Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

AEI: Lebih dari 800 Emiten Sampaikan Laporan Keberlanjutan, Hasil Evaluasi Terbit Juli 2026

Kompas.com, 22 Juli 2026, 15:41 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) mencatat lebih dari 800 perusahaan tercatat telah menyampaikan laporan keberlanjutan (sustainability report) hingga batas waktu pelaporan pada April 2026.

Direktur Eksekutif AEI Gilman Pradana Nugraha mengatakan jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 771 emiten.

"Tahun lalu ada 771 perusahaan yang menyampaikan laporan tepat waktu sebelum batas akhir April. Tahun ini jumlahnya sudah lebih dari 800 perusahaan. Data tersebut saat ini masih kami olah dan mudah-mudahan hasil evaluasinya dapat dirilis pada Juli ini," ujar Gilman dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).

Baca juga: OJK Targetkan Aturan Baru Laporan Keberlanjutan Berstandar Global Terbit pada 2026

Menurut Gilman, evaluasi tersebut bertujuan memetakan tingkat penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance atau ESG) di kalangan emiten, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pelaku pasar modal.

Ia mengatakan laporan keberlanjutan tidak lagi dipandang sekadar sebagai pemenuhan kewajiban regulasi, tetapi juga menjadi instrumen bagi perusahaan untuk mengukur kemajuan penerapan bisnis berkelanjutan.

"Melalui evaluasi ini kami ingin mengetahui posisi emiten Indonesia dalam penerapan ESG sehingga perusahaan dapat terus meningkatkan kualitas praktik keberlanjutannya," katanya.

Meski demikian, Gilman menilai tingkat kesiapan emiten masih beragam. Perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar umumnya telah lebih siap karena banyak berinteraksi dengan investor global yang menjadikan ESG sebagai salah satu pertimbangan investasi.

Sebaliknya, sebagian perusahaan berskala lebih kecil masih berfokus pada pemenuhan persyaratan minimum yang diwajibkan regulator.

Tantangan penyusunan

Gilman mengatakan terdapat tiga tantangan utama dalam penyusunan laporan keberlanjutan, yakni kualitas dan ketersediaan data ESG, keterbatasan sumber daya manusia yang memahami standar keberlanjutan, serta biaya kepatuhan yang relatif tinggi.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, AEI bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam penyusunan revisi Peraturan OJK Nomor 51 tentang Keuangan Berkelanjutan.

Selain itu, AEI juga mengembangkan sistem penilaian AEI ESG Scoring yang disusun dengan mengacu pada berbagai standar internasional, seperti MSCI, Bloomberg, dan S&P, kemudian disesuaikan dengan karakteristik pasar modal Indonesia.

AEI juga menggandeng Global Reporting Initiative (GRI) dan sejumlah perguruan tinggi untuk menyiapkan mahasiswa magang di perusahaan sebagai bagian dari penguatan kompetensi sumber daya manusia di bidang ESG.

Baca juga: Lestari Forum 2026: Sustainability Bagian dari Inti Bisnis

Berdasarkan hasil evaluasi periode sebelumnya, sebanyak 76,5 persen emiten telah memenuhi ekspektasi dalam penerapan ESG, sedangkan 16,7 persen lainnya dinilai melampaui ekspektasi. Sementara itu, sekitar 6,7 persen emiten masih memerlukan peningkatan.

Secara sektoral, sektor keuangan dan barang konsumen mencatat kinerja ESG terbaik secara keseluruhan.

Pada pilar lingkungan, sektor material dasar dan infrastruktur menjadi sektor dengan performa tertinggi. Di pilar sosial, sektor kesehatan dan keuangan mencatat nilai terbaik, sedangkan pada aspek tata kelola, sektor teknologi bersama sektor keuangan menjadi yang paling unggul.

Di sisi lain, sektor transportasi dan logistik masih menjadi sektor yang memerlukan peningkatan karena capaian ESG-nya relatif tertinggal dibandingkan sektor lainnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau