Meski permintaan tinggi, tantangan saat ini justru terletak pada terbatasnya tenaga panen nira dari pohon aren, bukan pada ketersediaan bahan baku alam.
Menurut Ending, kemampuan mengolah potensi alam dan limbah menjadi salah satu keunggulan warga di Desa Gede Pangrango. Setiap Rukun Warga (RW) memiliki spesialisasi produk yang berbeda. Mulai dari anyaman gelang berbahan akar atau pakis, kerajinan bambu, sampai produk daur ulang plastik, bekas pipa, kardus, dan komposter.
Pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat menyadari bahwa pertumbuhan wisata yang pesat membawa tantangan sosial, seperti potensi praktik pungutan liar (pungli) dan premanisme. Menanggapi hal ini, Desa Gede Pangrango menerapkan strategi inklusi, dengan merangkul masyarakat yang berpotensi pungli dan memasukkannya ke dalam Pokdarwis
Masyarakat yang awalnya berpotensi melakukan pungli dirangkul ke dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan diberikan pelatihan sebagai fasilitator atau pemandu wisata. Pendekatan persuasif dilakukan melalui forum-forum warga dan pengajian untuk menyatukan visi pembangunan desa.
Baca juga: 5 Desa Sejahtera Astra Ekspor 10 Ton Ubi ke Malaysia dan Singapura
“Kami merangkul mereka yang awalnya dianggap pengganggu untuk ikut serta menjadi bagian dari sistem. Dengan begitu, tidak ada lagi istilah 'tidak kebagian rezeki', karena semua bergerak bersama dalam satu wadah,” tutur Kepala Desa Gede Pangrango, Asep.
Meski menunjukkan tren positif, Desa Gede Pangrango tetap menghadapi kendala, salah satunya pemotongan dana desa hingga 70 persen yang membatasi pembangunan infrastruktur. Namun, hal ini justru memicu kreativitas pengelola untuk tetap mempertahankan konsep wisata yang natural dan hijau.
"Pengennya natural seperti ini saja, lebih hijau, terus jalan setapak lebih enak. Ternyata, sekarang ini banyak orang yang rindu kampung," ucapnya.
Masyarakat sepakat untuk tetap menjaga suasana desa yang asri sebagai nilai jual utama bagi wisatawan yang merindukan suasana kampung halaman. Ke depan, fokus pengembangan Desa Gede Pangrango akan diarahkan pada optimalisasi homestay milik warga dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia atau regenerasi pemandu wisata.
Titik balik Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, terjadi pada tahun 2021 saat masuk ke dalam program Kampung Berseri Astra (KBA). Kehadiran Astra memberikan napas baru melalui pendampingan berkelanjutan yang mencakup empat pilar, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, dan Kewirausahaan.
Setelah menjadi Desa Sejahtera Astra (DSA) pada 2022, Desa Gede Pangrango berhasil mengubah potensi alam dan kearifan lokal menjadi mesin penggerak ekonomi warga, di mana lokasi strategisnya di dekat wisata alam Situ Gunung yang sudah terkenal sejak tahun 1932, dimanfaatkan untuk menarik wisatawan.
Baca juga: Bersama IPB, Desa Sejahtera Astra Berdayakan Masyarakat di Pemalang lewat Perhutanan Sosial
Menurut Ending, perbedaan sebelum dan sesudah menjadi DSA sangat terasa, terutama dalam hal pengiklanan dan kemudahan menembus birokrasi.
"Dulu kami berjalan tanpa pendamping. Sekarang ada Astra, lebih enak. Kami didampingi pelatihan kader, hingga penyusunan proposal untuk mendapatkan dana CSR yang kami putar kembali untuk warga, seperti membentuk pasukan drum band dan angklung, serta sanggar seni anak-anak desa," ujar Ending.
Desa Gede Pangrango juga telah meraih sertifikat Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat nasional berkat pendampingan lingkungan dari Astra.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya