Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global

Kompas.com, 21 Juli 2026, 14:11 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan jumlah kelahiran di dunia dapat mengubah pola penggunaan energi dan perencanaan sumber daya dalam beberapa puluh tahun ke depan.

Wood Mackenzie menganalisis bagaimana penurunan angka kelahiran bisa memengaruhi perkiraan jangka panjang di sektor energi, mulai dari jaringan listrik hingga pasokan bahan tambang penting.

Melansir Sustainability Magazine, Sabtu (18/7/2026) analisis ini berfokus pada skenario angka kelahiran rendah dari PBB. Dalam skenario ini, jumlah penduduk dunia akan mencapai puncaknya di angka 8,9 miliar pada tahun 2053, lalu turun menjadi 7,3 miliar pada tahun 2100.

Hal ini berbeda dengan perkiraan utama PBB yang memprediksi populasi akan naik menjadi 10 miliar pada tahun 2060. Sementara itu, skenario angka kelahiran tinggi memperkirakan populasi bisa mencapai 12,6 miliar di akhir abad ini.

Baca juga: Ekonom: Indonesia Punya Sumber Energi yang Beragam untuk Dukung Kemandirian Energi

Tren penurunan penduduk

Menurut Wood Mackenzie, data kependudukan terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk mulai melambat di berbagai wilayah penting.

Tingkat kelahiran dunia berada di angka 2,6 anak per perempuan pada tahun 2007, tetapi turun menjadi 2,2 pada tahun 2025. Angka ini makin mendekati batas minimal 2,1 anak per perempuan yang dibutuhkan untuk menjaga jumlah penduduk tetap stabil.

Kecepatan penurunan ini mengejutkan banyak ahli kependudukan.

Tingkat kelahiran turun lebih cepat dari perkiraan di berbagai benua. Penurunan ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga makin banyak terjadi di negara berkembang.

Hal ini menunjukkan bahwa tren penurunan kelahiran mungkin akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.

Peter Martin, Kepala Ekonomi di Wood Mackenzie, menegaskan bahwa tren kependudukan harus dimasukkan ke dalam skenario perencanaan utama.

Pasalnya, jumlah tenaga kerja yang makin menyusut berarti pertumbuhan ekonomi (PDB) akan melambat, dan ini berdampak langsung pada penurunan kebutuhan energi.

Baca juga: Tata Kelola Rantai Pasok Energi Jadi Fondasi Keberlanjutan Industri

"Ini bukan lagi sekadar risiko kecil atau kemungkinan langka. Hal ini harus masuk ke dalam skenario utama di setiap model perencanaan jangka panjang yang digunakan industri," ujarnya.

Wood Mackenzie memprediksi penggunaan energi akan mencapai puncaknya pada tahun 2035.

Setelah itu, penggunaannya diperkirakan terus menurun hingga tahun 2060.

Namun, kebutuhan akan listrik justru diprediksi akan meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama.

Perbedaan ini terjadi karena adanya peralihan dari penggunaan bahan bakar fosil secara langsung menuju penggunaan listrik, sebuah transisi yang akan terus berjalan terlepas dari perubahan jumlah penduduk.

Bahkan dalam skenario angka kelahiran rendah sekalipun, jumlah penduduk dunia masih akan bertambah sekitar 700 juta orang pada tahun 2060.

Kebutuhan energi yang belum terpenuhi di Asia dan Afrika, ditambah dengan peningkatan pendapatan serta meluasnya penggunaan energi terbarukan dan AI (kecerdasan buatan), berarti pendorong utama kebutuhan energi akan tetap ada, apa pun tren kelahirannya.

Miliaran orang saat ini masih belum memiliki akses energi modern yang andal, sehingga kebutuhan dasar akan energi tetap tinggi di semua kondisi populasi.

Dampak lingkungan dari perubahan jumlah penduduk

Kendati demikian, beberapa pihak di sektor ini melihat bahwa penurunan angka kelahiran berpotensi mengurangi beban pada sistem energi.

Angka kebutuhan energi yang stabil atau menurun dapat memberi waktu bagi para perencana untuk membangun kapasitas energi secara lebih matang dan terencana.

Hal ini juga bisa membawa dampak positif bagi lingkungan.

Secara teori, jumlah penduduk yang lebih sedikit berarti konsumsi sumber daya menjadi lebih hemat dan total emisi karbon pun menurun.

Hal ini menarik perhatian para peneliti iklim maupun para ahli ekonomi.

Meskipun demikian, sebagian besar ahli mengingatkan agar penurunan jumlah penduduk tidak dianggap sebagai cara utama untuk mengurangi emisi.

Zeke Hausfather, seorang ahli iklim dari Breakthrough Institute, menegaskan bahwa pola konsumsi masyarakat jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar jumlah penduduknya saja.

“Kadang-kadang orang menggunakan isu jumlah penduduk sebagai alasan agar negara-negara kaya terbebas dari tanggung jawab. Padahal kenyataannya, pola konsumsi dan tingkat kegiatan ekonomi kitalah yang memicu emisi, bukan sekadar berapa banyak jumlah orang yang ada,” katanya.

Baca juga: Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi

Pola emisi dan konsumsi

Peneliti lain menemukan hal serupa saat melihat data pendapatan dan emisi dunia.

Orang-orang di negara terkaya menghasilkan emisi sekitar 50 kali lebih banyak dibanding orang-orang di negara termiskin. Padahal, pertumbuhan penduduk tercepat justru terjadi di negara-negara miskin yang emisinya rendah tersebut.

Jumlah penduduk yang lebih sedikit mungkin bisa menahan laju kenaikan emisi, tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah emisi itu sendiri.

Malah, hal ini bisa memperumit segi ekonomi dalam transisi energi karena menyusutnya jumlah pekerja dan penerimaan pajak yang dibutuhkan untuk membiayainya.

Apakah penurunan angka kelahiran akan berdampak baik atau buruk, itu tidak terlalu tergantung pada berapa jumlah akhir penduduk bumi nanti.

Hal itu lebih tergantung pada sistem energi seperti apa yang dibangun untuk melayani mereka.

Pilihan kebijakan yang diambil dalam sepuluh tahun ke depan jauh lebih menentukan keberhasilan transisi energi daripada sekadar perkiraan jumlah penduduk.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Thailand Kucurkan Investasi Rp 26,66 Triliun untuk Panel Surya Atap
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau