KOMPAS.com - Suhu daun tanaman atau suhu kanopi diperkirakan akan meningkat lebih cepat dibandingkan suhu udara akibat perubahan iklim. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada kesehatan tanaman, keanekaragaman hayati, hingga kemampuan ekosistem menyerap karbon dioksida.
Temuan tersebut diungkap dalam studi terbaru yang dipimpin peneliti Universitas Arizona dan dipublikasikan melalui laman resmi kampus tersebut.
Penulis utama penelitian, Julia K. Green, mengatakan suhu kanopi diprediksi meningkat sekitar 0,11 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kenaikan suhu udara pada akhir abad ke-21. Dengan kata lain, kenaikan suhu daun diperkirakan sekitar 16 persen lebih besar daripada kenaikan suhu udara di sekitarnya.
Baca juga: Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara
"Terdapat hubungan yang dapat diandalkan antara peningkatan suhu udara dan peningkatan suhu tajuk tanaman. Jadi, seberapa pun suhu udara meningkat pada akhir abad ini, suhu daun tanaman akan meningkat lebih banyak," ujar Green dikutip Selasa (21/7/2026).
Menurut Green, suhu kanopi merupakan indikator penting untuk memahami interaksi antara vegetasi dan iklim karena secara langsung memengaruhi proses fisiologis tanaman, termasuk fotosintesis.
Ia menjelaskan daun tanaman dapat menjadi jauh lebih panas dibandingkan udara di sekitarnya karena menerima radiasi matahari secara langsung.
"Jika Anda meletakkan tangan di atas trotoar pada hari yang panas, permukaannya akan terasa jauh lebih panas dibandingkan suhu udara. Hal yang sama terjadi pada daun tanaman," kata Green.
Dalam kondisi normal, tanaman mampu menurunkan suhu daunnya melalui proses transpirasi, yaitu penguapan air dari permukaan daun yang bekerja layaknya mekanisme tubuh manusia saat berkeringat.
Namun, ketika suhu dan kekeringan meningkat, tanaman dapat kehilangan terlalu banyak air sehingga menghentikan transpirasi dan fotosintesis untuk mempertahankan cadangan air.
Akibatnya, suhu daun meningkat lebih cepat daripada suhu udara.
Menurut penelitian tersebut, kondisi ini diperkirakan paling banyak terjadi di wilayah kering yang mengalami peningkatan suhu dan penurunan kelembapan.
Selain itu, Green juga menyoroti potensi dampaknya terhadap kawasan tropis.
Ia mengatakan vegetasi tropis umumnya telah beradaptasi pada kondisi suhu yang relatif stabil sehingga lebih rentan terhadap perubahan suhu, meski kenaikannya relatif kecil.
"Tempat yang paling mengkhawatirkan bagi saya adalah daerah tropis," ujarnya.
Penelitian itu juga menunjukkan bahwa meningkatnya suhu kanopi dapat memengaruhi keanekaragaman hayati, distribusi vegetasi, serta berbagai fungsi ekologis.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya