Makanan dari hewan menjadi penyumbang biaya terbesar untuk pola makan sehat di Afrika, sedangkan di Amerika Latin dan Karibia biaya terbesarnya ada pada sayuran.
Selain itu rantai pasok makanan sangat menentukan harga akhir. Sebanyak 70–75 persen dari harga yang dibayar konsumen berasal dari biaya setelah panen, di mana hingga 40 persen dari total biaya tersebut dihabiskan untuk pengolahan, pengangkutan dan penjualan grosir. Oleh karena itu, meningkatkan efisiensi di jalur-jalur distribusi ini sangat penting, terutama untuk menurunkan harga makanan bergizi yang mudah rusak.
Untuk menurunkan harga makanan sehat, diperlukan kebijakan khusus yang disesuaikan dengan kondisi tiap daerah. Caranya adalah dengan memperbanyak pasokan makanan bergizi sekaligus memangkas biaya-biaya dalam rantai pasok makanan.
Hal ini mencakup investasi di bidang infrastruktur, penelitian, saluran irigasi, dan fasilitas ruang pendingin, serta perbaikan aturan subsidi, perdagangan, dan regulasi.
Baca juga: Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Langkah-langkah tepat sasaran yang meningkatkan hasil panen, mengurangi jumlah makanan yang terbuang, dan menerapkan cara tani yang ramah lingkungan dapat secara bersamaan meningkatkan gizi masyarakat, memperkuat daya tahan pangan, serta mendukung target iklim.
"Tugas kita menuju tahun 2030 memang sangat berat. Namun, menciptakan dunia di mana makanan sehat tidak lagi sulit dijangkau oleh satu dari tiga orang adalah hal yang sangat berharga untuk diperjuangkan," tulis laporan tersebut.
"Laporan SOFI menunjukkan bahwa harga makanan sehat terus naik dan hampir 2,7 miliar orang masih belum mampu membelinya. Rantai pasok makanan yang kuat harus menjadi jawaban utamanya. Tugas kita sekarang adalah mengubah data laporan ini menjadi investasi nyata, tentunya melalui kerja sama. Bersama-sama, kita bisa membangun rantai pasok, sistem pasar, dan perekonomian desa yang membuat makanan sehat terjangkau bagi semua orang," ungkap Presiden IFAD, Alvaro Lario.
"Setiap anak berhak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal, dan hal itu dimulai dari kemudahan mendapatkan makanan bergizi yang terjangkau. Laporan ini menjadi peringatan keras bahwa sistem pangan kita masih gagal memenuhi kebutuhan jutaan anak dan keluarga. Sektor pangan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan sosial harus berjalan berdampingan untuk melindungi anak-anak dan perempuan yang paling rentan dari krisis global," Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell menambahkan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya