Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AHY: Giant Sea Wall Tak Akan Efektif Tanpa Mitigasi Penurunan Muka Tanah

Kompas.com, 14 Juli 2026, 07:47 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

‎JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) tidak akan efektif apabila tidak disertai upaya mengatasi penurunan muka tanah yang terjadi di sejumlah wilayah pesisir utara Pulau Jawa.

Menurut AHY, penurunan muka tanah yang dipicu pengambilan air tanah secara berlebihan dapat membuat kawasan pesisir terus turun, sehingga mengurangi efektivitas infrastruktur pengendali banjir rob, termasuk giant sea wall.

"Indonesia itu di sana-sini mengalami land subsidence dan ini tentunya harus kita waspadai. Kalau kita bikin tanggul pantai, dalam 10 tahun sudah tenggelam lagi, semakin turun lagi, dan air laut juga naik terus," ujar AHY di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Baca juga: Proyek Tanggul Raksasa Jakarta-Cirebon Masuk Radar PSN Prabowo

Ia menjelaskan, penurunan muka tanah terutama disebabkan tingginya ekstraksi air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat dan aktivitas perkotaan. Di sisi lain, jumlah penduduk perkotaan diproyeksikan terus meningkat sehingga tekanan terhadap sumber daya air tanah semakin besar.

"Masih terdapat puluhan juta keluarga atau rumah tangga yang mengambil air bersihnya dari dalam tanah, ditambah beban pembangunan perkotaan. Diproyeksikan sekitar 70 persen masyarakat Indonesia nantinya tinggal di kota-kota besar. Ini yang perlu kita mitigasi bersama-sama," kata AHY.

Berdasarkan data pemerintah, penurunan muka tanah di Teluk Jakarta, Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Kendal mencapai rata-rata 5 hingga 20 sentimeter per tahun.

Jika tren tersebut terus berlangsung bersamaan dengan kenaikan muka air laut, permukaan laut di kawasan tersebut diperkirakan dapat mencapai sekitar dua meter di atas daratan dalam satu dekade mendatang.

Ancam ekonomi dan wilayah pesisir

AHY mengatakan, ancaman penurunan muka tanah dan kenaikan muka laut tidak hanya berdampak terhadap kawasan permukiman, tetapi juga berpotensi mengganggu perekonomian nasional.

Merujuk proyeksi Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada skenario terburuk kenaikan muka laut hingga 1,2 meter, lebih dari 49.000 kilometer persegi daratan Indonesia berpotensi terendam pada 2100.

Menurut dia, kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa memiliki peran strategis karena menyumbang sekitar 27 persen produk domestik bruto (PDB) nasional.

Apabila jalur logistik utama di kawasan tersebut terus terdampak banjir rob dan penurunan tanah, pemerintah akan menghadapi beban besar untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak.

Baca juga: Kata Pakar Unika dan BRIN soal Minimnya Analisa Risiko Giant Sea Wall terhadap Warga

Selain itu, fenomena tersebut juga mengancam keberadaan pulau-pulau kecil yang menjadi batas wilayah kedaulatan Indonesia.

Karena itu, AHY menilai penyusunan berbagai dokumen pembangunan nasional, seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), harus memasukkan aspek adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Dorong pendekatan lintas sektor

Menurut AHY, penanganan krisis iklim membutuhkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga karena dampaknya bersifat lintas sektor dan wilayah.

"Agenda nasional yang terpadu ini sederhana diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilaksanakan karena masing-masing memiliki agenda, kepentingan, anggaran, dan target sendiri," ujarnya.

Di tengah keterbatasan fiskal, pemerintah akan mengombinasikan pembangunan infrastruktur fisik (gray infrastructure) dengan solusi berbasis alam (nature-based solutions), seperti rehabilitasi hutan mangrove untuk memperkuat perlindungan kawasan pesisir.

"Pada akhirnya tata kelola dan kelembagaan ini bisa menjadi game changer," kata AHY.

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengingatkan kerugian sosial ekonomi akibat krisis iklim di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp 2.000 triliun pada 2029 apabila tidak segera diantisipasi.

Baca juga: Menko AHY: Giant Sea Wall Pantura Akan Dikombinasikan dengan Mangrove

Menurut Rachmat, sebanyak 319 kabupaten/kota di Indonesia saat ini masuk kategori memiliki tingkat kerentanan iklim sangat tinggi.

"Kalau tidak teratasi, ini berarti dua pertiga dari APBN kita bisa habis hanya gara-gara kerentanan iklim," ujar Rachmat.

Ia menambahkan, tingginya potensi kerugian ekonomi dipengaruhi posisi strategis Pantura Jawa yang menyumbang sekitar 27 persen PDB nasional dan menjadi lokasi sekitar 60 persen industri Indonesia.

Khusus Jakarta, kerugian akibat banjir, kerusakan infrastruktur, bangunan, serta hilangnya lahan produktif diperkirakan mencapai sedikitnya 186 juta dollar AS atau sekitar Rp 2,9 triliun setiap tahun.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau