Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Pulau dengan industri garam yang telah berkembang tentu lebih cocok mengintegrasikan desalinasi dengan produksi garam dan pemanfaatan mineral.
Pulau yang berdekatan dengan laut dalam memiliki peluang lebih besar untuk mengembangkan OTEC.
Pulau terpencil dengan penyinaran matahari tinggi akan lebih diuntungkan oleh sistem PV-RO.
Sementara daerah dengan kelembapan udara tinggi dapat menjadi lokasi ideal untuk pengembangan teknologi pemanenan air atmosfer.
Artinya, tidak ada pendekatan one-size-fits-all. Ketahanan air Indonesia harus dibangun melalui pemilihan teknologi yang mempertimbangkan kondisi lingkungan, kebutuhan masyarakat, ketersediaan energi, serta aspek ekonomi di setiap pulau.
Pendekatan berbasis karakteristik wilayah ini juga akan menghasilkan investasi yang lebih efisien dibandingkan menerapkan satu teknologi yang sama di seluruh Indonesia.
Ke depan, tantangan terbesar bukanlah mengembangkan satu teknologi paling unggul, melainkan mengintegrasikan berbagai teknologi tersebut ke dalam satu sistem ketahanan air nasional.
Dalam sistem seperti itu, desalinasi, OTEC, energi surya, pemanenan air atmosfer, sensor cerdas, kecerdasan buatan, digital twin, hingga sistem pendukung keputusan dapat saling melengkapi.
Teknologi tidak lagi dipandang sebagai solusi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari ekosistem penyediaan air adaptif terhadap kondisi masing-masing pulau.
Pendekatan semacam ini juga selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
Penyediaan air bersih akan berjalan beriringan dengan transisi energi bersih, penguatan ekonomi biru, peningkatan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengembangan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.
Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara: wilayah laut yang luas, potensi energi surya yang melimpah, lingkungan tropis, dan keragaman kondisi kepulauan.
Semua itu merupakan laboratorium alam sangat berharga untuk mengembangkan berbagai inovasi penyediaan air masa depan.
Pada akhirnya, persoalan terbesar kita mungkin bukan kekurangan air, melainkan masih terbatasnya cara pandang terhadap sumber air itu sendiri.
Selama ini laut dianggap sebagai air yang tidak dapat diminum.
Padahal, dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan yang tepat, laut justru dapat menjadi salah satu fondasi ketahanan air Indonesia di masa depan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah laut dapat menjadi sumber air bersih.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kita siap mengubah paradigma dan mulai membangun sistem ketahanan air yang memanfaatkan potensi laut sebagai aset strategis bangsa?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya