KOMPAS.com - Alam memiliki penyaring polusi sendiri seperti misalnya bakteri di dalam air sungai yang bertugas memakan gas metana berbahaya agar tidak merusak lapisan udara bumi.
Namun, melansir Phys, Jumat (17/7/2026) penelitian yang dilakukan oleh Alberto Borges, seorang ahli kelautan dari Universitas Liège menemukan kerja bakteri ini tetap tidak cukup kuat untuk membendung lonjakan emisi metana yang terus naik akibat pemanasan global dan pencemaran limbah nitrat.
Temuan yang dipublikasikan di Science Advances ini disimpulkan setelah melakukan penelitian perbandingan di Belgia dan Afrika tentang cara bakteri sungai memakan gas metana.
Metana adalah gas rumah kaca paling berbahaya kedua setelah karbon dioksida. Sungai menjadi salah satu penyumbang gas metana terbesar ke udara, di mana jumlahnya mencapai sepertiga dari total emisi yang dihasilkan oleh sektor pertanian yaitu aktivitas manusia yang paling banyak merusak udara dengan metana.
Baca juga: Meski Ditutup, TPA Bantargebang Tetap Lepaskan Metana Puluhan Tahun ke Depan
Gas metana yang keluar dari sungai terjadi karena adanya adu kuat antara dua proses alam di dasar sungai yakni proses pembentukan gas metana oleh mikroba tertentu, melawan proses pembusukan alami di mana mikroba lain justru "memakan" gas metana tersebut untuk dijadikan sumber energi mereka.
Metana adalah zat yang sederhana dan kaya akan energi. Hal ini membuat metana menjadi makanan favorit bagi bakteri tertentu yang khusus menggunakan metana sebagai sumber energi dan bahan pertumbuhan mereka. Bakteri-bakteri ini bisa melahap habis metana sebelum gas tersebut sempat lepas ke udara.
Namun, kemampuan bakteri dalam memakan metana ini sebenarnya masih jarang diteliti. Alberto Borges, seorang peneliti ahli dari Universitas Liège pun berinisiatif mempelajarinya.
"Kami melakukan penelitian di Belgia dan Afrika untuk melihat perbedaan cara kerja bakteri pemakan metana di sungai. Hasilnya, kami menemukan bahwa penyaringan alami ini jauh lebih kuat terjadi di sungai-sungai Afrika dibanding di Belgia," kata Borges.
"Sungai di Belgia sudah banyak rusak akibat pembangunan beton di pinggiran sungai, yang membuat bakteri baik dari tanah tidak bisa masuk ke air. Selain itu, kondisi sungai di sana juga terganggu akibat penyaringan air yang berlebihan oleh kerang batik Asia (Asian corbicula), sejenis kerang asing yang sifatnya menjajah dan merusak," paparnya lagi.
Baca juga: Beri Makan Sapi Biji-bijian, Tekan Emisi Metana Hingga 56 Persen
Penelitian dari Universitas Liège ini juga menunjukkan bahwa jumlah bakteri pemakan metana sangat sedikit di area hulu. Padahal, area hulu inilah yang justru menjadi penyumbang terbesar lepasnya gas metana dari sungai ke udara.
Hal ini membuat Borges menyimpulkan bahwa lonjakan gas metana yang terjadi akibat pemanasan global atau pencemaran limbah pupuk nitrat tidak akan bisa dibendung oleh bakteri pemakan metana tersebut.
Padahal, bakteri ini adalah satu-satunya penyaring alami bumi. Fungsi penyaring alami ini sekarang justru makin rusak karena ulah manusia yang mengubah bentuk asli pinggiran sungai serta akibat masuknya jenis kerang liar yang merusak ekosistem air.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya