KOMPAS.com - Eropa bisa menambah kapasitas energi terbarukan secara signifikan tanpa harus membangun jaringan listrik baru, yaitu dengan memperbanyak proyek energi hibrida.
Hal ini terungkap dari riset terbaru lembaga pemikir energi, Ember.
Melansir Know ESG, Selasa (21/7/2026) studi tersebut memperkirakan ada sekitar 25 Gigawatt (GW) energi bersih tambahan yang bisa dihubungkan ke jaringan listrik Eropa yang sudah ada.
Temuan ini hadir di tengah banyaknya negara yang mengalami penundaan proyek energi terbarukan akibat keterbatasan kapasitas jaringan listrik.
Jaringan listrik Eropa yang sudah tua kini menjadi salah satu penghambat terbesar dalam transisi energi di wilayah tersebut.
Meskipun pembangunan pembangkit listrik tenaga angin dan surya melonjak drastis dalam sepuluh tahun terakhir, perluasan jaringan listriknya tidak sanggup mengimbangi. Alhasil, banyak proyek energi bersih yang akhirnya tertahan dalam antrean panjang untuk bisa terhubung ke jaringan.
Baca juga: Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Lembaga Ember memperkirakan sekitar 120 Gigawatt (GW) rencana proyek energi terbarukan di seluruh Eropa saat ini terancam batal atau tertunda karena keterbatasan jaringan listrik. Beberapa negara seperti Austria, Bulgaria, Latvia, Belanda, Polandia, Portugal, Rumania, dan Slovakia termasuk yang mengalami krisis kapasitas paling parah.
Memperluas jaringan listrik biasanya memakan biaya yang sangat mahal dan waktu yang lama, serta sering kali terhambat oleh izin yang rumit. Ember menilai bahwa sistem hibrida bisa menjadi solusi yang lebih cepat dan praktis.
Proyek hibrida menggabungkan beberapa teknologi energi bersih sekaligus seperti tenaga angin, surya, dan baterai penyimpan energi dalam satu sambungan listrik yang sama.
Cara ini membuat pengembang bisa memanfaatkan jaringan listrik yang ada secara maksimal tanpa harus menunggu pembangunan saluran transmisi baru.
Laporan tersebut menyoroti bahwa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sangat cocok untuk dijadikan proyek hibrida karena sambungan listriknya sering kali tidak terpakai secara maksimal sepanjang hari.
Dengan menambahkan panel surya atau kincir angin di lokasi PLTA tersebut, fasilitas listrik yang ada bisa digunakan jauh lebih efisien tanpa melebihi batas kapasitas yang ditentukan.
Elisabeth Cremona dari lembaga Ember menyatakan bahwa target energi bersih yang besar tidak akan tercapai jika penyaluran listrik terbarukan terus terhambat oleh antrean sambungan.
Ia menjelaskan bahwa sistem hibrida memberi solusi cepat bagi negara-negara yang mengalami kemacetan jaringan listrik tanpa perlu merombak atau menambah jaringan baru. Menurut Ember, cara ini rata-rata bisa melipatgandakan penggunaan sambungan listrik yang sudah ada.
Beberapa proyek berskala besar sudah membuktikan potensi dari model hibrida ini.
Baca juga: Indonesia Perkuat Posisi sebagai Tujuan Strategis Investasi Aksi Iklim dan Transisi Energi
Pada Januari 2026, perusahaan listrik Portugal, EDP, mengoperasikan proyek energi terbarukan hibrida sebesar 89 Megawatt (MW) di bendungan Pracana. Fasilitas ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 48 MW yang memiliki sekitar 90.000 panel surya dengan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 41 MW yang sudah beroperasi sejak tahun 1951.
Perusahaan menyatakan bahwa proyek ini meningkatkan kestabilan sistem, mendukung transisi energi, dan menghemat penggunaan lahan dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah ada secara maksimal.
Baru-baru ini, perusahaan Iberdrola juga meluncurkan proyek angin Tâmega Norte sebesar 195 MW, yang dihubungkan dengan Sistem PLTA Tâmega. Perusahaan menyebutnya sebagai proyek hibrida angin-air pertama di Semenanjung Iberia. Dengan menggabungkan tenaga angin dan penyimpanan air, proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produksi listrik bersih, memperkuat keandalan jaringan, serta mendukung perluasan penggunaan listrik.
Di saat Eropa berupaya mempercepat transisi energi bersihnya, proyek hibrida hadir sebagai cara praktis untuk menambah kapasitas energi terbarukan tanpa perlu membangun jaringan listrik baru dari nol.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya