Tim peneliti menegaskan bahwa berkurangnya penampakan burung selama periode berasap tidak serta-merta menunjukkan populasi burung menurun.
Sebaliknya, kondisi tersebut kemungkinan mencerminkan perubahan perilaku burung yang membuat mereka lebih sulit dideteksi.
Meski demikian, Wilson menilai temuan tersebut menjadi peringatan penting karena perubahan iklim diperkirakan akan meningkatkan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan sehingga paparan asap terhadap satwa liar juga berpotensi semakin sering terjadi.
"Meskipun demikian, karena perubahan iklim terus memperparah kebakaran hutan, sangat penting bagi kita untuk memahami bagaimana burung akan terpengaruh oleh meningkatnya polusi asap," kata Wilson.
Menurut tim peneliti, hasil studi ini dapat membantu meningkatkan akurasi pemantauan keanekaragaman hayati sehingga penurunan sementara dalam tingkat keteramatan burung tidak disalahartikan sebagai penurunan populasi yang sebenarnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya