JAKARTA, KOMPAS.com - Ketika dentuman musik berhenti dan lampu panggung dipadamkan, biasanya hanya ada satu pemandangan yang tersisa di area festival: gelas plastik, bungkus makanan, dan sampah yang menggunung.
Pemandangan itulah yang selama bertahun-tahun mengusik pikiran Founder Rock In Celebes, Hardinansyah Putra Siji. Baginya, sulit menikmati kesuksesan sebuah festival ketika ribuan sampah justru menjadi jejak yang ditinggalkan setelah para penonton pulang.
"Saya sering sedih melihat konser yang diproduksi dengan sangat baik, tetapi berakhir dengan sampah yang berserakan," kata Hardinansyah dalam Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).
Baca juga: Konser Metal di Solo Turut Suarakan Krisis Iklim dan Ketimpangan
Kegelisahan itu kemudian mengubah cara Rock In Celebes memandang sebuah festival musik. Bukan hanya sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai ruang untuk mengubah perilaku.
Alih-alih berfokus pada kegiatan bersih-bersih setelah acara selesai, Rock In Celebes memilih mengurangi sampah sejak awal melalui desain penyelenggaraan yang berbeda.
Salah satu perubahan paling mencolok adalah menghapus penggunaan gelas plastik sekali pakai. Sebagai gantinya, penyelenggara menerapkan sistem deposit sebesar Rp 10.000.
Pengunjung yang tidak membawa tumbler dapat meminjam gelas festival dengan membayar deposit. Gelas itu digunakan sepanjang acara. Setelah konser usai, mereka dapat mengembalikannya untuk memperoleh kembali uang deposit atau membawanya pulang sebagai cendera mata.
Skema sederhana itu ternyata mampu mengubah kebiasaan penonton sekaligus memangkas penggunaan plastik di area makanan dan minuman, yang selama ini menjadi penyumbang sampah terbesar di festival.
Sekitar dua pekan sebelum acara berlangsung, Rock In Celebes membuka area makan bagi kru panggung, vendor, hingga teknisi suara dan pencahayaan. Mereka tidak lagi mengandalkan makanan dalam kemasan plastik maupun air minum gelas sekali pakai.
"Ternyata para pekerja sekarang membawa tumbler sendiri. Mereka merasa lebih nyaman karena bisa makan di tempat yang layak," ujar Hardinansyah.
Perubahan lain terlihat pada dekorasi festival. Material vinil yang lazim digunakan untuk panggung dan papan informasi mulai diganti dengan bahan kain yang lebih mudah dimanfaatkan kembali.
Menurut Hardinansyah, langkah tersebut membuktikan festival tetap dapat menghadirkan pengalaman visual yang menarik tanpa harus bergantung pada material yang sulit didaur ulang.
Hasilnya mulai terlihat. Pada penyelenggaraan Rock In Celebes tahun lalu, produksi sampah berhasil ditekan hingga sekitar 80 persen dibandingkan sebelumnya.
Baca juga: Nonton Konser di Luar Negeri, Ini yang Perlu Disiapkan
"Tahun kemarin kami merasa dosanya sangat sedikit," kata Hardinansyah sambil tersenyum.
Namun, bagi Rock In Celebes, pengurangan sampah bukanlah tujuan akhir.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya