KOMPAS.com - Sebuah penelitian memperkirakan bahwa hawa panas dan kekeringan akibat pemanasan global telah memicu kerugian panen jagung, gandum, dan kedelai hingga 20 miliar dolar AS atau Rp361,6 triliun setiap tahunnya.
Jumlah kerugian ini bisa melonjak delapan kali lipat menjadi lebih dari 160 miliar dolar AS atau Rp2.892 triliun pada tahun 2100, kecuali jika kita segera memotong emisi gas rumah kaca secara besar-besaran.
Melansir New Scientist, Jumat (10/7/2026) meskipun kerugian uang terbesar akan dialami oleh negara produsen raksasa seperti Amerika Serikat, dampak terberat justru akan dirasakan oleh negara-negara miskin yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani.
“Jika melihat negara-negara paling tertinggal di Afrika, dampaknya jauh lebih besar. Hal ini bisa memicu kerusuhan sosial dan peningkatan gelombang perpindahan penduduk," papar Yi Ling Hwong dari lembaga penelitian IIASA di Austria.
Namun ada ketidakpastian yang besar dalam perkiraan masa depan seperti ini. Hal itu karena banyak hal bergantung pada bagaimana para petani merespons dan menyesuaikan diri dengan iklim yang terus berubah misalnya dengan mengganti jenis tanaman atau memasang sistem pengairan jika memungkinkan.
Baca juga: Studi: Cuaca Rusak Panen, Harga Pangan Naik 2 Kali Lipat Lebih Cepat
"Sebenarnya, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan tersebut, agar perkiraan buruk ini tidak sampai terjadi. Inilah tugas utama para ilmuwan iklim. Kami membuat perkiraan buruk ini agar orang-orang segera bertindak, sehingga ramalan kami terbukti salah,” kata Kai Kornhuber anggota tim peneliti dari IIASA.
Para peneliti memulai pencarian dengan mengumpulkan data hasil panen jagung, gandum, dan kedelai di setiap negara dari Badan Pangan PBB (FAO). Setelah itu, mereka mengambil data iklim masa lalu dan menghitung tingkat kekeringan tanah menggunakan metode standar yang mengukur kelembapan tanah dari curah hujan dan tingkat penguapan air.
Data cuaca panas ekstrem dan tingkat kekeringan di masa lalu kemudian dibandingkan dengan hasil panen dari tahun 1974 hingga 2004 untuk mengukur seberapa besar dampak buruknya. Setelah itu, para peneliti menggunakan hubungan data tersebut untuk memperkirakan kerugian panen dari tahun 2007 hingga 2019.
Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan suhu panas dan kekeringan telah menyebabkan penurunan hasil panen sebesar 3,5 persen dibandingkan dengan periode tahun 1974 sampai 2004.
“Angka sekitar tiga persen mungkin terdengar kecil, tetapi ini adalah dampak yang sangat besar bagi pasar pangan global, yang di beberapa wilayah bisa memicu krisis pangan yang parah,” kata Kornhuber.
Para peneliti kemudian menghitung kerugian uangnya, berdasarkan data Badan Pangan PBB (FAO) mengenai berapa besar harga jual yang seharusnya diterima petani pada saat itu.
Terakhir, mereka menggunakan cara yang sama untuk memperkirakan kerugian di masa depan dalam beberapa pilihan kondisi polusi emisi yang berbeda, dengan anggapan bahwa manusia sudah mulai melakukan beberapa upaya penyelamatan.
Dalam perkiraan kondisi polusi yang sangat tinggi yang disebut skenario SSP3-7.0, hasil panen dunia diprediksi akan merosot sekitar 35 persen pada tahun 2100.
Kondisi ini membuat kerugian tahunan melonjak hingga lebih dari 161 miliar dolar AS atau sekitar Rp2.910 triliun .
“Jumlah panen yang hilang akibat hawa panas dan kekeringan mencapai sekitar 855 juta ton setiap tahun,” kata Hwong, yang membagikan hasil penelitian ini dalam pertemuan European Geosciences Union di Wina pada bulan Mei lalu.
“Saya rasa jumlah makanan yang hilang itu setara dengan porsi makanan yang dikonsumsi oleh sekitar 2 miliar orang dalam waktu satu tahun,” katanya lagi.
Perkiraan tersebut bahkan bisa jadi jauh lebih kecil daripada dampak nyata perubahan iklim yang sebenarnya karena beberapa alasan penelitian ini baru menghitung tiga jenis tanaman saja yakni jagung, gandum, kedelai.
Proyeksi belum menghitung kerusakan akibat banjir, badai, atau hujan ekstrem, serta belum memasukkan kemungkinan melonjaknya harga pangan akibat kelangkaan barang seperti yang saat ini sudah mulai terjadi pada komoditas lain seperti kopi dan cokelat.
Di sisi lain, Jonas Jägermeyr dari Universitas Columbia di New York mengatakan bahwa metode penelitian yang hanya mengandalkan hitungan data hubungan masa lalu antara gagal panen dan cuaca ekstrem bisa jadi membuat perkiraan kerugian di tahun 2100 terlihat terlalu berlebihan.
Baca juga: Ancaman Baru Ketahanan Pangan: Petani Minim Regenerasi
“Model hitungan data seperti ini sangat bagus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi sekarang, serta masa lalu dan masa depan yang dekat. Namun, cara ini pada dasarnya tidak bisa diandalkan jika dipaksa menghitung kondisi lingkungan yang sudah berubah total secara ekstrem, seperti kondisi polusi sangat tinggi di akhir abad nanti,” terangnya.
Menurutnya, simulasi komputer yang bisa menghitung langsung bagaimana tanaman bereaksi terhadap kenaikan gas CO2 dan suhu udara jauh lebih baik untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di akhir abad ini.
Sementara itu Karine Chenu dari Universitas Queensland, Australia, juga menyampaikan hal yang sama.
“Meskipun simulasi komputer tidak sempurna, cara itu lebih cocok untuk memperkirakan masa depan,” katanya.
Meski begitu, timnya baru-baru ini mengeluarkan penelitian yang belum diperiksa oleh sesama ilmuwan yang menunjukkan bahwa dua simulasi komputer yang sering digunakan untuk tanaman gandum ternyata masih membuat kesalahan besar, dan sangat lemah dalam meramal dampak gabungan dari hawa panas ekstrem dan kekeringan secara bersamaan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya