Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Negara Asia-Pasifik Sepakati Peta Jalan Baru Atasi Krisis Iklim

Kompas.com, 13 Juli 2026, 12:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perwakilan pemerintah negara Asia dan Pasifik, Sabtu (11/7/2026) menyepakati rencana kerja wilayah yang baru untuk mengatasi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi melalui tindakan yang lebih kompak.

Hal ini menunjukkan kesadaran yang semakin tinggi bahwa masalah lingkungan terbesar di kawasan ini tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri.

Melansir Eco Business, Sabtu (11/7/2026) pertemuan yang diadakan oleh Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) ini menghasilkan kesepakatan berupa Deklarasi Menteri tentang Lingkungan dan Pembangunan di Asia-Pasifik 2026, serta Program Aksi Wilayah untuk Memajukan Sinergi Pembangunan Berkelanjutan di Asia-Pasifik periode 2026–2030.

Kesepakatan ini dibuat saat kawasan Asia dan Pasifik sedang menghadapi tekanan lingkungan yang semakin berat.

Baca juga: Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim

Jika kondisi terus seperti sekarang, sekitar 88 persen target lingkungan dalam SDG diperkirakan akan gagal dicapai pada tahun 2030. Selain itu, 90 persen penduduk di kawasan ini harus menghirup udara yang tidak aman akibat polusi.

Perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan krisis air bersih juga semakin mengancam pekerjaan, ekonomi, dan kelestarian alam.

"Cara penanganan yang terpisah-pisah tidaklah efisien dan tidak akan bisa mengejar masalah alam yang saling berkaitan. Bekerja sama secara kompak adalah kebutuhan nyata agar bisa mendapatkan hasil pembangunan yang lebih baik, sekaligus memanfaatkan dana, lembaga, dan keahlian teknis yang jumlahnya semakin terbatas," tegas Armida Salsiah Alisjahbana, Wakil Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Sekretaris Eksekutif ESCAP.

Mempercepat penyelamatan bumi

Deklarasi dan Program Aksi Wilayah ini mengajak negara-negara untuk menyatukan aturan hukum, anggaran dana, dan lembaga pemerintah. Tujuannya agar perbaikan di satu bidang lingkungan bisa otomatis membawa manfaat bagi bidang lainnya, sehingga target penyelamatan bumi bisa tercapai lebih cepat.

"Akses mendapatkan bantuan dana yang pasti, cukup, dan berbentuk hibah sangatlah penting. Negara-negara yang paling rapuh terkena dampak iklim tidak boleh dibebani oleh utang keuangan baru hanya untuk mengatasi krisis yang sebenarnya bukan disebabkan oleh kami," ujar Ali Shareef, Menteri Perubahan Iklim, Lingkungan, dan Energi dari Maladewa, yang juga menjadi Ketua Pertemuan ESCAP ini.

Rencana kerja yang baru ini memanfaatkan semangat perubahan yang sedang meningkat di seluruh kawasan.

Baca juga: Asia-Pasifik Terancam Gagal Capai Target SDG PBB

Sebanyak 39 negara anggota ESCAP telah menetapkan target bebas polusi karbon. Selain itu, 46 negara telah memasukkan solusi ramah lingkungan berbasis alam ke dalam kebijakan mereka, dan 25 dari 27 negara pantai telah memasukkan rencana perlindungan laut ke dalam program iklim nasional mereka.

Sebelumnya pada tanggal 30 Juni, ESCAP meluncurkan Laporan Sinergi Asia-Pasifik. Laporan ini dibuat bersama Bank Pembangunan Asia (ADB), Program Lingkungan PBB (UNEP), dan Lembaga Strategi Lingkungan Global, serta didukung oleh Pemerintah Jepang.

Menggunakan lebih dari 140 contoh kasus nyata, laporan ini menunjukkan cara-cara jelas yang bisa dipakai negara-negara untuk melawan tiga krisis bumi sekaligus.

Laporan ini membuktikan bahwa pengelolaan pemerintah yang terpadu, pendanaan yang kreatif, dan data yang lebih baik bisa membuat perbaikan lingkungan berjalan jauh lebih cepat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau