JAKARTA, KOMPAS.com – Program PHINLA (Philippines, Indonesia, Sri Lanka) berhasil mengubah lebih dari 283 ton sampah menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas di Jakarta.
Melalui program tersebut, warga didorong untuk memilah sampah dari rumah, kemudian menyetorkannya ke bank sampah sebagai tabungan yang dapat memberikan nilai ekonomi.
Sejak berjalan pada 2024, Program PHINLA telah mengumpulkan lebih dari 283.152 kilogram sampah dengan melibatkan 2.876 anggota aktif dan mendampingi 24 bank sampah di Jakarta Utara, Jakarta Timur, dan Kepulauan Seribu.
Baca juga: Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Dari hasil pengelolaan sampah tersebut, masyarakat memperoleh pendapatan lebih dari Rp 100 juta.
Program ini juga membentuk 44 kelompok simpan pinjam berbasis komunitas, meningkatkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah, serta melatih 80 kader advokasi di 11 desa dan kelurahan.
Program Director Wahana Visi Indonesia (WVI), Eben Ezer Sembiring, mengatakan pengelolaan sampah yang baik tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama anak-anak.
"Setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. Kami masih melihat banyak anak di Jakarta hidup dalam lingkungan yang kurang sehat akibat tingginya produksi sampah, rendahnya pengelolaan sampah dari sumber, serta padatnya permukiman," ujar Eben dalam keterangan tertulis, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Eben, pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat membantu mengurangi risiko banjir sekaligus membuka peluang ekonomi bagi keluarga.
Data Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menunjukkan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang mencapai rata-rata 7.354 ton per hari atau sekitar 2,68 juta ton setiap tahun.
Besarnya timbulan sampah tersebut, menurut Eben, menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah yang berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat sejak dari tingkat rumah tangga.
"Permasalahan sampah di DKI Jakarta telah berkembang menjadi tantangan lingkungan, kesehatan, dan sosial yang semakin mendesak," katanya.
Program PHINLA dijalankan oleh Wahana Visi Indonesia bersama Divers Clean Action dengan dukungan Pemerintah Jerman melalui Federal Ministry for Economic Cooperation and Development (BMZ).
Selain memperkuat pengelolaan sampah berbasis komunitas, program ini juga terintegrasi dengan Asosiasi Simpan Pinjam untuk Kesejahteraan Anak (ASKA) guna membantu pengelolaan keuangan keluarga sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan anak, termasuk pendidikan.
Sebagai bagian dari implementasi program, perwakilan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta juga mengunjungi lokasi dampingan PHINLA di Jakarta Utara dan Jakarta Timur untuk melihat perkembangan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Baca juga: Jakarta Jadi Barometer Keberhasilan Kebijakan Tanggung Jawab Produsen Atasi Sampah
Counsellor for Development Cooperation Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, Angelika Stauder, mengapresiasi tingginya partisipasi masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya