Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satelit Bisa Deteksi Metana Secara Real-Time, Tapi Dibiarkan Tanpa Penanganan

Kompas.com, 24 Juli 2026, 19:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Satelit kini bisa mendeteksi kebocoran besar gas metana dari luar angkasa hanya dalam hitungan hari.

Namun, melansir laman resmi United Nations, Kamis (23/7/2026) hanya 13 persen dari peringatan tersebut yang benar-benar ditindaklanjuti oleh pemerintah atau perusahaan yang bertanggung jawab.

Program Lingkungan PBB (UNEP) ingin mengatasi masalah ini. Bulan lalu, dengan dukungan dari Bloomberg Philanthropies, UNEP mengumumkan program baru untuk membantu negara menyelidiki dan memperbaiki setidaknya 80 persen kebocoran besar yang terdeteksi pada tahun 2030.

Baca juga: UE Usul Tunda Penerapan Denda Aturan Metana Hingga Tiga Tahun

Saat ini, baru 10 negara di dunia yang aktif merespons dan menangani kebocoran metana tersebut.

Gas metana bertanggung jawab atas sekitar sepertiga dari pemanasan global saat ini. Berbeda dengan karbon dioksida, metana tidak bertahan lama di atmosfer. Ini berarti memangkas emisi metana dari sekarang dapat memberikan dampak positif bagi iklim dalam hitungan tahun, bukan puluhan tahun.

"Karbon dioksida memang tetap menjadi penyebab utama pemanasan jangka panjang. Namun, sekarang saatnya kita juga memprioritaskan pemotongan gas metana," ujar Sekretaris Jenderal PBB António Guterres.

"Pemotongan emisi secara drastis dapat memberikan penurunan suhu yang nyata hanya dalam satu generasi," katanya lagi.

Lebih dari 60 persen emisi metana berasal dari aktivitas manusia, terutama sektor pertanian, bahan bakar fosil, dan sampah. Sektor bahan bakar fosil menawarkan peluang tercepat dan paling hemat biaya untuk mengurangi emisi tersebut.

Sistem peringatan untuk melacak kebocoran gas metana

Sistem Peringatan dan Respon Metana (MARS) milik UNEP menggunakan data satelit untuk melacak kebocoran besar gas metana secara hampir real-time. Sistem ini langsung memberi tahu pemerintah dan pengelola fasilitas agar mereka bisa menyelidiki dan memperbaikinya.

Sejak diluncurkan pada tahun 2023, sistem ini telah mengirimkan lebih dari 5.000 peringatan di 33 negara, dan membantu mendorong lebih dari 40 perbaikan yang telah terverifikasi.

Misalnya di Aljazair, satu peringatan berhasil memperbaiki kebocoran yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Dampak baiknya bagi iklim setara dengan menyingkirkan setengah juta mobil dari jalanan setiap tahunnya.

Namun, terlepas dari keberhasilan teknologi tersebut, baru 13 persen dari seluruh peringatan yang benar-benar ditanggapi oleh negara atau pengelola yang diberi tahu.

“Kita sekarang bisa melihat pencemaran metana begitu itu terjadi, secara hampir real-time, dari luar angkasa. Dengan kemampuan canggih ini, tidak bertindak bukanlah masalah lupa atau tidak tahu tetapi sebuah pilihan,” ujar Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen.

Tindakan lebih cepat dan berani

Program yang diperluas ini akan memperkuat bantuan teknis bagi pemerintah, mempermudah akses ke data emisi metana, serta membantu berbagai negara meningkatkan kemampuan untuk menyelidiki dan merespons kebocoran dengan lebih cepat.

Baca juga: Emisi Melejit, Bakteri Pemakan Metana Kewalahan

“Memangkas emisi metana adalah salah satu langkah terpenting yang bisa kita lakukan untuk mengatasi perubahan iklim sekaligus salah satu cara yang paling mudah dan hemat biaya,” ujar Michael Bloomberg, pendiri Bloomberg Philanthropies yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus PBB untuk Ambisi dan Solusi Iklim.

“Kita sudah punya data yang dibutuhkan untuk menghentikan kebocoran metana, dan sekarang kita sedang membantu negara-negara mengubah data tersebut menjadi tindakan yang lebih cepat dan berani,” tambahnya.

Selain itu, komitmen yang lebih kuat dari pemerintah dan pengelola tambang atau pabrik sangat penting untuk menutup celah kelambatan ini. Langkah-langkah ini bertujuan agar negara-negara bisa mengambil kesempatan ini demi memperlambat laju perubahan iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau