"Masalah yang kompleks membutuhkan pemahaman dan solusi yang kompleks. Penyederhanaan dapat menyesatkan ketika diterapkan untuk memahami bahaya sosioekologis seperti kebakaran," kata Adrian.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tim peneliti menilai upaya pencegahan sebaiknya difokuskan pada kawasan yang memiliki potensi tinggi menjadi lokasi awal munculnya titik api.
Pendekatan tersebut dinilai dapat mengurangi kemungkinan terbentuknya kebakaran besar karena sebagian besar kebakaran dahsyat berawal dari sejumlah titik api yang kemudian saling menyatu.
Studi ini juga menunjukkan bahwa sejumlah kawasan hutan hujan tropis, termasuk di Kalimantan, memiliki potensi lebih tinggi menjadi lokasi munculnya titik api dibandingkan yang selama ini diperkirakan, bahkan melampaui beberapa kawasan hutan rawa gambut yang dikenal rawan kebakaran.
Menurut tim peneliti, temuan tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah, pengelola kawasan, dan para peneliti dalam menyusun strategi pencegahan, penanggulangan, serta pemodelan risiko kebakaran di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya