Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kurangi Emisi Pertanian, Pesan Kesehatan Dinilai Lebih Efektif ketimbang Isu Iklim

Kompas.com, 16 Juli 2026, 08:31 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Upaya mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor pertanian dinilai akan lebih efektif jika dikomunikasikan melalui manfaat kesehatan masyarakat dibandingkan semata-mata menekankan isu perubahan iklim.

Peneliti dari Brown's Institute at Brown for Environment and Society sekaligus School of Public Health, Meredith Niles, mengatakan, konsumen cenderung lebih terdorong membeli produk pangan karena alasan kesehatan daripada keberlanjutan lingkungan.

Pola yang sama juga berlaku bagi petani dalam menerapkan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.

"Konsumen jauh lebih termotivasi oleh kesehatan dalam pembelian mereka. Meskipun hanya sekitar empat persen orang membeli sesuatu karena alasan keberlanjutan, lebih dari separuh mengatakan mereka memilih makanan karena manfaat kesehatannya atau cara makanan itu diproduksi," ujar Niles, dikutip dari laman resmi School of Public Health, Kamis (16/7/2026).

Baca juga: El Niño Datang, Sektor Pertanian Asia Mulai Terancam

Menurut Niles, pendekatan komunikasi yang selama ini berfokus pada krisis iklim belum cukup efektif mendorong perubahan perilaku, baik di tingkat petani maupun konsumen. Karena itu, ia menilai manfaat kesehatan perlu ditempatkan sebagai pesan utama dalam mendorong penerapan praktik pertanian berkelanjutan.

Temuan tersebut didasarkan pada hasil penelitiannya terhadap petani sapi perah. Survei menunjukkan bahwa sebagian besar peternak lebih memprioritaskan kesejahteraan hewan dan produktivitas dibandingkan pengurangan emisi karbon.

Sebagai pelaku usaha berskala kecil, para petani tetap berupaya menjaga lingkungan. Namun, aspek tersebut umumnya bukan menjadi pertimbangan utama dalam menjalankan usaha mereka.

"Banyak konsumen mengatakan mereka peduli terhadap lingkungan. Namun, bukti menunjukkan hanya sekitar empat persen konsumen di Amerika Serikat yang benar-benar membeli produk karena dampaknya terhadap lingkungan. Orang lebih mempertimbangkan apakah makanan itu sehat dan berapa harganya," kata Niles.

Karena itu, ia menilai kampanye mengenai praktik pertanian berkelanjutan perlu dirancang ulang dengan menonjolkan manfaat langsung bagi kesehatan masyarakat, tanpa mengesampingkan manfaat lingkungannya.

Baca juga: 74 Persen Air Tawar Indonesia Habis untuk Pertanian, Pakar Ingatkan Dampaknya

"Saya tidak mengatakan kita harus berhenti membicarakan manfaat lingkungan dari praktik berkelanjutan. Namun, kita juga perlu mulai membicarakan manfaatnya bagi kesehatan masyarakat," ujarnya.

Praktik ramah lingkungan juga lebih sehat

Niles menjelaskan, banyak praktik pertanian berkelanjutan yang tidak hanya mampu menekan emisi GRK, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan.

Salah satunya ialah metode budidaya padi dengan penggunaan air yang lebih hemat melalui sistem pengeringan dan pembasahan bergantian (alternate wetting and drying).

Selain mampu menurunkan emisi metana, metode tersebut juga berpotensi mengurangi kandungan logam berat, seperti arsenik, timbal, dan kadmium, pada beras.

Menurut dia, manfaat ganda tersebut seharusnya menjadi bagian penting dalam strategi komunikasi kepada masyarakat.

Ia juga mendorong agar pemerintah memperluas akses terhadap pangan yang diproduksi melalui praktik pertanian berkelanjutan, terutama bagi rumah tangga berpendapatan rendah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Penegasan Batas Desa, Jadi Fondasi Cegah Perambahan Hutan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat
Pemerintah
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
PBB Peringatkan El Nino Sangat Kuat, Diprediksi Bertahan hingga Februari 2027
Pemerintah
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
OJK Siapkan Aturan Wajibkan TKBI, Aspek HAM Masuk Penilaian Keuangan Berkelanjutan
Pemerintah
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Emisi Kebakaran Indonesia Tertinggi di Dunia, 19,7 Juta Ton Sepekan
Pemerintah
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
Saat Ketan Hitam Sigi Disulap Jadi Skincare Tradisional...
LSM/Figur
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
258 Juta Anak di 87 Negara Terdampak Krisis Pendidikan, 74 Juta Tak Sekolah
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau