KOMPAS.com - Asia semakin memperkuat posisinya sebagai raja ekonomi hijau dunia pada tahun 2025. Wilayah ini menyumbang hampir separuh dari seluruh pendapatan bisnis ramah lingkungan di dunia karena investasi energi bersih dan pabrik-pabriknya terus berkembang pesat, meskipun Asia sendiri masih sangat bergantung pada batu bara dan minyak impor.
Melansir Eco Business, Rabu (15/7/2026) Grup Bursa Efek London (LSEG) dalam laporan terbarunya menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia menyumbang 47 persen dari total pendapatan hijau global tahun lalu, porsi terbesar dibandingkan wilayah mana pun di dunia.
Kemajuan ini dipimpin oleh China, Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan.
Penelitian tahunan tersebut menemukan bahwa pendapatan bisnis hijau di Asia tumbuh rata-rata 12 persen per tahun selama lima tahun terakhir, melampaui laju pertumbuhan dunia yang berada di angka 10 persen.
Laporan tersebut menambahkan bahwa sejak tahun 2016, perusahaan-perusahaan Asia selalu menjadi penyumbang pendapatan terbesar di dunia dari bisnis ramah lingkungan. Saat ini, mereka memegang peranan sangat penting di berbagai bidang, mulai dari pembuatan peralatan energi dan kendaraan, hingga pengolahan sampah dan pengendalian polusi.
Baca juga: Studi: Mayoritas Karhutla Besar di Asia Tenggara Berasal dari Banyak Titik Api
Menurut LSEG, China sendiri bahkan menghasilkan lebih dari separuh total keuntungan dunia di sektor baterai kendaraan listrik dan pembangunan jalur kereta api ramah lingkungan.
Temuan ini keluar bersamaan dengan nilai total pasar ekonomi hijau dunia yang berhasil menembus angka 10 triliun dolar AS (sekitar Rp179,77 kuadriliun) untuk pertama kalinya. Lonjakan ini didorong oleh pulihnya saham-saham bisnis hijau serta tingginya permintaan pasar akan tenaga listrik, efisiensi energi, dan transportasi bersih.
Menurut laporan LSEG, jika ekonomi hijau dianggap sebagai satu industri tersendiri, nilainya akan menjadi sektor terbesar ketiga di dunia. Posisinya berada di atas sektor kesehatan dan hanya kalah dari sektor teknologi serta industri berat.
Pendapatan bisnis ramah lingkungan di seluruh dunia naik 5,3 persen pada tahun 2025. Hal tersebut berdasarkan pendataan terhadap lebih dari 21.000 perusahaan publik. Keuntungan dilaporkan meningkat di tiga perempat dari total 133 bidang bisnis hijau yang dipantau.
Mobil listrik dan baterai canggih menjadi bidang dengan pertumbuhan paling kuat, dengan menyumbang tambahan pendapatan sebesar 62 miliar dolar AS (sekitar Rp1.114,57 triliun) sepanjang tahun tersebut.
Laporan LSEG menyebutkan bahwa Asia kini telah menjadi tujuan investasi energi bersih terbesar di dunia. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah, perencanaan industri yang matang, serta makin banyaknya penggunaan teknologi ramah lingkungan.
China sendiri menginvestasikan 625 miliar dolar AS (sekitar Rp11.235,62 triliun) untuk energi terbarukan, penyimpanan energi, tenaga nuklir, dan efisiensi energi. Angka ini menyumbang lebih dari 30 persen dari total investasi energi bersih di seluruh dunia.
India menyusul di urutan berikutnya dengan investasi energi bersih sekitar 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1.797,70 triliun). Nilai ini setara dengan 83 persen dari seluruh anggaran modal yang mereka alokasikan untuk sektor ketenagakerjaan dan kelistrikan.
Sementara itu, Jepang sedang menjalankan strategi Transformasi Hijau (GX) dengan target investasi sebesar 1 triliun dolar AS (sekitar Rp17.977 triliun). Program ini bertujuan untuk mengurangi emisi karbon di sektor kelistrikan melalui energi terbarukan dan nuklir, sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Baca juga: Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Namun, LSEG menyebut bahwa Asia menghadapi tantangan ganda. Asia harus mempercepat perluasan energi bersih, tetapi di sisi lain tetap harus menjaga pasokan energi yang stabil dan terjangkau.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya