Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon

Kompas.com, 18 Juli 2026, 08:11 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

SUKABUMI, KOMPAS.com – Di balik rimbunnya lereng Gunung Gede Pangrango, terdapat sebuah desa yang menyimpan rahasia manis dari pohon aren.

Menyadap nira dari pohon aren bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan. Bagi para petani di sini, pohon aren memiliki karakter yang unik, bahkan sering diibaratkan bak seorang wanita.

Sebelum mengambil nira, manggar atau bunga jantan pohon aren harus dipukul dengan alat menyerupai palu dari kayu selama tiga putaran, yang kemudian diayun-ayun.

“Dipukul sampai merata. Jangan terlalu kencang. Pohon ini harus diperlakukan dengan perasaan, seperti layaknya kepada manusia,” ujar pengrajin aren, Yandi, Sabtu (11/7/2026).

Baca juga: Tak Hanya Gula, Aren di Borobudur Juga Diolah Jadi Dawet Kenyal Mirip Jelly

Jika salah memukul pada area 'sensitif', pohon aren bisa mogok berproduksi atau menghasilkan nira yang pahit. Bahkan, hari penyadapan di Desa Gede Pangrango pun ditentukan, dengan teguh memegang jadwal pada hari Senin dan Kamis.

“Kalau Kamis bisa diundur hari Jumat. Senin tetap Senin, tidak bisa diundur atau dimaju,” ucapnya.

Tradisi ini dipercaya menjaga kualitas nira yang bisa mencapai 15 liter per pohon setiap harinya. Namun, tantangan terbesar saat ini muncul dari perubahan cuaca yang tidak menentu.

"Kalau cuaca konsisten panas atau hujan, kualitas gulanya bagus. Tetapi, kalau panas, lalu tiba-tiba hujan, gulanya jadi lembek dan susah dicetak," tutur Yandi.

Ia mengaku sekarang kesulitan memprediksi perubahan cuaca yang sangat memengaruhi kualitas gula aren. Dulu, jika nira tidak memenuhi syarat untuk dijadikan gula aren, Yandi tidak akan menjualnya ke pasar dan membagikannya ke tetangganya.

Kini, nira yang tidak memenuhi syarat diolah menjadi cuka area, produk yang justru menjadi primadona karena bisa dipasarkan melalui jalur online dan memiliki masa simpan yang lama. Cuka aren kemasan 500 ml dijual dengan harga Rp 25.000 dan Rp 15.000 untuk 250 ml.

Ke depan, Yandi akan mengembangkan gula cair dan gula semut dari nira pohon aren. "Belum ada pengemasan, masih mencoba. Kan dari dulu saya membuat gula aren dan (kemudian) cuka," ujar Yandi.

Baca juga: Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat

Ia sering kedatangan banyak siswa sekolah dan turis mancanegara yang hendak belajar mengolah nira aren dari hulu ke hilir. Tak jarang, para turis tersebut memesan kembali produk gula dan cuka aren setelah kembali ke negaranya masing-masing karena jatuh cinta pada rasa aslinya.

“Ada tamu dari Italia, Jerman, Belanda, hingga Malaysia. Mereka datang untuk edukasi, lalu membawa pulang gula aren sebagai buah tangan,” ucapnya.

Pohon aren di Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (11/7/2026).Manda Firmansyah/Kompas.com Pohon aren di Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (11/7/2026).

Ekowisata dan Pemberdayaan Komunitas

Gula aren merupakan produk unggulan Desa Gede Pangrango. Uniknya, produksi gula masih bergantung pada kelestarian alam dan peran musang dalam penyebaran benih pohon aren di kawasan konservasi.

"Kalau mulai masuk ke sini, kotoran musang banyak sekali, sehingga di sana ada populasi musang. Jadi, kalau untuk produksi aren ini, tiap produksi, kalau enggak ada musang, enggak ada aren," ujar Ending dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari Desa Gede Pangrango.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau