Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit

Kompas.com, 21 Juli 2026, 07:46 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pindad mengembangkan teknologi pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi nitroselulosa, bahan baku utama propelan atau isian pendorong amunisi.

Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor sekaligus memperkuat kemandirian industri pertahanan nasional.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma, mengatakan riset yang dimulai pada 2022 kini telah memasuki tahap proyek percontohan.

Saat ini, PT Pindad mampu mengolah sekitar 50 ton tandan kosong kelapa sawit per tahun menjadi nitroselulosa untuk propelan.

Baca juga: ITS Kembangkan Material Komposit Hibrida dari Limbah Sawit, Ringan tetapi Berkekuatan Tinggi

"Tahun depan harapan kami dapat meningkatkan kapasitas menjadi 1.000 ton per tahun," ujar Prima dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026, Senin (20/7/2026).

Menurut Prima, peningkatan kapasitas tersebut dilakukan secara bertahap agar proses produksi dapat dioptimalkan sebelum memasuki skala industri.

Ia menjelaskan, kebutuhan propelan nasional diperkirakan mencapai 2.500 hingga 3.000 ton per tahun untuk memenuhi kebutuhan sekitar 2,5 miliar butir amunisi.

Sementara itu, kapasitas produksi propelan PT Pindad saat ini baru berkisar 800 hingga 1.000 ton per tahun sehingga masih terdapat kesenjangan pasokan yang cukup besar.

Untuk menghasilkan 1.000 ton propelan, perusahaan membutuhkan sekitar 2.500 hingga 3.000 ton tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku.

Prima menilai kebutuhan tersebut masih relatif kecil dibandingkan jumlah limbah tandan kosong yang dihasilkan industri kelapa sawit di Indonesia.

"Jumlah itu jauh lebih sedikit dibandingkan tandan kosong kelapa sawit yang dihasilkan pabrik kelapa sawit sehingga sangat memungkinkan untuk dipenuhi," ujarnya.

Selama ini, industri propelan dunia umumnya menggunakan selulosa yang berasal dari *cotton linter* atau serat kapas serta pulp kayu.

Menurut Prima, Indonesia menghadapi keterbatasan pasokan cotton linter sehingga pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi alternatif yang lebih sesuai dengan ketersediaan sumber daya dalam negeri.

Baca juga: IESR: Bensin dari Minyak Sawit Lebih Mahal

Dalam proses produksinya, tandan kosong kelapa sawit dicacah, dibersihkan, dan dipisahkan untuk memperoleh serat selulosa. Selanjutnya, selulosa diproses melalui reaksi nitrasi untuk menghasilkan nitroselulosa sebagai bahan baku propelan.

Ramah lingkungan

Selain memanfaatkan limbah yang melimpah, penggunaan tandan kosong kelapa sawit juga dinilai lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung pemanfaatan sumber daya domestik.

Prima mengatakan pengembangan bahan baku lokal menjadi semakin penting di tengah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap propelan impor.

Menurut dia, hanya terdapat sekitar lima hingga enam pabrik besar di dunia yang memproduksi propelan sehingga pasokan global sangat terbatas.

Kondisi tersebut semakin diperparah oleh konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga propelan.

Prima menyebut harga propelan yang sebelum perang Rusia-Ukraina berkisar 19 hingga 20 dollar AS per kilogram meningkat menjadi sekitar 40 hingga 50 dollar AS per kilogram. Setelah konflik di Timur Tengah memanas, harganya kembali melonjak hingga sekitar 100 sampai 140 dollar AS per kilogram.

Selain harga yang meningkat tajam, waktu tunggu pengadaan propelan dari luar negeri juga dapat mencapai empat hingga lima tahun.

Baca juga: Perang Picu Harga Avtur Melambung, Apakah Bioavtur Berbasis Limbah Sawit Bisa Jadi Solusi?

"Kalaupun kami memperoleh harga sekitar 80 hingga 90 dollar AS per kilogram, kami tetap harus menunggu empat sampai lima tahun hingga material tersebut dikirim ke Indonesia," kata Prima.

Ia menambahkan, ketergantungan terhadap impor juga meningkatkan risiko terganggunya pasokan akibat embargo maupun dinamika geopolitik.

Meski demikian, pengembangan propelan berbasis tandan kosong kelapa sawit masih menghadapi tantangan, terutama dalam menjaga konsistensi kualitas bahan baku karena setiap pabrik kelapa sawit memiliki karakteristik limbah yang berbeda.

Melalui proyek percontohan tersebut, PT Pindad menargetkan seluruh standar mutu dan sertifikasi dapat dipenuhi sebelum fasilitas produksi skala industri mulai beroperasi.

Prima berharap pabrik propelan pertama di Indonesia dapat mulai beroperasi pada semester kedua 2027.

Menurut dia, jika target tersebut tercapai, Indonesia berpotensi menjadi negara pertama yang memproduksi propelan berbahan baku limbah tandan kosong kelapa sawit secara komersial.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
Limbah Cairan Perasan Rumput Laut Diolah Jadi Kemasan Pintar Dukung Keamanan Pangan
LSM/Figur
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
AI Masuk Dunia Pendidikan, UNESCO Dorong Penguatan Kompetensi Guru
LSM/Figur
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
Banjir Bandang Berulang di Sumatera, Pakar Minta Tata Ruang Diubah
LSM/Figur
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
Agrinas Palma-IPB University Kembangkan Bioetanol Singkong, Sorgum, dan Jagung Dukung E20
BUMN
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Rasa Makanan Tentukan Keberhasilan Program Makanan Sekolah Ramah Lingkungan
Pemerintah
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
Dari Bambu hingga PLTMH, Peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara VI Belajar Jaga Lingkungan di Kawasan Ekowisata Boon Pring
LSM/Figur
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
ASEAN Didorong Selaraskan Harga Karbon agar Tak Kehilangan Potensi Pendapatan
Pemerintah
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
UNDP: 160 Juta Orang Terancam Terjebak Krisis Berkepanjangan
Pemerintah
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
WHO: Angka Harapan Hidup Global Mendekati Tingkat Sebelum Pandemi
Pemerintah
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Makanan Busuk Lepaskan Gas Rumah Kaca 5 Kali Lebih Banyak Dibanding Pesawat
Pemerintah
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
Potensi Pendapatan dari Pengelolaan Sampah Organik di Jabar Capai 64 M Per Tahun
LSM/Figur
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
IPB Sulap Limbah Mata Ikan Tuna Jadi Camilan Fungsional
LSM/Figur
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
PwC: Tingkat Kemahiran AI Memicu Kesenjangan Baru di Dunia Kerja
Pemerintah
Ketika AI 'Haus' Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
Ketika AI "Haus" Air Bersih, Catatan Pengingat dari Data Center Jatiluhur
LSM/Figur
'Long Service Award', Humanisasi di Tengah Era Transaksional
"Long Service Award", Humanisasi di Tengah Era Transaksional
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau