Mereka juga berencana menjadikan investasi energi nuklir sebagai tumpuan utama.
Amazon sendiri sudah memesan hampir 2 gigawatt tenaga nuklir pada Juni lalu dan menandatangani dua proyek nuklir baru. Microsoft mendukung beberapa teknologi nuklir masa depan, sementara Google telah menyiapkan kapasitas nuklir di Ohio. Namun, tidak ada yang seberani Meta yang sudah membuat kesepakatan nuklir hingga 7,7 gigawatt.
Baca juga: Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Investasi besar pada baterai raksasa juga akan sangat membantu. Pada akhir tahun 2025, Amazon memiliki 15 proyek energi surya yang dilengkapi dengan tempat penyimpanan energi, dengan kapasitas sekitar 2,3 gigawatt.
Google juga telah berinvestasi beberapa kali pada baterai yang tahan lama agar energi dari angin dan surya bisa disimpan dan digunakan lebih lama.
Selain itu, perhatian akan lebih banyak tertuju ke wilayah Asia.
Amazon mendukung sekitar 2,2 gigawatt energi bersih di kawasan Asia Pasifik, wilayah yang pasokan listriknya sebenarnya masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.
Sebagai gambaran, total investasi energi bersih Amazon di seluruh dunia adalah sekitar 40 gigawatt. Google secara terang-terangan menyebut Asia sebagai wilayah yang paling sulit untuk membeli listrik bebas karbon, meskipun tahun lalu mereka sudah berhasil menandatangani kerja sama di Malaysia dan Jepang.
Sementara itu, Microsoft mendanai Southeast Asia Clean Energy Facility yang sejauh ini telah menyalurkan 230 juta dolar AS untuk proyek-proyek energi bersih tahap awal di Asia Tenggara.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya