SUKABUMI, KOMPAS.com – Di balik rimbunnya lereng Gunung Gede Pangrango, terdapat sebuah desa yang menyimpan rahasia manis dari pohon aren.
Menyadap nira dari pohon aren bukanlah perkara semudah membalikkan telapak tangan. Bagi para petani di sini, pohon aren memiliki karakter yang unik, bahkan sering diibaratkan bak seorang wanita.
Sebelum mengambil nira, manggar atau bunga jantan pohon aren harus dipukul dengan alat menyerupai palu dari kayu selama tiga putaran, yang kemudian diayun-ayun.
“Dipukul sampai merata. Jangan terlalu kencang. Pohon ini harus diperlakukan dengan perasaan, seperti layaknya kepada manusia,” ujar pengrajin aren, Yandi, Sabtu (11/7/2026).
Baca juga: Tak Hanya Gula, Aren di Borobudur Juga Diolah Jadi Dawet Kenyal Mirip Jelly
Jika salah memukul pada area 'sensitif', pohon aren bisa mogok berproduksi atau menghasilkan nira yang pahit. Bahkan, hari penyadapan di Desa Gede Pangrango pun ditentukan, dengan teguh memegang jadwal pada hari Senin dan Kamis.
“Kalau Kamis bisa diundur hari Jumat. Senin tetap Senin, tidak bisa diundur atau dimaju,” ucapnya.
Tradisi ini dipercaya menjaga kualitas nira yang bisa mencapai 15 liter per pohon setiap harinya. Namun, tantangan terbesar saat ini muncul dari perubahan cuaca yang tidak menentu.
"Kalau cuaca konsisten panas atau hujan, kualitas gulanya bagus. Tetapi, kalau panas, lalu tiba-tiba hujan, gulanya jadi lembek dan susah dicetak," tutur Yandi.
Ia mengaku sekarang kesulitan memprediksi perubahan cuaca yang sangat memengaruhi kualitas gula aren. Dulu, jika nira tidak memenuhi syarat untuk dijadikan gula aren, Yandi tidak akan menjualnya ke pasar dan membagikannya ke tetangganya.
Kini, nira yang tidak memenuhi syarat diolah menjadi cuka area, produk yang justru menjadi primadona karena bisa dipasarkan melalui jalur online dan memiliki masa simpan yang lama. Cuka aren kemasan 500 ml dijual dengan harga Rp 25.000 dan Rp 15.000 untuk 250 ml.
Ke depan, Yandi akan mengembangkan gula cair dan gula semut dari nira pohon aren. "Belum ada pengemasan, masih mencoba. Kan dari dulu saya membuat gula aren dan (kemudian) cuka," ujar Yandi.
Baca juga: Aren Minahasa: Akar Tradisi dan Ekonomi Rakyat
Ia sering kedatangan banyak siswa sekolah dan turis mancanegara yang hendak belajar mengolah nira aren dari hulu ke hilir. Tak jarang, para turis tersebut memesan kembali produk gula dan cuka aren setelah kembali ke negaranya masing-masing karena jatuh cinta pada rasa aslinya.
“Ada tamu dari Italia, Jerman, Belanda, hingga Malaysia. Mereka datang untuk edukasi, lalu membawa pulang gula aren sebagai buah tangan,” ucapnya.
Pohon aren di Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi, pada Sabtu (11/7/2026).Gula aren merupakan produk unggulan Desa Gede Pangrango. Uniknya, produksi gula masih bergantung pada kelestarian alam dan peran musang dalam penyebaran benih pohon aren di kawasan konservasi.
"Kalau mulai masuk ke sini, kotoran musang banyak sekali, sehingga di sana ada populasi musang. Jadi, kalau untuk produksi aren ini, tiap produksi, kalau enggak ada musang, enggak ada aren," ujar Ending dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dari Desa Gede Pangrango.
Meski permintaan tinggi, tantangan saat ini justru terletak pada terbatasnya tenaga panen nira dari pohon aren, bukan pada ketersediaan bahan baku alam.
Menurut Ending, kemampuan mengolah potensi alam dan limbah menjadi salah satu keunggulan warga di Desa Gede Pangrango. Setiap Rukun Warga (RW) memiliki spesialisasi produk yang berbeda. Mulai dari anyaman gelang berbahan akar atau pakis, kerajinan bambu, sampai produk daur ulang plastik, bekas pipa, kardus, dan komposter.
Pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat menyadari bahwa pertumbuhan wisata yang pesat membawa tantangan sosial, seperti potensi praktik pungutan liar (pungli) dan premanisme. Menanggapi hal ini, Desa Gede Pangrango menerapkan strategi inklusi, dengan merangkul masyarakat yang berpotensi pungli dan memasukkannya ke dalam Pokdarwis
Masyarakat yang awalnya berpotensi melakukan pungli dirangkul ke dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan diberikan pelatihan sebagai fasilitator atau pemandu wisata. Pendekatan persuasif dilakukan melalui forum-forum warga dan pengajian untuk menyatukan visi pembangunan desa.
Baca juga: 5 Desa Sejahtera Astra Ekspor 10 Ton Ubi ke Malaysia dan Singapura
“Kami merangkul mereka yang awalnya dianggap pengganggu untuk ikut serta menjadi bagian dari sistem. Dengan begitu, tidak ada lagi istilah 'tidak kebagian rezeki', karena semua bergerak bersama dalam satu wadah,” tutur Kepala Desa Gede Pangrango, Asep.
Meski menunjukkan tren positif, Desa Gede Pangrango tetap menghadapi kendala, salah satunya pemotongan dana desa hingga 70 persen yang membatasi pembangunan infrastruktur. Namun, hal ini justru memicu kreativitas pengelola untuk tetap mempertahankan konsep wisata yang natural dan hijau.
"Pengennya natural seperti ini saja, lebih hijau, terus jalan setapak lebih enak. Ternyata, sekarang ini banyak orang yang rindu kampung," ucapnya.
Masyarakat sepakat untuk tetap menjaga suasana desa yang asri sebagai nilai jual utama bagi wisatawan yang merindukan suasana kampung halaman. Ke depan, fokus pengembangan Desa Gede Pangrango akan diarahkan pada optimalisasi homestay milik warga dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia atau regenerasi pemandu wisata.
Titik balik Desa Gede Pangrango, Kecamatan Kadudampit, terjadi pada tahun 2021 saat masuk ke dalam program Kampung Berseri Astra (KBA). Kehadiran Astra memberikan napas baru melalui pendampingan berkelanjutan yang mencakup empat pilar, yaitu Kesehatan, Pendidikan, Lingkungan, dan Kewirausahaan.
Setelah menjadi Desa Sejahtera Astra (DSA) pada 2022, Desa Gede Pangrango berhasil mengubah potensi alam dan kearifan lokal menjadi mesin penggerak ekonomi warga, di mana lokasi strategisnya di dekat wisata alam Situ Gunung yang sudah terkenal sejak tahun 1932, dimanfaatkan untuk menarik wisatawan.
Baca juga: Bersama IPB, Desa Sejahtera Astra Berdayakan Masyarakat di Pemalang lewat Perhutanan Sosial
Menurut Ending, perbedaan sebelum dan sesudah menjadi DSA sangat terasa, terutama dalam hal pengiklanan dan kemudahan menembus birokrasi.
"Dulu kami berjalan tanpa pendamping. Sekarang ada Astra, lebih enak. Kami didampingi pelatihan kader, hingga penyusunan proposal untuk mendapatkan dana CSR yang kami putar kembali untuk warga, seperti membentuk pasukan drum band dan angklung, serta sanggar seni anak-anak desa," ujar Ending.
Desa Gede Pangrango juga telah meraih sertifikat Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat nasional berkat pendampingan lingkungan dari Astra.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya