Sementara itu, salah satu penyusun laporan, Syartinilia, mengatakan laporan Status Keanekaragaman Hayati untuk Ekoregion Jawa memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan laporan ekoregion lainnya.
Baca juga: Hilangnya Keanekaragaman Hayati Bisa Picu Kenaikan Biaya Hidup
Menurut dia, laporan tersebut untuk pertama kalinya memasukkan pembahasan mengenai ekosistem buatan karena Pulau Jawa memiliki banyak ruang terbuka hijau dan ruang terbuka biru yang meski dibentuk oleh manusia, telah berkembang menyerupai ekosistem alami.
"Kami menambahkan bab ekosistem buatan karena di Jawa terdapat beberapa ekosistem yang dibuat manusia, tetapi sudah menyerupai ekosistem alami di tempat lain. Karena itu kami mengelompokkannya sebagai ruang terbuka hijau dan ruang terbuka biru," ujar Syartinilia.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa kawasan hutan berstatus konservasi di Jawa memiliki tingkat alih fungsi lahan yang relatif lebih rendah dibandingkan kawasan konservasi di ekoregion lain, meskipun tekanan terhadap perubahan penggunaan lahan di Pulau Jawa secara keseluruhan masih tergolong tinggi.
"Karena kawasan konservasi yang tersisa di Jawa jumlahnya sudah sedikit, kawasan itu menjadi sangat dijaga dan diproteksi," kata Syartinilia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya