Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Imbas Perubahan Iklim, Kerugian Gagal Panen Global Tembus Rp 361,6 Triliun per Tahun

Kompas.com, 11 Juli 2026, 15:55 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sebuah penelitian memperkirakan bahwa hawa panas dan kekeringan akibat pemanasan global telah memicu kerugian panen jagung, gandum, dan kedelai hingga 20 miliar dolar AS atau Rp361,6 triliun setiap tahunnya.

Jumlah kerugian ini bisa melonjak delapan kali lipat menjadi lebih dari 160 miliar dolar AS atau Rp2.892 triliun pada tahun 2100, kecuali jika kita segera memotong emisi gas rumah kaca secara besar-besaran.

Melansir New Scientist, Jumat (10/7/2026) meskipun kerugian uang terbesar akan dialami oleh negara produsen raksasa seperti Amerika Serikat, dampak terberat justru akan dirasakan oleh negara-negara miskin yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani.

“Jika melihat negara-negara paling tertinggal di Afrika, dampaknya jauh lebih besar. Hal ini bisa memicu kerusuhan sosial dan peningkatan gelombang perpindahan penduduk," papar Yi Ling Hwong dari lembaga penelitian IIASA di Austria.

Namun ada ketidakpastian yang besar dalam perkiraan masa depan seperti ini. Hal itu karena banyak hal bergantung pada bagaimana para petani merespons dan menyesuaikan diri dengan iklim yang terus berubah misalnya dengan mengganti jenis tanaman atau memasang sistem pengairan jika memungkinkan.

Baca juga: Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat

"Sebenarnya, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan tersebut, agar perkiraan buruk ini tidak sampai terjadi. Inilah tugas utama para ilmuwan iklim. Kami membuat perkiraan buruk ini agar orang-orang segera bertindak, sehingga ramalan kami terbukti salah,” kata Kai Kornhuber anggota tim peneliti dari IIASA.

Menghitung kerugian panen global

Para peneliti memulai pencarian dengan mengumpulkan data hasil panen jagung, gandum, dan kedelai di setiap negara dari Badan Pangan PBB (FAO). Setelah itu, mereka mengambil data iklim masa lalu dan menghitung tingkat kekeringan tanah menggunakan metode standar yang mengukur kelembapan tanah dari curah hujan dan tingkat penguapan air.

Data cuaca panas ekstrem dan tingkat kekeringan di masa lalu kemudian dibandingkan dengan hasil panen dari tahun 1974 hingga 2004 untuk mengukur seberapa besar dampak buruknya. Setelah itu, para peneliti menggunakan hubungan data tersebut untuk memperkirakan kerugian panen dari tahun 2007 hingga 2019.

Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan suhu panas dan kekeringan telah menyebabkan penurunan hasil panen sebesar 3,5 persen dibandingkan dengan periode tahun 1974 sampai 2004.

“Angka sekitar tiga persen mungkin terdengar kecil, tetapi ini adalah dampak yang sangat besar bagi pasar pangan global, yang di beberapa wilayah bisa memicu krisis pangan yang parah,” kata Kornhuber.

Para peneliti kemudian menghitung kerugian uangnya, berdasarkan data Badan Pangan PBB (FAO) mengenai berapa besar harga jual yang seharusnya diterima petani pada saat itu.

Terakhir, mereka menggunakan cara yang sama untuk memperkirakan kerugian di masa depan dalam beberapa pilihan kondisi polusi emisi yang berbeda, dengan anggapan bahwa manusia sudah mulai melakukan beberapa upaya penyelamatan.

Dalam perkiraan kondisi polusi yang sangat tinggi yang disebut skenario SSP3-7.0, hasil panen dunia diprediksi akan merosot sekitar 35 persen pada tahun 2100.

Kondisi ini membuat kerugian tahunan melonjak hingga lebih dari 161 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.910 triliun .

“Jumlah panen yang hilang akibat hawa panas dan kekeringan mencapai sekitar 855 juta ton setiap tahun,” kata Hwong, yang membagikan hasil penelitian ini dalam pertemuan European Geosciences Union di Wina pada bulan Mei lalu.

“Saya rasa jumlah makanan yang hilang itu setara dengan porsi makanan yang dikonsumsi oleh sekitar 2 miliar orang dalam waktu satu tahun,” katanya lagi.

Potensi kerugian bisa meleset

Perkiraan tersebut bahkan bisa jadi jauh lebih kecil daripada dampak nyata perubahan iklim yang sebenarnya karena beberapa alasan penelitian ini baru menghitung tiga jenis tanaman saja yakni jagung, gandum, kedelai.

Proyeksi belum menghitung kerusakan akibat banjir, badai, atau hujan ekstrem, serta belum memasukkan kemungkinan melonjaknya harga pangan akibat kelangkaan barang seperti yang saat ini sudah mulai terjadi pada komoditas lain seperti kopi dan cokelat.

Di sisi lain, Jonas Jägermeyr dari Universitas Columbia di New York mengatakan bahwa metode penelitian yang hanya mengandalkan hitungan data hubungan masa lalu antara gagal panen dan cuaca ekstrem bisa jadi membuat perkiraan kerugian di tahun 2100 terlihat terlalu berlebihan.

Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi

“Model hitungan data seperti ini sangat bagus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang, serta masa lalu dan masa depan yang dekat. Namun, cara ini pada dasarnya tidak bisa diandalkan jika dipaksa menghitung kondisi lingkungan yang sudah berubah total secara ekstrem, seperti kondisi polusi sangat tinggi di akhir abad nanti,” terangnya.

Menurutnya, simulasi komputer yang bisa menghitung langsung bagaimana tanaman bereaksi terhadap kenaikan gas CO2 dan suhu udara jauh lebih baik untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di akhir abad ini.

Sementara itu Karine Chenu dari Universitas Queensland, Australia, juga menyampaikan hal yang sama.

“Meskipun simulasi komputer tidak sempurna, cara itu lebih cocok untuk memperkirakan masa depan,” katanya.

Meski begitu, timnya baru-baru ini mengeluarkan penelitian yang belum diperiksa oleh sesama ilmuwan yang menunjukkan bahwa dua simulasi komputer yang sering digunakan untuk tanaman gandum ternyata masih membuat kesalahan besar, dan sangat lemah dalam meramal dampak gabungan dari hawa panas ekstrem dan kekeringan secara bersamaan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau