Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Mayoritas Karhutla Besar di Asia Tenggara Berasal dari Banyak Titik Api

Kompas.com, 18 Juli 2026, 16:03 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kebakaran hutan dan lahan besar yang melanda Asia Tenggara khatulistiwa pada 2015 ternyata sebagian besar tidak bermula dari satu titik api.

Studi terbaru mengungkapkan, kebakaran-kebakaran tersebut umumnya terbentuk ketika sejumlah kebakaran kecil yang muncul secara terpisah meluas, lalu bergabung menjadi satu kebakaran besar.

Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal "Environmental Research Letters" berdasarkan penelitian yang dilakukan tim peneliti dari National University of Singapore (NUS) dan International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA).

Baca juga: Karhutla Meningkat di Kalsel, BNPB Gelar Hujan Buatan hingga 21 Juli 2026

Penulis utama studi, Adrian Dwiputra, mengatakan sekitar 84 persen jaringan kebakaran yang dianalisis memiliki lebih dari satu titik asal.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penyebab kebakaran tidak hanya rumit, tetapi juga dinamis," ujar Adrian, yang juga peneliti di NUS dan Kelompok Penelitian Pertanian, Kehutanan, dan Layanan Ekosistem Program Keanekaragaman Hayati dan Sumber Daya Alam IIASA, dikutip dari laman IIASA, Sabtu (18/7/2026).

Dalam penelitian tersebut, tim menganalisis kebakaran besar yang terjadi di Asia Tenggara khatulistiwa pada 2015, ketika jutaan hektar lahan terbakar dan kabut asap menyelimuti kawasan, menimbulkan dampak lingkungan, kesehatan, serta kerugian ekonomi yang luas.

Untuk melacak asal mula kebakaran, peneliti menggunakan pendekatan analisis jaringan berbasis citra satelit. Metode tersebut memungkinkan mereka mengidentifikasi sekitar 74.500 hingga 75.000 titik awal kebakaran yang tersebar dalam hampir 15.000 jaringan kebakaran.

Hasil analisis menunjukkan sebagian besar kebakaran besar berkembang dari beberapa titik api yang muncul secara independen sebelum akhirnya menyatu.

Faktor kombinasi

Penelitian ini juga menemukan bahwa lokasi awal kebakaran dipengaruhi oleh kombinasi faktor aktivitas manusia dan kondisi lingkungan.

Di antara berbagai faktor yang dianalisis, jenis bentang alam atau ekoregion serta tingkat kekeringan atmosfer menjadi dua faktor yang paling kuat menentukan lokasi munculnya titik api.

Temuan tersebut memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan aktivitas manusia menjadi pemicu utama kebakaran di kawasan ini, sekaligus menegaskan bahwa kondisi lingkungan berperan besar dalam menentukan lokasi kebakaran paling mudah terjadi.

Penulis studi sekaligus peneliti senior IIASA, Ping Yowargana, mengatakan meningkatnya kekeringan akibat krisis iklim berpotensi memperbesar risiko kebakaran di masa mendatang.

"Kekeringan atmosfer akan meningkat seiring krisis iklim sehingga risiko kebakaran juga meningkat. Temuan ini menantang anggapan bahwa hutan tropis Asia Tenggara akan selalu mampu pulih dari gangguan alam hanya karena memiliki curah hujan tinggi," ujar Ping.

Baca juga: Karhutla 5 Hektare di Kubu Raya, Satgas Berjibaku Padamkan Api Dekat Bandara Supadio

Sementara itu, Adrian menjelaskan bahwa faktor-faktor yang berkaitan dengan aktivitas manusia lebih dominan ditemukan pada lokasi awal munculnya kebakaran, sedangkan faktor alam berperan lebih besar terhadap penyebaran api setelah kebakaran terjadi.

Menurut dia, karakter kebakaran yang kompleks menuntut pendekatan yang juga lebih komprehensif dalam memahami maupun mengatasinya.

"Masalah yang kompleks membutuhkan pemahaman dan solusi yang kompleks. Penyederhanaan dapat menyesatkan ketika diterapkan untuk memahami bahaya sosioekologis seperti kebakaran," kata Adrian.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, tim peneliti menilai upaya pencegahan sebaiknya difokuskan pada kawasan yang memiliki potensi tinggi menjadi lokasi awal munculnya titik api.

Pendekatan tersebut dinilai dapat mengurangi kemungkinan terbentuknya kebakaran besar karena sebagian besar kebakaran dahsyat berawal dari sejumlah titik api yang kemudian saling menyatu.

Studi ini juga menunjukkan bahwa sejumlah kawasan hutan hujan tropis, termasuk di Kalimantan, memiliki potensi lebih tinggi menjadi lokasi munculnya titik api dibandingkan yang selama ini diperkirakan, bahkan melampaui beberapa kawasan hutan rawa gambut yang dikenal rawan kebakaran.

Menurut tim peneliti, temuan tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah, pengelola kawasan, dan para peneliti dalam menyusun strategi pencegahan, penanggulangan, serta pemodelan risiko kebakaran di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau