Selain memanfaatkan limbah yang melimpah, penggunaan tandan kosong kelapa sawit juga dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik.
Prima mengatakan pengembangan bahan baku lokal menjadi semakin penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap propelan impor.
Menurut dia, hanya terdapat sekitar lima hingga enam pabrik besar di dunia yang memproduksi propelan sehingga pasokan global sangat terbatas.
Kondisi tersebut semakin diperparah oleh konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga propelan.
Prima menyebut harga propelan yang sebelum perang Rusia-Ukraina berkisar 19 hingga 20 dollar AS per kilogram meningkat menjadi sekitar 40 hingga 50 dollar AS per kilogram. Setelah konflik di Timur Tengah memanas, harganya kembali melonjak hingga sekitar 100 sampai 140 dollar AS per kilogram.
Selain harga yang meningkat tajam, waktu tunggu pengadaan propelan dari luar negeri juga dapat mencapai empat hingga lima tahun.
Baca juga: Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?
"Kalaupun kami memperoleh harga sekitar 80 hingga 90 dollar AS per kilogram, kami tetap harus menunggu empat sampai lima tahun hingga material tersebut dikirim ke Indonesia," kata Prima.
Ia menambahkan, ketergantungan terhadap impor juga meningkatkan risiko terganggunya pasokan akibat embargo maupun dinamika geopolitik.
Meski demikian, pengembangan propelan berbasis tandan kosong kelapa sawit masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku karena setiap pabrik kelapa sawit memiliki karakteristik limbah yang berbeda.
Melalui proyek percontohan tersebut, PT Pindad menargetkan seluruh standar mutu dan sertifikasi dapat dipenuhi sebelum fasilitas produksi skala industri mulai beroperasi.
Prima berharap pabrik propelan pertama di Indonesia dapat mulai beroperasi pada semester kedua 2027.
Menurut dia, jika target tersebut tercapai, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit secara komersial.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya