KOMPAS.com - Upaya mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor pertanian dinilai akan lebih efektif jika dikomunikasikan melalui manfaat kesehatan masyarakat dibandingkan semata-mata menekankan isu perubahan iklim.
Peneliti dari Brown's Institute at Brown for Environment and Society sekaligus School of Public Health, Meredith Niles, mengatakan, konsumen cenderung lebih terdorong membeli produk pangan karena alasan kesehatan daripada keberlanjutan lingkungan.
Pola yang sama juga berlaku bagi petani dalam menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
"Konsumen jauh lebih termotivasi oleh kesehatan dalam pembelian mereka. Meskipun hanya sekitar empat persen orang membeli sesuatu karena alasan keberlanjutan, lebih dari separuh mengatakan mereka memilih makanan karena manfaat kesehatannya atau cara makanan itu diproduksi," ujar Niles, dikutip dari laman resmi School of Public Health, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam
Menurut Niles, pendekatan komunikasi yang selama ini berfokus pada krisis iklim belum cukup efektif mendorong perubahan perilaku, baik di tingkat petani maupun konsumen. Karena itu, ia menilai manfaat kesehatan perlu ditempatkan sebagai pesan utama dalam mendorong penerapan praktik pertanian berkelanjutan.
Temuan tersebut didasarkan pada hasil penelitiannya terhadap petani sapi perah. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar peternak lebih memprioritaskan kesejahteraan hewan dan produktivitas dibandingkan pengurangan emisi karbon.
Sebagai pelaku usaha berskala kecil, para petani tetap berupaya menjaga lingkungan. Namun, aspek tersebut umumnya bukan menjadi pertimbangan utama dalam menjalankan usaha mereka.
"Banyak konsumen mengatakan mereka peduli terhadap lingkungan. Namun, bukti menunjukkan hanya sekitar empat persen konsumen di Amerika Serikat yang benar-benar membeli produk karena dampaknya terhadap lingkungan. Orang lebih mempertimbangkan apakah makanan itu sehat dan berapa harganya," kata Niles.
Karena itu, ia menilai kampanye mengenai praktik pertanian berkelanjutan perlu dirancang ulang dengan menonjolkan manfaat langsung bagi kesehatan masyarakat, tanpa mengesampingkan manfaat lingkungannya.
Baca juga: 74 Persen Air Tawar Indonesia Habis untuk Pertanian, Pakar Ingatkan Dampaknya
"Saya tidak mengatakan kita harus berhenti membicarakan manfaat lingkungan dari praktik berkelanjutan. Namun, kita juga perlu mulai membicarakan manfaatnya bagi kesehatan masyarakat," ujarnya.
Niles menjelaskan, banyak praktik pertanian berkelanjutan yang tidak hanya mampu menekan emisi GRK, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan.
Salah satunya ialah metode budidaya padi dengan penggunaan air yang lebih hemat melalui sistem pengeringan dan pembasahan bergantian (alternate wetting and drying).
Selain mampu menurunkan emisi metana, metode tersebut juga berpotensi mengurangi kandungan logam berat, seperti arsenik, timbal, dan kadmium, pada beras.
Menurut dia, manfaat ganda tersebut seharusnya menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi kepada masyarakat.
Ia juga mendorong agar pemerintah memperluas akses terhadap pangan yang diproduksi melalui praktik pertanian berkelanjutan, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya