“Jika itu terjadi, tumpang-tindih dan penghitungan ganda bisa timbul, sehingga maskapai terkadang harus membayar kompensasi emisi dua kali untuk satu penerbangan yang sama,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah memastikan ketersediaan kredit karbon berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup. IATA memperkirakan bahwa untuk tahap pertama program CORSIA (tahun 2024–2026), maskapai membutuhkan sekitar 200 juta unit kredit karbon (EEU) agar dapat memenuhi aturan yang berlaku.
Kredit karbon ini digunakan maskapai untuk menutupi jejak karbon mereka dengan cara mendanai berbagai proyek pengurangan emisi di tempat lain.
Namun, Lee memperkirakan saat ini baru ada sekitar 38 juta unit yang tersedia atau hanya sekitar seperlima (20 persen) dari total kebutuhan pasar.
Selain kredit karbon, bahan bakar penerbangan ramah lingkungan (SAF) diperkirakan memegang peranan penting untuk membantu maskapai mencapai target emisi. Penggunaan bahan bakar ini akan mengurangi ketergantungan maskapai pada kredit karbon.
Baca juga: Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Namun, Lee mengatakan bahwa hanya ada sekitar 2,4 juta ton SAF yang tersedia tahun ini, atau cuma sekitar 0,8 persen dari total kebutuhan bahan bakar pesawat dunia.
Sebagai alternatif bahan bakar fosil biasa, SAF dapat dibuat dari berbagai bahan baku berkelanjutan, seperti minyak goreng bekas dan sampah organik.
IATA menyebut bahwa penggunaan SAF ini bisa menyumbang hingga 65 persen dari total pengurangan emisi yang dibutuhkan maskapai untuk mencapai bebas emisi karbon pada tahun 2050.
Lee mengatakan bahwa berdasarkan penilaian IATA, bahan baku untuk membuat SAF sebenarnya sudah cukup. Namun, memperbesar skala teknologi dan meningkatkan jumlah produksi masih menjadi tantangan terbesar di sektor ini.
“Wilayah Asia-Pasifik sangat beragam, kita punya banyak sekali jenis bahan baku yang bisa dimanfaatkan untuk membuat SAF. Yang perlu kita fokuskan sekarang adalah kecepatan dalam menerapkan teknologinya,” ujar Lee.
IATA menyatakan bahwa dibutuhkan kerja sama yang terarah dalam hal penyediaan energi terbarukan, infrastruktur bahan bakar, serta dukungan kebijakan dari pemerintah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya