KOMPAS.com-Lebih dari separuh hewan lunak (moluska) seperti kiton, kerang, remis, siput, siput laut, kerang gading, gurita, dan cumi-cumi terancam punah akibat aktivitas tambang di laut dalam, menurut pengumuman dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).
Saat menerbitkan daftar terbaru hewan yang terancam (Daftar Merah IUCN), lembaga tersebut menyatakan bahwa daftar yang menjadi patokan status bahaya satwa ini sekarang mencakup 175.909 spesies. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.505 spesies terancam punah sepenuhnya dari bumi.
Melansir Down to Earth, Kamis (9/7/2026) sebagai hewan tanpa tulang belakang yang sangat beragam, kelompok moluska mencakup seperempat dari seluruh jenis makhluk hidup di laut. Hewan-hewan ini juga sangat penting sebagai sumber makanan manusia serta memiliki nilai budaya yang besar.
“Sebanyak 62 persen hewan lunak asli yang hidup di celah air panas bawah laut di seluruh dunia kini terancam punah akibat penambangan mineral berharga di laut dalam," ungkap IUCN dalam sebuah pernyataan.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
"Mereka hanya ditemukan di kedalaman hingga 5.000 meter di bawah permukaan laut, di sekitar celah yang menyemburkan air bersuhu lebih dari 450 derajat Celsius, banyak dari hewan ini, termasuk siput, remis, kerang, dan kiton, baru ditemukan dalam 10 tahun terakhir dan sudah menghadapi kepunahan akibat kerusakan habitat oleh manusia,” papar IUCN lagi.
IUCN menambahkan bahwa kegiatan penjelajahan dasar laut dan pengerukan mineral menghasilkan gumpalan lumpur bawah laut yang menimbun hewan-hewan tersebut. Akibatnya, kemampuan mereka untuk bernapas dan menyerap makanan dari air di sekitarnya menjadi terganggu.
Sebagai contoh, Lirapex felix yang masuk ke dalam Daftar Merah dengan status Sangat Terancam Punah akibat penjelajahan tambang yang terus berjalan di Samudra Hindia.
Banyak spesies di celah air panas menghadapi ancaman serupa karena wilayah laut yang tidak dikuasai negara mana pun sedang dijelajahi untuk ditambang, di mana izin kontraknya dipegang oleh banyak negara berbeda.
Penilaian global terhadap hewan lunak asli celah air panas ini lebih lanjut menunjukkan pentingnya kawasan yang dilindungi dan dilestarikan di mana kegiatan penambangan tidak diizinkan.
Sementara lebih dari 30 spesies celah air panas di seluruh dunia masuk dalam kategori Risiko Rendah (aman) berkat hidup di Kawasan Konservasi Laut. Salah satunya adalah Provanna exquisita, siput hias yang hanya hidup di Kawasan Perlindungan Satwa Liar Nasional Cincin Api Mariana di Samudra Pasifik.
Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
“Penilaian global ini menunjukkan bahwa moluska asli celah air panas laut dalam adalah salah satu kelompok hewan yang paling terancam punah, dan saat ini adalah masa yang sangat menentukan bagi masa depan mereka. Pemahaman baru kita tentang dampak buruk tambang laut dalam membuka wawasan baru bagi ilmu pengetahuan dan pelestarian alam,” kata Julia Sigwart, anggota Kelompok Ahli Moluska IUCN dan Kepala Departemen Zoologi Laut di Senckenberg Nature Research.
Sigwart menambahkan bahwa sikap IUCN sudah sangat jelas. Pada tahun 2021, serikat ini telah sepakat untuk menuntut penghentian sementara tambang laut dalam, kecuali jika semua risikonya sudah dipahami dan lingkungan laut bisa dilindungi dengan benar.
“Kehidupan di Bumi telah menyesuaikan diri untuk bertahan hidup di tempat-tempat yang paling berbahaya dan tidak biasa seperti hewan lunak laut dalam yang hidup di sekitar celah air panas ekstrem, atau katak hujan gurun yang mengubur dirinya di dalam pasir," kata Grethel Aguilar, Direktur Jenderal IUCN.
Tapi sekarang tekanan terhadap keanekaragaman makhluk hidup meningkat di seluruh planet, bahkan hewan dengan strategi bertahan hidup yang paling hebat sekalipun ikut terancam.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya