Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: Kelaparan Global Turun dalam 3 Tahun Belakangan

Kompas.com, 23 Juli 2026, 08:56 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Tingkat kelaparan di dunia terus menurun selama tiga tahun berturut-turut hingga tahun 2025.

Menurut laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2026 (SOFI 2026) yang dirilis PBB, ini membuktikan bahwa masalah kelaparan sebenarnya bisa diatasi.

Meski begitu, melansir Phys, Selasa (21/7/2026) perbaikannya masih sangat lambat, belum merata, dan belum cukup untuk mencapai target dunia bebas kelaparan pada tahun 2030.

Laporan tersebut mencatat sekitar 7,8 persen penduduk dunia atau sekitar 645 juta orang mengalami kelaparan pada tahun 2025. Angka ini turun dari 8,1 persen di tahun 2024. Artinya, ada sekitar 14 juta orang yang berhasil keluar dari masalah kelaparan dibandingkan tahun sebelumnya.

Penderita kelaparan terbanyak di Afrika

Meskipun ada kemajuan secara global, pemulihan dari masalah kelaparan belum merata di semua kawasan. Asia, bersama dengan Amerika Latin dan Karibia, mencatat perbaikan yang stabil dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga: PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah

Sebaliknya, Afrika kini menjadi wilayah dengan jumlah penderita kelaparan terbanyak, yaitu sekitar 309 juta orang, dibandingkan dengan Asia yang mencatat 292 juta orang.

Meski tren kelaparan di Afrika mulai stabil, turun sedikit dari 20,3 persen pada tahun 2024 menjadi 20,0 persen pada tahun 2025, benua ini tetap menampung jumlah orang lapar terbanyak di dunia akibat pertumbuhan jumlah penduduknya yang cepat.

Ukuran ketahanan pangan yang lebih luas menunjukkan hal serupa.

Pada tahun 2025, diperkirakan 25,8 persen penduduk dunia atau sekitar 2,1 miliar orang mengalami krisis pangan tingkat sedang hingga berat.

Artinya, mereka terpaksa mengurangi kualitas atau porsi makanan yang mereka makan. Angka ini sebenarnya sudah turun dari 27,1 persen pada tahun 2024 atau berkurang hampir 86 juta orang, tetapi angkanya masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi.

Ketimpangan antarwilayah masih sangat terlihat. Lebih dari separuh penduduk Afrika (56,6 persen) mengalami krisis pangan sedang hingga berat pada tahun 2025. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Asia (20,3 persen), Amerika Latin dan Karibia (22,9 persen), serta Amerika Utara dan Eropa (8,7 persen).

Masalah krisis pangan ini juga lebih sering terjadi di wilayah pedesaan daripada di perkotaan. Selain itu, kaum perempuan masih menjadi kelompok yang paling terdampak, meskipun celah perbedaannya dengan laki-laki sedikit membaik di tahun 2025.

"Laporan ini membuktikan bahwa kemajuan itu memungkinkan, tetapi kita harus bergerak lebih cepat. Untuk menghapus kelaparan dan membuat makanan sehat terjangkau oleh semua orang, dibutuhkan komitmen politik, investasi yang terus-menerus, dan kebijakan yang mendukung," ungkap Direktur Jenderal FAO, Qu Dongyu.

"Berbagai krisis belakangan ini, mulai dari bencana alam seperti pandami COVID-19 hingga bencana akibat ulah manusia seperti konflik di wilayah krisis, perang di Ukraina, krisis Gaza, dan gangguan di Selat Hormuz baru-baru ini menunjukkan daya tahan sistem pangan kita, sekaligus pentingnya memperkuat sistem tersebut agar bisa melayani masyarakat miskin, petani, dan konsumen dengan lebih baik," paparnya lagi.

Perkiraan kelaparan akibat konflik Timur Tengah

Laporan tahunan ini juga memperbarui perkiraan tingkat kelaparan untuk lima tahun ke depan akibat dampak konflik di Timur Tengah.

Baca juga: Kelaparan Global Bisa Diatasi dengan Kurang dari 1 Persen Anggaran Militer

Bergantung pada seberapa lama konflik tersebut memicu kenaikan harga bahan bakar dan pupuk yang berujung pada naiknya harga bahan pangan diperkirakan masih ada sekitar 510 hingga 520 juta orang yang mengalami kelaparan pada tahun 2030. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan awal sebesar 503 juta orang sebelum adanya konflik.

Meski begitu, jumlah orang yang kekurangan gizi secara global tetap diperkirakan akan turun sebesar 20 persen. Namun, potensi gangguan lain seperti cuaca ekstrem akibat El Niño pada tahun 2026 dan 2027 belum dihitung dalam perkiraan ini dan bisa saja memperburuk keadaan.

Para penulis laporan yang terdiri dari lima lembaga PBB yakni FAO, IFAD, UNICEF, WFP, dan WHO mengingatkan bahwa konflik Timur Tengah pada tahun 2026, cuaca ekstrem, serta berkurangnya dana bantuan kemanusiaan dapat merusak kemajuan yang telah dicapai dalam mengatasi kelaparan dunia.

"Di balik setiap angka dalam laporan ini, ada keluarga yang sedang pusing memikirkan tingginya harga makanan. Konflik dan perubahan iklim membuat kebutuhan hidup makin tak terjangkau bagi mereka. Kita harus terus bekerja sama dengan lembaga mitra, pemerintah, dan masyarakat untuk membangun sistem pangan yang tahan terhadap krisis, agar setiap keluarga tetap mampu membeli makanan bergizi meski di masa sulit. Kita butuh investasi yang terus-menerus untuk menghadapi tantangan yang besar ini," tambah Plt. Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau