Perbedaan ini terjadi karena adanya peralihan dari penggunaan bahan bakar fosil secara langsung menuju penggunaan listrik, sebuah transisi yang akan terus berjalan terlepas dari perubahan jumlah penduduk.
Bahkan dalam skenario angka kelahiran rendah sekalipun, jumlah penduduk dunia masih akan bertambah sekitar 700 juta orang pada tahun 2060.
Kebutuhan energi yang belum terpenuhi di Asia dan Afrika, ditambah dengan peningkatan pendapatan serta meluasnya penggunaan energi terbarukan dan AI (kecerdasan buatan), berarti pendorong utama kebutuhan energi akan tetap ada, apa pun tren kelahirannya.
Miliaran orang saat ini masih belum memiliki akses energi modern yang andal, sehingga kebutuhan dasar akan energi tetap tinggi di semua kondisi populasi.
Kendati demikian, beberapa pihak di sektor ini melihat bahwa penurunan angka kelahiran berpotensi mengurangi beban pada sistem energi.
Angka kebutuhan energi yang stabil atau menurun dapat memberi waktu bagi para perencana untuk membangun kapasitas energi secara lebih matang dan terencana.
Hal ini juga bisa membawa dampak positif bagi lingkungan.
Secara teori, jumlah penduduk yang lebih sedikit berarti konsumsi sumber daya menjadi lebih hemat dan total emisi karbon pun menurun.
Hal ini menarik perhatian para peneliti iklim maupun para ahli ekonomi.
Meskipun demikian, sebagian besar ahli mengingatkan agar penurunan jumlah penduduk tidak dianggap sebagai cara utama untuk mengurangi emisi.
Zeke Hausfather, seorang ahli iklim dari Breakthrough Institute, menegaskan bahwa pola konsumsi masyarakat jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar jumlah penduduknya saja.
“Kadang-kadang orang menggunakan isu jumlah penduduk sebagai alasan agar negara-negara kaya terbebas dari tanggung jawab. Padahal kenyataannya, pola konsumsi dan tingkat kegiatan ekonomi kitalah yang memicu emisi, bukan sekadar berapa banyak jumlah orang yang ada,” katanya.
Baca juga: Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi
Peneliti lain menemukan hal serupa saat melihat data pendapatan dan emisi dunia.
Orang-orang di negara terkaya menghasilkan emisi sekitar 50 kali lebih banyak dibanding orang-orang di negara termiskin. Padahal, pertumbuhan penduduk tercepat justru terjadi di negara-negara miskin yang emisinya rendah tersebut.
Jumlah penduduk yang lebih sedikit mungkin bisa menahan laju kenaikan emisi, tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah emisi itu sendiri.
Malah, hal ini bisa memperumit segi ekonomi dalam transisi energi karena menyusutnya jumlah pekerja dan penerimaan pajak yang dibutuhkan untuk membiayainya.
Apakah penurunan angka kelahiran akan berdampak baik atau buruk, itu tidak terlalu tergantung pada berapa jumlah akhir penduduk bumi nanti.
Hal itu lebih tergantung pada sistem energi seperti apa yang dibangun untuk melayani mereka.
Pilihan kebijakan yang diambil dalam sepuluh tahun ke depan jauh lebih menentukan keberhasilan transisi energi daripada sekadar perkiraan jumlah penduduk.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya