbia di New York mengatakan bahwa metode penelitian yang hanya mengandalkan hitungan data hubungan masa lalu antara gagal panen dan cuaca ekstrem bisa jadi membuat perkiraan kerugian di tahun 2100 terlihat terlalu berlebihan.
Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
“Model hitungan data seperti ini sangat bagus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang, serta masa lalu dan masa depan yang dekat. Namun, cara ini pada dasarnya tidak bisa diandalkan jika dipaksa menghitung kondisi lingkungan yang sudah berubah total secara ekstrem, seperti kondisi polusi sangat tinggi di akhir abad nanti,” terangnya.
Menurutnya, simulasi komputer yang bisa menghitung langsung bagaimana tanaman bereaksi terhadap kenaikan gas CO2 dan suhu udara jauh lebih baik untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di akhir abad ini.
Sementara itu Karine Chenu dari Universitas Queensland, Australia, juga menyampaikan hal yang sama.
“Meskipun simulasi komputer tidak sempurna, cara itu lebih cocok untuk memperkirakan masa depan,” katanya.
Meski begitu, timnya baru-baru ini mengeluarkan penelitian yang belum diperiksa oleh sesama ilmuwan yang menunjukkan bahwa dua simulasi komputer yang sering digunakan untuk tanaman gandum ternyata masih membuat kesalahan besar, dan sangat lemah dalam meramal dampak gabungan dari hawa panas ekstrem dan kekeringan secara bersamaan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya