KOMPAS.com - Perubahan jumlah kelahiran di dunia dapat mengubah pola penggunaan energi dan perencanaan sumber daya dalam beberapa puluh tahun ke depan.
Wood Mackenzie menganalisis bagaimana penurunan angka kelahiran bisa memengaruhi perkiraan jangka panjang di sektor energi, mulai dari jaringan listrik hingga pasokan bahan tambang penting.
Melansir Sustainability Magazine, Sabtu (18/7/2026) analisis ini berfokus pada skenario angka kelahiran rendah dari PBB. Dalam skenario ini, jumlah penduduk dunia akan mencapai puncaknya di angka 8,9 miliar pada tahun 2053, lalu turun menjadi 7,3 miliar pada tahun 2100.
Hal ini berbeda dengan perkiraan utama PBB yang memprediksi populasi akan naik menjadi 10 miliar pada tahun 2060. Sementara itu, skenario angka kelahiran tinggi memperkirakan populasi bisa mencapai 12,6 miliar di akhir abad ini.
Baca juga: Ekonom: Indonesia Punya Sumber Energi yang Beragam untuk Dukung Kemandirian Energi
Menurut Wood Mackenzie, data kependudukan terbaru menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk mulai melambat di berbagai wilayah penting.
Tingkat kelahiran dunia berada di angka 2,6 anak per perempuan pada tahun 2007, tetapi turun menjadi 2,2 pada tahun 2025. Angka ini makin mendekati batas minimal 2,1 anak per perempuan yang dibutuhkan untuk menjaga jumlah penduduk tetap stabil.
Kecepatan penurunan ini mengejutkan banyak ahli kependudukan.
Tingkat kelahiran turun lebih cepat dari perkiraan di berbagai benua. Penurunan ini tidak hanya terjadi di negara maju, tetapi juga makin banyak terjadi di negara berkembang.
Hal ini menunjukkan bahwa tren penurunan kelahiran mungkin akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
Peter Martin, Kepala Ekonomi di Wood Mackenzie, menegaskan bahwa tren kependudukan harus dimasukkan ke dalam skenario perencanaan utama.
Pasalnya, jumlah tenaga kerja yang makin menyusut berarti pertumbuhan ekonomi (PDB) akan melambat, dan ini berdampak langsung pada penurunan kebutuhan energi.
Baca juga: Tata Kelola Rantai Pasok Energi Jadi Fondasi Keberlanjutan Industri
"Ini bukan lagi sekadar risiko kecil atau kemungkinan langka. Hal ini harus masuk ke dalam skenario utama di setiap model perencanaan jangka panjang yang digunakan industri," ujarnya.
Wood Mackenzie memprediksi penggunaan energi akan mencapai puncaknya pada tahun 2035.
Setelah itu, penggunaannya diperkirakan terus menurun hingga tahun 2060.
Namun, kebutuhan akan listrik justru diprediksi akan meningkat dua kali lipat dalam periode yang sama.
Perbedaan ini terjadi karena adanya peralihan dari penggunaan bahan bakar fosil secara langsung menuju penggunaan listrik, sebuah transisi yang akan terus berjalan terlepas dari perubahan jumlah penduduk.
Bahkan dalam skenario angka kelahiran rendah sekalipun, jumlah penduduk dunia masih akan bertambah sekitar 700 juta orang pada tahun 2060.
Kebutuhan energi yang belum terpenuhi di Asia dan Afrika, ditambah dengan peningkatan pendapatan serta meluasnya penggunaan energi terbarukan dan AI (kecerdasan buatan), berarti pendorong utama kebutuhan energi akan tetap ada, apa pun tren kelahirannya.
Miliaran orang saat ini masih belum memiliki akses energi modern yang andal, sehingga kebutuhan dasar akan energi tetap tinggi di semua kondisi populasi.
Kendati demikian, beberapa pihak di sektor ini melihat bahwa penurunan angka kelahiran berpotensi mengurangi beban pada sistem energi.
Angka kebutuhan energi yang stabil atau menurun dapat memberi waktu bagi para perencana untuk membangun kapasitas energi secara lebih matang dan terencana.
Hal ini juga bisa membawa dampak positif bagi lingkungan.
Secara teori, jumlah penduduk yang lebih sedikit berarti konsumsi sumber daya menjadi lebih hemat dan total emisi karbon pun menurun.
Hal ini menarik perhatian para peneliti iklim maupun para ahli ekonomi.
Meskipun demikian, sebagian besar ahli mengingatkan agar penurunan jumlah penduduk tidak dianggap sebagai cara utama untuk mengurangi emisi.
Zeke Hausfather, seorang ahli iklim dari Breakthrough Institute, menegaskan bahwa pola konsumsi masyarakat jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar jumlah penduduknya saja.
“Kadang-kadang orang menggunakan isu jumlah penduduk sebagai alasan agar negara-negara kaya terbebas dari tanggung jawab. Padahal kenyataannya, pola konsumsi dan tingkat kegiatan ekonomi kitalah yang memicu emisi, bukan sekadar berapa banyak jumlah orang yang ada,” katanya.
Baca juga: Perkembangan AI Ancam Target Energi Bersih Perusahaan Raksasa Teknologi
Peneliti lain menemukan hal serupa saat melihat data pendapatan dan emisi dunia.
Orang-orang di negara terkaya menghasilkan emisi sekitar 50 kali lebih banyak dibanding orang-orang di negara termiskin. Padahal, pertumbuhan penduduk tercepat justru terjadi di negara-negara miskin yang emisinya rendah tersebut.
Jumlah penduduk yang lebih sedikit mungkin bisa menahan laju kenaikan emisi, tetapi tidak bisa menyelesaikan masalah emisi itu sendiri.
Malah, hal ini bisa memperumit segi ekonomi dalam transisi energi karena menyusutnya jumlah pekerja dan penerimaan pajak yang dibutuhkan untuk membiayainya.
Apakah penurunan angka kelahiran akan berdampak baik atau buruk, itu tidak terlalu tergantung pada berapa jumlah akhir penduduk bumi nanti.
Hal itu lebih tergantung pada sistem energi seperti apa yang dibangun untuk melayani mereka.
Pilihan kebijakan yang diambil dalam sepuluh tahun ke depan jauh lebih menentukan keberhasilan transisi energi daripada sekadar perkiraan jumlah penduduk.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya