Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi

Kompas.com, 17 Juli 2026, 20:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-Korea Selatan akan mewajibkan produsen kendaraan komersial ukuran sedang dan besar seperti truk dan bus untuk memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca mulai tahun 2027.

Di saat yang sama, aturan emisi dan standar kehematan bahan bakar untuk mobil pribadi juga akan diperketat. Langkah ini diambil untuk mempercepat pencapaian target iklim negara tersebut pada tahun 2030.

Melansir Eco Business, Kamis (16/7/2026) Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan menyampaikan mereka telah menerbitkan rancangan aturan baru ini.

Masyarakat diberikan waktu selama 60 hari hingga 14 September untuk memberikan masukan atau pendapat terkait aturan tersebut.

Target sektor transportasi Korea Selatan

Perubahan aturan ini dibuat agar sektor transportasi sejalan dengan target iklim nasional Korea Selatan dalam Perjanjian Paris. Di dalam perjanjian tersebut, Korea Selatan berkomitmen untuk memotong emisi gas rumah kaca sebesar 40 persen pada tahun 2030 dibanding tingkat emisi tahun 2018.

Baca juga: Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi

Tahun lalu, pemerintah bahkan menyetujui target yang lebih besar untuk tahun 2035, yaitu memangkas emisi sebesar 53 hingga 61 persen, di mana sektor transportasi menjadi salah satu bidang yang harus dikurangi emisinya secara besar-besaran.

Perubahan paling penting adalah diterapkannya target pengurangan emisi yang wajib bagi kendaraan komersial sedang dan berat. Aturan wajib ini akan menggantikan sistem sukarela yang berlaku saat ini.

Aturan ini akan diterapkan secara bertahap antara tahun 2027 dan 2030. Tahap awal akan dimulai dari truk besar dengan berat di atas 15 ton dan kepala truk. Setelah itu, aturan akan diperluas ke bus ukuran sedang dan besar, truk ukuran sedang, serta truk pikap.

Pada tahun 2030, produsen kendaraan wajib memotong rata-rata emisi gas rumah kaca dari jenis-jenis kendaraan tersebut sebesar 30 persen dibanding tingkat emisi tahun 2021–2022.

Perusahaan yang gagal memenuhi target ini akan dikenakan denda uang. Meski demikian, pemerintah menyampaikan bahwa denda pada awalnya akan dipatok cukup rendah. Hal ini bertujuan memberikan waktu bagi produsen untuk menciptakan teknologi yang lebih bersih dan memperbanyak produksi kendaraan ramah lingkungan. Nilai denda baru akan dinaikkan setelah aturan wajib ini berjalan sepenuhnya mulai tahun 2031.

Selain itu untuk mobil pribadi dan kendaraan penumpang kecil, Korea Selatan akan memperketat standar rata-rata emisi secara besar-besaran pada tahun 2030.

Batas rata-rata emisi untuk mobil pribadi dan mobil berkapasitas hingga 10 orang akan diturunkan menjadi 54 gram karbon dioksida per kilometer (g/km), dari rencana sebelumnya sebesar 70 g/km.

Sementara itu, untuk truk kecil dan bus mini berkapasitas 11 hingga 15 penumpang, batas emisi akan dipangkas menjadi 98 g/km dari aturan sebelumnya sebesar 146 g/km.

Program insentif pemerintah

Untuk meringankan beban produsen otomotif sekaligus mempercepat peralihan ke transportasi yang lebih bersih, pemerintah akan memperpanjang program insentif "kredit super" hingga tahun 2029.

Program ini berlaku untuk kendaraan listrik, hidrogen, dan hibrida, sehingga penjualan kendaraan ramah lingkungan tersebut akan dihitung lebih besar dalam penilaian target perusahaan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau