JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) tidak akan efektif apabila tidak disertai upaya mengatasi penurunan muka tanah yang terjadi di sejumlah wilayah pesisir utara Pulau Jawa.
Menurut AHY, penurunan muka tanah yang dipicu pengambilan air tanah secara berlebihan dapat membuat kawasan pesisir terus turun, sehingga mengurangi efektivitas infrastruktur pengendali banjir rob, termasuk giant sea wall.
"Indonesia itu di sana-sini mengalami land subsidence dan ini tentunya harus kita waspadai. Kalau kita bikin tanggul pantai, dalam 10 tahun sudah tenggelam lagi, semakin turun lagi, dan air laut juga naik terus," ujar AHY di Jakarta, Senin (13/7/2026).
Baca juga: Proyek Tanggul Raksasa Jakarta-Cirebon Masuk Radar PSN Prabowo
Ia menjelaskan, penurunan muka tanah terutama disebabkan tingginya ekstraksi air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dan aktivitas perkotaan. Di sisi lain, jumlah penduduk perkotaan diproyeksikan terus meningkat sehingga tekanan terhadap sumber daya air tanah semakin besar.
"Masih terdapat puluhan juta keluarga atau rumah tangga yang mengambil air bersihnya dari dalam tanah, ditambah beban pembangunan perkotaan. Diproyeksikan sekitar 70 persen masyarakat Indonesia nantinya tinggal di kota-kota besar. Ini yang perlu kita mitigasi bersama-sama," kata AHY.
Berdasarkan data pemerintah, penurunan muka tanah di Teluk Jakarta, Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Kendal mencapai rata-rata 5 hingga 20 sentimeter per tahun.
Jika tren tersebut terus berlangsung bersamaan dengan kenaikan muka air laut, permukaan laut di kawasan tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar dua meter di atas daratan dalam satu dekade mendatang.
AHY mengatakan, ancaman penurunan muka tanah dan kenaikan muka laut tidak hanya berdampak terhadap kawasan permukiman, tetapi juga berpotensi mengganggu perekonomian nasional.
Merujuk proyeksi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada skenario terburuk kenaikan muka laut hingga 1,2 meter, lebih dari 49.000 kilometer persegi daratan Indonesia berpotensi terendam pada 2100.
Menurut dia, kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa memiliki peran strategis karena menyumbang sekitar 27 persen produk domestik bruto (PDB) nasional.
Apabila jalur logistik utama di kawasan tersebut terus terdampak banjir rob dan penurunan tanah, pemerintah akan menghadapi beban besar untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak.
Baca juga: Kata Pakar Unika dan BRIN soal Minimnya Analisa Risiko Giant Sea Wall terhadap Warga
Selain itu, fenomena tersebut juga mengancam keberadaan pulau-pulau kecil yang menjadi batas wilayah kedaulatan Indonesia.
Karena itu, AHY menilai penyusunan berbagai dokumen pembangunan nasional, seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), harus memasukkan aspek adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Menurut AHY, penanganan krisis iklim membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga karena dampaknya bersifat lintas sektor dan wilayah.
"Agenda nasional yang terpadu ini sederhana diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilaksanakan karena masing-masing memiliki agenda, kepentingan, anggaran, dan target sendiri," ujarnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya