Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pulihkan Lahan Rusak akibat Banjir, Warga Desa Pulu Sulap Sereh Wangi Jadi Sumber Penghasilan

Kompas.com, 13 Juli 2026, 13:31 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sereh wangi menjadi bagian dari upaya pemulihan lahan rusak akibat banjir di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Tanaman ini awalnya tidak ditanam sebagai komoditas ekonomi, melainkan untuk menstabilkan lahan yang berubah menjadi hamparan pasir setelah diterjang banjir.

Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu sekaligus pemilik usaha Lana Tumbavani, Dilah Sahim, mengatakan fokus awal masyarakat adalah mengembalikan fungsi lahan yang rusak, bukan membangun usaha.

"Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak, soal ekonomi itu datang belakangan," ujar Dilah dalam keterangan tertulis, Senin (13/7/2026).

Baca juga: Kelola Sampah Hotel-Restoran, TPST Desa Adat Seminyak Mampu Raup Rp 450 Juta Per Bulan

Desa Pulu merupakan salah satu wilayah yang rentan mengalami banjir setelah gempa bumi dan hujan ekstrem beberapa tahun terakhir. Banjir berulang menyebabkan lahan pertanian tertutup pasir sehingga produktivitas pertanian menurun.

Pada periode 2020-2021, banjir berdampak terhadap 1.365 warga dan menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Kondisi tersebut mendorong masyarakat mencari tanaman yang mampu tumbuh di lahan berpasir sekaligus membantu memulihkan kondisi lingkungan.

Sereh wangi kemudian dipilih karena mampu tumbuh di tanah miskin hara dan memiliki sistem perakaran yang dapat memperkuat bantaran sungai. Tanaman tersebut dikombinasikan dengan bambu untuk membantu menahan erosi sekaligus mengurangi risiko banjir.

Seiring proses pemulihan berlangsung, sereh wangi mulai memberikan nilai ekonomi. Daunnya diolah menjadi minyak atsiri yang kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk turunan melalui usaha desa bernama **Lana Tumbavani**.

Dari pemulihan lingkungan menjadi usaha desa

Menurut Dilah, produksi minyak atsiri membutuhkan proses yang panjang. Tanaman baru dapat dipanen sekitar delapan bulan setelah ditanam, sedangkan panen berikutnya dilakukan setiap tiga bulan.

Selain itu, hasil minyak yang diperoleh relatif sedikit. Dari sekitar 200 kilogram daun sereh wangi hanya dihasilkan sekitar 200 mililiter minyak atsiri murni.

"Tidak ada campuran aroma sintetis atau bahan tambahan lain. Rasio produksi yang sangat kecil ini menjadikan kualitas sebagai nilai utama sekaligus membatasi volume," kata Dilah.

Meski kapasitas produksinya masih terbatas, minyak atsiri tersebut mulai menarik minat pembeli dari sejumlah negara, seperti Malaysia, Nepal, dan Amerika Serikat.

Usaha itu kemudian berkembang dengan memproduksi minyak pijat, sabun herbal berbahan daun kelor, lilin berbahan lilin lebah, hingga parfum padat.

Pendamping program inkubasi GIAT 2.0 dari Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, mengatakan pengembangan usaha tersebut tidak semata mengejar peningkatan produksi, tetapi tetap mempertahankan tujuan awal pemulihan lingkungan.

Baca juga: Suku Osing Desa Kemiren Banyuwangi Sulap Budaya Jadi Sumber Cuan

Menurut dia, pendekatan yang diterapkan merupakan praktik ekonomi restoratif, yaitu model pembangunan yang menempatkan pemulihan ekosistem sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh," ujar Nedya.

Ia menjelaskan, penanaman sereh wangi telah membantu menstabilkan lahan yang sebelumnya tidak lagi produktif. Kondisi tersebut kemudian membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha berbasis hasil olahan sereh wangi.

Menurut Nedya, pendekatan tersebut berbeda dengan pola pembangunan yang umumnya mengejar pertumbuhan ekonomi terlebih dahulu.

"Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama," katanya.

Praktik yang dijalankan Desa Pulu kini menjadi bagian dari pendekatan ekonomi restoratif yang didorong Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), yakni model pembangunan yang menghubungkan pemulihan lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau