Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Bisa Bikin Tagihan Air Kota Naik Dua Kali Lipat

Kompas.com, 13 Juli 2026, 19:38 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan iklim bisa membuat harga air bersih di perkotaan semakin mahal. Masalah ini dipicu oleh membengkaknya biaya perbaikan fasilitas air dan melonjaknya tagihan air rumah tangga pada pertengahan abad ini, menurut penelitian baru yang terbit di jurnal Nature Sustainability pada 8 Juli 2026.

Melansir Down to Earth, Senin (13/7/2026) penelitian ini adalah yang pertama yang memeriksa secara menyeluruh bagaimana perubahan iklim, fasilitas air yang menua, keputusan investasi perusahaan air, dan kebutuhan air rumah tangga saling memengaruhi harga air bersih.

Jika penelitian sebelumnya hanya fokus pada biaya dan kelancaran sistem air, penelitian baru ini melihat langsung bagaimana lonjakan biaya tersebut berdampak pada pengeluaran rumah tangga di berbagai kelompok penghasilan.

Santa Cruz sebagai contoh kasus

Untuk memahami dampak-dampak tersebut, para peneliti menjadikan kota Santa Cruz di California sebagai contoh. Kota di tepi pantai ini sangat bergantung pada sumber air lokal yang jumlahnya terbatas.

Baca juga: Air Daur Ulang Berpotensi Bantu Kota Hadapi Gelombang Panas Akibat Perubahan Iklim

Ditambah lagi, mereka sudah menerapkan semua cara hemat air yang murah. Akibatnya, pilihan utama mereka saat ini untuk menjaga pasokan air tersisa proyek fasilitas yang sangat mahal, seperti menyaring air laut atau mengolah kembali air limbah.

Menggunakan sistem hitung yang dibuat dari data dinas air Santa Cruz, para peneliti menemukan bahwa dampak perubahan iklim saja bisa membuat 7 hingga 16 persen rumah tangga kesulitan membayar tagihan air yang makin mahal.

Pada pertengahan abad ini, biaya untuk mengatasi kelangkaan air yang makin parah bisa membuat rata-rata tagihan air rumah tangga di kota itu naik hampir dua kali lipat.

Saat ini, sekitar 19 persen rumah tangga di Santa Cruz sudah membayar air lebih mahal dari batas wajar yang ditetapkan oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA).

Jika perubahan iklim terjadi dalam skala sedang, jumlah warga yang kesulitan ini bisa naik menjadi 26 persen. Sementara jika cuaca menjadi jauh lebih kering angkanya bisa melonjak hingga 35 persen.

Beban terberat akan dirasakan oleh keluarga berpenghasilan rendah. Dalam skenario cuaca paling kering dan parah, rata-rata tagihan air bulanan untuk keluarga paling miskin di kota itu bisa melonjak dari sekitar 60 dolar AS menjadi 111 dolar AS.

Lebih dari lima persen rumah tangga bahkan bisa menghabiskan hampir sepertiga gajinya hanya untuk membeli air. Kondisi ini memaksa mereka untuk memilih antara membayar air, membeli makanan, berobat, atau memenuhi kebutuhan penting lainnya.

Penelitian ini juga menunjukkan adanya pilihan sulit antara keterjangkauan harga dan keamanan pasokan air. Membangun fasilitas penyaringan air laut yang besar sejak awal memang bisa mengamankan pasokan air saat kemarau, tetapi akan membuat tagihan air rumah tangga melonjak drastis.

Sebaliknya, jika pembangunan itu ditunda, biaya jangka pendek memang menjadi lebih murah, tetapi warga harus menghadapi risiko lebih sering kekurangan air saat tahun-tahun kekeringan.

Rata-rata harga air keran di Amerika Serikat telah naik tiga kali lebih cepat daripada kenaikan harga barang pokok selama dua dekade terakhir. Hal ini utamanya disebabkan oleh fasilitas air yang sudah tua dan perawatan yang sering ditunda. Perubahan iklim membuat tekanan ini semakin berat karena memaksa pemerintah melakukan perbaikan mendesak dan penanganan air yang biayanya sangat mahal.

Kekeringan dan kelangkaan air tetap menjadi ancaman terbesar bagi pasokan air di perkotaan. Suhu bumi yang semakin panas dan pola hujan yang berubah-ubah membuat kekeringan terjadi lebih sering dan lebih parah, sehingga sumber air tidak bisa lagi diandalkan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau