Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027

Kompas.com, 21 Juli 2026, 15:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com-East Japan Railway (JR East) akan mulai mengoperasikan kereta penumpang hibrida berbahan bakar hidrogen pertama di Jepang pada akhir tahun fiskal 2027.

Langkah ini diambil oleh salah satu operator kereta terbesar di dunia tersebut untuk mengurangi emisi dan mencari pengganti kereta diesel.

Melansir Eco Business, Senin (20/7/2026) kereta dengan dua gerbong bernama HYBARI ini akan melayani jalur Tsurumi Line dan percabangan Nambu Line di kawasan industri kota pelabuhan Kawasaki, sebelah selatan Tokyo.

JR East telah melakukan uji coba di jalur tersebut sejak Maret 2022. Perusahaan berencana memodifikasi kereta eksperimental ini agar siap mengangkut penumpang secara komersial antara April 2027 hingga Maret 2028.

JR East sendiri mengelola jaringan kereta commuter yang luas di Tokyo serta layanan kereta cepat Shinkansen yang menghubungkan ibu kota dengan wilayah utara dan tengah Jepang, dengan total jalur mencapai sekitar 7.400 kilometer.

Baca juga: Jejak Karbon Industri Film Ternyata Besar, 65 Persen Emisi dari Transportasi

Grup perusahaan ini mencatatkan pendapatan operasional sekitar 3,85 triliun yen (sekitar 26 miliar dolar AS) untuk tahun yang berakhir pada Maret 2025, menjadikannya salah satu perusahaan kereta api terbesar di dunia.

Tak menghasilkan emisi karbon

HYBARI dikembangkan bersama oleh JR East, Hitachi, dan Toyota Motor Corp. Kereta ini menggabungkan teknologi kereta api dengan sistem sel bahan bakar (fuel-cell) yang diambil dari mobil hidrogen Toyota Mirai.

Kereta ini menghasilkan listrik dengan cara menggabungkan hidrogen yang disimpan di dalam kereta dengan oksigen dari udara. Baterai khusus dipasang untuk membantu kerja sel bahan bakar sekaligus menyimpan listrik yang dihasilkan saat kereta mengerem.

Sistem ini sama sekali tidak menghasilkan emisi karbon dioksida saat kereta berjalan, meskipun dampak lingkungan secara keseluruhan tetap bergantung pada bagaimana hidrogen tersebut dibuat.

Hidrogen yang dibuat dari bahan bakar fosil masih menghasilkan banyak emisi saat proses pembuatannya. Sebaliknya, hidrogen yang dibuat menggunakan listrik ramah lingkungan seperti tenaga surya atau angin bisa mengurangi emisi secara jauh lebih besar.

Penelitian menunjukkan bahwa kereta berbasis sel bahan bakar ini sangat cocok untuk menggantikan kereta diesel di jalur yang mahal atau sulit jika harus dipasangi kabel listrik gantung.

Kereta jenis ini tidak membutuhkan banyak tiang dan kabel di sepanjang rel, tetapi keuntungannya sangat bergantung pada harga hidrogen, ketersediaan tempat pengisian bahan bakar, serta jarak dan jadwal perjalanan kereta.

HYBARI membawa tangki hidrogen bertekanan tinggi di bagian atapnya, sedangkan sistem sel bahan bakar dan baterainya dipasang di bawah lantai kereta. Pengisian hidrogen akan dilakukan di Depo Kamakura milik JR East di Kawasaki.

Baca juga: China Luncurkan Kereta Komuter Serat Karbon, Kecepatannya 140 Km/Jam

JR East menyampaikan bahwa kereta ini akan menggunakan hidrogen bertekanan 35 megapascal (MPa) dan diperkirakan dapat menempuh jarak sekitar 70 kilometer untuk setiap satu kali pengisian bahan bakar.

MPa adalah satuan ukuran tekanan, dan kereta ini diperkirakan bisa menempuh jarak sekitar 70 kilometer untuk satu kali pengisian bahan bakar. Uji coba sebelumnya sempat menargetkan jarak tempuh sekitar 140 kilometer dengan menggunakan hidrogen bertekanan lebih tinggi (70 MPa).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau