KOMPAS.com - Di tengah bergeliatnya penerbangan internasional, perhatian kini tertuju pada meningkatnya jejak karbon dari industri ini. Penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen dari total emisi karbon dioksida (CO2) dunia.
Namun, di saat industri penerbangan menghadapi aturan iklim global yang semakin ketat, kepala keberlanjutan wilayah Asia-Pasifik dari Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) mengungkapkan maskapai tidak bisa diminta menanggung sendiri seluruh biaya untuk mengurangi emisi tersebut.
Melansir CNA, Selasa (14/7/2026) Kelvin Lee mengatakan bahwa pemerintah, investor, dan penumpang sama-sama memiliki peran dalam mengurangi emisi karbon penerbangan. Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan yang dibuat asal-asalan justru bisa membuat bengkak biaya tanpa mempercepat kemajuan.
“Kenyataan pahitnya, mengurangi emisi di sektor penerbangan itu butuh biaya,” kata Lee.
Ia menambahkan bahwa maskapai penerbangan beroperasi dengan keuntungan yang sangat tipis. Maskapai di kawasan Asia-Pasifik rata-rata hanya meraup untung sekitar 3 dolar AS per penumpang.
Baca juga: Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
“Daripada cuma melihat ini sebagai masalah biaya, ini harus dianggap sebagai tanggung jawab bersama. Semua pihak punya peran untuk berkontribusi,” tambahnya.
Mulai tahun 2027, sebagian besar penerbangan internasional akan tunduk pada CORSIA, yaitu sebuah skema global berbasis pasar untuk memangkas dan menyeimbangkan emisi karbon.
Program ini bertujuan mengurangi emisi penerbangan dengan menggunakan kredit karbon dan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan, di antara langkah-langkah lainnya.
Lee mengatakan bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada cara pemerintah menerapkan kebijakan iklim tersebut.
“Kuncinya terletak pada kebijakan pemerintah. Sebab, jika kebijakan dibuat asal-asalan atau urutannya keliru, hal itu justru bisa menambah biaya tanpa benar-benar mempercepat kemajuan,” ujarnya.
Pada tahun 2021, maskapai penerbangan dunia menyepakati target bersama untuk mencapai bebas emisi karbon pada tahun 2050. Bandara, penyedia navigasi penerbangan, hingga pemasok bahan bakar juga telah menyatakan komitmen yang sama.
Namun, Direktur Jenderal IATA Willie Walsh bulan lalu mengatakan bahwa harapan tersebut makin pupus dan mengusulkan untuk membuat tenggat waktu baru yang lebih realistis.
Ia menjelaskan bahwa mengurangi emisi penerbangan membutuhkan kombinasi solusi teknis, penyediaan energi ramah lingkungan, serta kebijakan pemerintah yang tepat.
“Solusi dari dalam industri penerbangan saja tidak akan cukup untuk mencapai bebas emisi pada tahun 2050. Itulah mengapa kita harus memanfaatkan kredit karbon dan penyerapan karbon dari luar sektor penerbangan untuk mencapai target tersebut,” papar Lee.
Ia juga menekankan bahwa membuat aturan karbon sendiri-sendiri di tingkat regional atau negara justru bisa makin menyulitkan maskapai.
“Jika itu terjadi, tumpang-tindih dan penghitungan ganda bisa timbul, sehingga maskapai terkadang harus membayar kompensasi emisi dua kali untuk satu penerbangan yang sama,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah memastikan ketersediaan kredit karbon berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup. IATA memperkirakan bahwa untuk tahap pertama program CORSIA (tahun 2024–2026), maskapai membutuhkan sekitar 200 juta unit kredit karbon (EEU) agar dapat memenuhi aturan yang berlaku.
Kredit karbon ini digunakan maskapai untuk menutupi jejak karbon mereka dengan cara mendanai berbagai proyek pengurangan emisi di tempat lain.
Namun, Lee memperkirakan saat ini baru ada sekitar 38 juta unit yang tersedia atau hanya sekitar seperlima (20 persen) dari total kebutuhan pasar.
Selain kredit karbon, bahan bakar penerbangan ramah lingkungan (SAF) diperkirakan memegang peranan penting untuk membantu maskapai mencapai target emisi. Penggunaan bahan bakar ini akan mengurangi ketergantungan maskapai pada kredit karbon.
Baca juga: Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan
Namun, Lee mengatakan bahwa hanya ada sekitar 2,4 juta ton SAF yang tersedia tahun ini, atau cuma sekitar 0,8 persen dari total kebutuhan bahan bakar pesawat dunia.
Sebagai alternatif bahan bakar fosil biasa, SAF dapat dibuat dari berbagai bahan baku berkelanjutan, seperti minyak goreng bekas dan sampah organik.
IATA menyebut bahwa penggunaan SAF ini bisa menyumbang hingga 65 persen dari total pengurangan emisi yang dibutuhkan maskapai untuk mencapai bebas emisi karbon pada tahun 2050.
Lee mengatakan bahwa berdasarkan penilaian IATA, bahan baku untuk membuat SAF sebenarnya sudah cukup. Namun, memperbesar skala teknologi dan meningkatkan jumlah produksi masih menjadi tantangan terbesar di sektor ini.
“Wilayah Asia-Pasifik sangat beragam, kita punya banyak sekali jenis bahan baku yang bisa dimanfaatkan untuk membuat SAF. Yang perlu kita fokuskan sekarang adalah kecepatan dalam menerapkan teknologinya,” ujar Lee.
IATA menyatakan bahwa dibutuhkan kerja sama yang terarah dalam hal penyediaan energi terbarukan, infrastruktur bahan bakar, serta dukungan kebijakan dari pemerintah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya