Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri

Kompas.com, 20 Juli 2026, 18:52 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber CNA

KOMPAS.com - Di tengah bergeliatnya penerbangan internasional, perhatian kini tertuju pada meningkatnya jejak karbon dari industri ini. Penerbangan menyumbang sekitar 2,5 persen dari total emisi karbon dioksida (CO2) dunia.

Namun, di saat industri penerbangan menghadapi aturan iklim global yang semakin ketat, kepala keberlanjutan wilayah Asia-Pasifik dari Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) mengungkapkan maskapai tidak bisa diminta menanggung sendiri seluruh biaya untuk mengurangi emisi tersebut.

Melansir CNA, Selasa (14/7/2026) Kelvin Lee mengatakan bahwa pemerintah, investor, dan penumpang sama-sama memiliki peran dalam mengurangi emisi karbon penerbangan. Ia juga memperingatkan bahwa kebijakan yang dibuat asal-asalan justru bisa membuat bengkak biaya tanpa mempercepat kemajuan.

“Kenyataan pahitnya, mengurangi emisi di sektor penerbangan itu butuh biaya,” kata Lee.

Ia menambahkan bahwa maskapai penerbangan beroperasi dengan keuntungan yang sangat tipis. Maskapai di kawasan Asia-Pasifik rata-rata hanya meraup untung sekitar 3 dolar AS per penumpang.

Baca juga: Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi

“Daripada cuma melihat ini sebagai masalah biaya, ini harus dianggap sebagai tanggung jawab bersama. Semua pihak punya peran untuk berkontribusi,” tambahnya.

Mulai tahun 2027, sebagian besar penerbangan internasional akan tunduk pada CORSIA, yaitu sebuah skema global berbasis pasar untuk memangkas dan menyeimbangkan emisi karbon.

Program ini bertujuan mengurangi emisi penerbangan dengan menggunakan kredit karbon dan bahan bakar penerbangan ramah lingkungan, di antara langkah-langkah lainnya.

Lee mengatakan bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada cara pemerintah menerapkan kebijakan iklim tersebut.

“Kuncinya terletak pada kebijakan pemerintah. Sebab, jika kebijakan dibuat asal-asalan atau urutannya keliru, hal itu justru bisa menambah biaya tanpa benar-benar mempercepat kemajuan,” ujarnya.

Target bebas emisi 2050

Pada tahun 2021, maskapai penerbangan dunia menyepakati target bersama untuk mencapai bebas emisi karbon pada tahun 2050. Bandara, penyedia navigasi penerbangan, hingga pemasok bahan bakar juga telah menyatakan komitmen yang sama.

Namun, Direktur Jenderal IATA Willie Walsh bulan lalu mengatakan bahwa harapan tersebut makin pupus dan mengusulkan untuk membuat tenggat waktu baru yang lebih realistis.

Ia menjelaskan bahwa mengurangi emisi penerbangan membutuhkan kombinasi solusi teknis, penyediaan energi ramah lingkungan, serta kebijakan pemerintah yang tepat.

“Solusi dari dalam industri penerbangan saja tidak akan cukup untuk mencapai bebas emisi pada tahun 2050. Itulah mengapa kita harus memanfaatkan kredit karbon dan penyerapan karbon dari luar sektor penerbangan untuk mencapai target tersebut,” papar Lee.

Ia juga menekankan bahwa membuat aturan karbon sendiri-sendiri di tingkat regional atau negara justru bisa makin menyulitkan maskapai.

“Jika itu terjadi, tumpang-tindih dan penghitungan ganda bisa timbul, sehingga maskapai terkadang harus membayar kompensasi emisi dua kali untuk satu penerbangan yang sama,” ujarnya.

Pasokan kredit karbon masih sangat kurang

Tantangan lainnya adalah memastikan ketersediaan kredit karbon berkualitas tinggi dalam jumlah yang cukup. IATA memperkirakan bahwa untuk tahap pertama program CORSIA (tahun 2024–2026), maskapai membutuhkan sekitar 200 juta unit kredit karbon (EEU) agar dapat memenuhi aturan yang berlaku.

Kredit karbon ini digunakan maskapai untuk menutupi jejak karbon mereka dengan cara mendanai berbagai proyek pengurangan emisi di tempat lain.

Namun, Lee memperkirakan saat ini baru ada sekitar 38 juta unit yang tersedia atau hanya sekitar seperlima (20 persen) dari total kebutuhan pasar.

Selain kredit karbon, bahan bakar penerbangan ramah lingkungan (SAF) diperkirakan memegang peranan penting untuk membantu maskapai mencapai target emisi. Penggunaan bahan bakar ini akan mengurangi ketergantungan maskapai pada kredit karbon.

Baca juga: Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Pangkas Signifikan Emisi Industri Penerbangan

Namun, Lee mengatakan bahwa hanya ada sekitar 2,4 juta ton SAF yang tersedia tahun ini, atau cuma sekitar 0,8 persen dari total kebutuhan bahan bakar pesawat dunia.

Sebagai alternatif bahan bakar fosil biasa, SAF dapat dibuat dari berbagai bahan baku berkelanjutan, seperti minyak goreng bekas dan sampah organik.

IATA menyebut bahwa penggunaan SAF ini bisa menyumbang hingga 65 persen dari total pengurangan emisi yang dibutuhkan maskapai untuk mencapai bebas emisi karbon pada tahun 2050.

Lee mengatakan bahwa berdasarkan penilaian IATA, bahan baku untuk membuat SAF sebenarnya sudah cukup. Namun, memperbesar skala teknologi dan meningkatkan jumlah produksi masih menjadi tantangan terbesar di sektor ini.

“Wilayah Asia-Pasifik sangat beragam, kita punya banyak sekali jenis bahan baku yang bisa dimanfaatkan untuk membuat SAF. Yang perlu kita fokuskan sekarang adalah kecepatan dalam menerapkan teknologinya,” ujar Lee.

IATA menyatakan bahwa dibutuhkan kerja sama yang terarah dalam hal penyediaan energi terbarukan, infrastruktur bahan bakar, serta dukungan kebijakan dari pemerintah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau