Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Separuh Moluska Dunia Terancam Punah, Dampak Penambangan Laut Dalam

Kompas.com, 13 Juli 2026, 10:23 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Lebih dari separuh hewan lunak (moluska) seperti kiton, kerang, remis, siput, siput laut, kerang gading, gurita, dan cumi-cumi terancam punah akibat aktivitas tambang di laut dalam, menurut pengumuman dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN).

Saat menerbitkan daftar terbaru hewan yang terancam (Daftar Merah IUCN), lembaga tersebut menyatakan bahwa daftar yang menjadi patokan status bahaya satwa ini sekarang mencakup 175.909 spesies. Dari jumlah tersebut, sebanyak 49.505 spesies terancam punah sepenuhnya dari bumi.

Melansir Down to Earth, Kamis (9/7/2026) sebagai hewan tanpa tulang belakang yang sangat beragam, kelompok moluska mencakup seperempat dari seluruh jenis makhluk hidup di laut. Hewan-hewan ini juga sangat penting sebagai sumber makanan manusia serta memiliki nilai budaya yang besar.

“Sebanyak 62 persen hewan lunak asli yang hidup di celah air panas bawah laut di seluruh dunia kini terancam punah akibat penambangan mineral berharga di laut dalam," ungkap IUCN dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia

"Mereka hanya ditemukan di kedalaman hingga 5.000 meter di bawah permukaan laut, di sekitar celah yang menyemburkan air bersuhu lebih dari 450 derajat Celsius, banyak dari hewan ini, termasuk siput, remis, kerang, dan kiton, baru ditemukan dalam 10 tahun terakhir dan sudah menghadapi kepunahan akibat kerusakan habitat oleh manusia,” papar IUCN lagi.

Bahaya penjelajahan dasar laut

IUCN menambahkan bahwa kegiatan penjelajahan dasar laut dan pengerukan mineral menghasilkan gumpalan lumpur bawah laut yang menimbun hewan-hewan tersebut. Akibatnya, kemampuan mereka untuk bernapas dan menyerap makanan dari air di sekitarnya menjadi terganggu.

Sebagai contoh, Lirapex felix yang masuk ke dalam Daftar Merah dengan status Sangat Terancam Punah akibat penjelajahan tambang yang terus berjalan di Samudra Hindia.

Banyak spesies di celah air panas menghadapi ancaman serupa karena wilayah laut yang tidak dikuasai negara mana pun sedang dijelajahi untuk ditambang, di mana izin kontraknya dipegang oleh banyak negara berbeda.

Penilaian global terhadap hewan lunak asli celah air panas ini lebih lanjut menunjukkan pentingnya kawasan yang dilindungi dan dilestarikan di mana kegiatan penambangan tidak diizinkan.

Sementara lebih dari 30 spesies celah air panas di seluruh dunia masuk dalam kategori Risiko Rendah (aman) berkat hidup di Kawasan Konservasi Laut. Salah satunya adalah Provanna exquisita, siput hias yang hanya hidup di Kawasan Perlindungan Satwa Liar Nasional Cincin Api Mariana di Samudra Pasifik.

Baca juga: 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis

“Penilaian global ini menunjukkan bahwa moluska asli celah air panas laut dalam adalah salah satu kelompok hewan yang paling terancam punah, dan saat ini adalah masa yang sangat menentukan bagi masa depan mereka. Pemahaman baru kita tentang dampak buruk tambang laut dalam membuka wawasan baru bagi ilmu pengetahuan dan pelestarian alam,” kata Julia Sigwart, anggota Kelompok Ahli Moluska IUCN dan Kepala Departemen Zoologi Laut di Senckenberg Nature Research.

Sigwart menambahkan bahwa sikap IUCN sudah sangat jelas. Pada tahun 2021, serikat ini telah sepakat untuk menuntut penghentian sementara tambang laut dalam, kecuali jika semua risikonya sudah dipahami dan lingkungan laut bisa dilindungi dengan benar.

“Kehidupan di Bumi telah menyesuaikan diri untuk bertahan hidup di tempat-tempat yang paling berbahaya dan tidak biasa seperti hewan lunak laut dalam yang hidup di sekitar celah air panas ekstrem, atau katak hujan gurun yang mengubur dirinya di dalam pasir," kata Grethel Aguilar, Direktur Jenderal IUCN.

Tapi sekarang tekanan terhadap keanekaragaman makhluk hidup meningkat di seluruh planet, bahkan hewan dengan strategi bertahan hidup yang paling hebat sekalipun ikut terancam.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau