Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Proyek Hibrida Berpotensi Mempercepat Transisi Energi Eropa

Kompas.com, 23 Juli 2026, 12:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Eropa bisa menambah kapasitas energi terbarukan secara signifikan tanpa harus membangun jaringan listrik baru, yaitu dengan memperbanyak proyek energi hibrida.

Hal ini terungkap dari riset terbaru lembaga pemikir energi, Ember.

Melansir Know ESG, Selasa (21/7/2026) studi tersebut memperkirakan ada sekitar  25 Gigawatt (GW) energi bersih tambahan yang bisa dihubungkan ke jaringan listrik Eropa yang sudah ada.

Temuan ini hadir di tengah banyaknya negara yang mengalami penundaan proyek energi terbarukan akibat keterbatasan kapasitas jaringan listrik.

Tantangan transisi energi Eropa

Jaringan listrik Eropa yang sudah tua kini menjadi salah satu penghambat terbesar dalam transisi energi di wilayah tersebut.

Meskipun pembangunan pembangkit listrik tenaga angin dan surya melonjak drastis dalam sepuluh tahun terakhir, perluasan jaringan listriknya tidak sanggup mengimbangi. Alhasil, banyak proyek energi bersih yang akhirnya tertahan dalam antrean panjang untuk bisa terhubung ke jaringan.

Baca juga: Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global

Lembaga Ember memperkirakan sekitar 120 Gigawatt (GW) rencana proyek energi terbarukan di seluruh Eropa saat ini terancam batal atau tertunda karena keterbatasan jaringan listrik. Beberapa negara seperti Austria, Bulgaria, Latvia, Belanda, Polandia, Portugal, Rumania, dan Slovakia termasuk yang mengalami krisis kapasitas paling parah.

Memperluas jaringan listrik biasanya memakan biaya yang sangat mahal dan waktu yang lama, serta sering kali terhambat oleh izin yang rumit. Ember menilai bahwa sistem hibrida bisa menjadi solusi yang lebih cepat dan praktis.

Proyek hibrida menggabungkan beberapa teknologi energi bersih sekaligus seperti tenaga angin, surya, dan baterai penyimpan energi dalam satu sambungan listrik yang sama.

Cara ini membuat pengembang bisa memanfaatkan jaringan listrik yang ada secara maksimal tanpa harus menunggu pembangunan saluran transmisi baru.

Aplikasi proyek hibrida

Laporan tersebut menyoroti bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sangat cocok untuk dijadikan proyek hibrida karena sambungan listriknya sering kali tidak terpakai secara maksimal sepanjang hari.

Dengan menambahkan panel surya atau kincir angin di lokasi PLTA tersebut, fasilitas listrik yang ada bisa digunakan jauh lebih efisien tanpa melebihi batas kapasitas yang ditentukan.

Elisabeth Cremona dari lembaga Ember menyatakan bahwa target energi bersih yang besar tidak akan tercapai jika penyaluran listrik terbarukan terus terhambat oleh antrean sambungan.

Ia menjelaskan bahwa sistem hibrida memberi solusi cepat bagi negara-negara yang mengalami kemacetan jaringan listrik tanpa perlu merombak atau menambah jaringan baru. Menurut Ember, cara ini rata-rata bisa melipatgandakan penggunaan sambungan listrik yang sudah ada.

Beberapa proyek berskala besar sudah membuktikan potensi dari model hibrida ini.

Baca juga: Indonesia Perkuat Posisi sebagai Tujuan Strategis Investasi Aksi Iklim dan Transisi Energi

Pada Januari 2026, perusahaan listrik Portugal, EDP, mengoperasikan proyek energi terbarukan hibrida sebesar 89 Megawatt (MW) di bendungan Pracana. Fasilitas ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 48 MW yang memiliki sekitar 90.000 panel surya dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 41 MW yang sudah beroperasi sejak tahun 1951.

Perusahaan menyatakan bahwa proyek ini meningkatkan kestabilan sistem, mendukung transisi energi, dan menghemat penggunaan lahan dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada secara maksimal.

Baru-baru ini, perusahaan Iberdrola juga meluncurkan proyek angin Tâmega Norte sebesar 195 MW, yang dihubungkan dengan Sistem PLTA Tâmega. Perusahaan menyebutnya sebagai proyek hibrida angin-air pertama di Semenanjung Iberia. Dengan menggabungkan tenaga angin dan penyimpanan air, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produksi listrik bersih, memperkuat keandalan jaringan, serta mendukung perluasan penggunaan listrik.

Di saat Eropa berupaya mempercepat transisi energi bersihnya, proyek hibrida hadir sebagai cara praktis untuk menambah kapasitas energi terbarukan tanpa perlu membangun jaringan listrik baru dari nol.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau