Meskipun banyak maskapai penerbangan berinvestasi pada Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (SAF) untuk mengurangi polusi karbon, Airbus dan MTU percaya bahwa hidrogen punya potensi jangka panjang yang lebih besar.
Baca juga: Emisi Karbon Kursi Kelas Bisnis di Pesawat Lebih Banyak dari Kelas Ekonomi
Alasannya, hidrogen mampu menghasilkan energi yang jauh lebih besar berdasarkan beratnya dibandingkan dengan bahan bakar jet biasa.
Selain membuat mesin, perusahaan baru ini juga akan bekerja sama dengan pihak pemerintah Eropa untuk menyusun aturan keselamatan dan sertifikat resmi yang dibutuhkan bagi penerbangan bertenaga hidrogen. Pembuatan aturan standar ini dinilai sangat penting agar pesawat hidrogen bisa digunakan dengan aman di pasar dunia di masa depan.
Stefan Weber, Senior Wakil Presiden bagian Teknik dan Teknologi di MTU Aero Engines, mengatakan bahwa langkah ini adalah lompatan besar untuk mewujudkan mesin pesawat bertenaga hidrogen pertama.
Ia menambahkan bahwa perusahaan yang direncanakan ini bertujuan untuk mengurus setiap tahap pembuatan mesin mulai dari riset, pengujian, pengurusan izin, penjualan, hingga perawatan jangka panjang sekaligus memperkuat posisi Eropa sebagai pemimpin teknologi penerbangan masa depan.
Jika berhasil, kerja sama ini dapat mengubah masa depan penerbangan komersial dengan membuat pesawat bertenaga hidrogen menjadi nyata, serta mendukung industri penerbangan beralih ke transportasi udara yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya