KOMPAS.com - Permintaan listrik dunia diperkirakan akan tumbuh 3,6 persen pada tahun 2026 dibanding tahun lalu, yang berpotensi membuat emisi karbon dioksida (CO2) naik 1 persen pada periode yang sama, menurut analisis terbaru.
Melansir Edie, Jumat (24/7/2026) berdasarkan laporan pertengahan tahun dari Badan Energi Internasional (IEA), kebutuhan listrik diprediksi akan meningkat lagi sebesar 3,8 persen pada tahun 2027. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kenaikan sebesar 3 persen yang terjadi pada tahun 2025.
Meningkatnya kebutuhan listrik ini didorong oleh penggunaan listrik di sektor industri yang terus bertambah, pesatnya perkembangan mobil listrik (EV), tingginya penggunaan pendingin udara dan pemanas ruang, serta melonjaknya kapasitas pusat data.
Baca juga: ITS Kembangkan Traktor Perahu Listrik, Ubah Pertanian di Lahan Gambut Jadi Lebih Ramah Lingkungan
Pada tahun 2050, pusat data diperkirakan akan menyedot hampir 9 persen dari total kebutuhan listrik dunia sebagai dampak dari pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang terus berlanjut.
Di China sendiri kebutuhan listrik diprediksi naik 5,5 persen tahun ini, sementara India diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 7 persen. Di Amerika Serikat dan Uni Eropa, pertumbuhannya diproyeksikan sebesar 2 persen.
Tahun depan, total kebutuhan listrik dunia diperkirakan akan mencapai 30.700 terawatt-jam (TWh), menurut IEA, naik dari 28.600 TWh pada tahun 2025.
Selain itu, saat harga gas melonjak akibat ketegangan di Timur Tengah dan terganggunya jalur perdagangan gas alam cair (LNG) melalui Selat Hormuz, banyak negara di Eropa dan Asia beralih ke batu bara untuk menutupi kekurangan pasokan energi. Hal inilah yang menyebabkan emisi dari sektor listrik meningkat.
Meskipun penggunaan batu bara meningkat tahun ini, laporan tersebut menekankan bahwa terus bertambahnya energi terbarukan membantu meredam dampak dari krisis energi ini.
Energi terbarukan bahkan masih berada di jalur yang tepat untuk melampaui batu bara dalam gabungan sumber listrik global pada tahun 2026.
Pada tahun 2025, sebanyak 692 gigawatt (GW) kapasitas energi terbarukan berhasil ditambahkan ke jaringan listrik dunia, naik 15,5 persen dari tahun sebelumnya sekaligus mencatatkan rekor penambahan tahunan terbesar sepanjang sejarah.
Baca juga: Satu Abad Panas Bumi Indonesia, Pemanfaatannya Didorong Tak Lagi Sekadar untuk Listrik
Hal ini membuat total kapasitas energi terbarukan terpasang di dunia mencapai rekor baru sebesar 5.149 GW.
Tahun ini, produksi listrik dari energi terbarukan diperkirakan tumbuh lebih dari 8 persen. Porsinya dalam penyediaan listrik dunia diproyeksikan mencapai 37 persen pada tahun 2027, naik dari 33 persen pada tahun lalu.
Tenaga surya menyumbang 75 persen dari seluruh penambahan kapasitas energi terbarukan pada tahun 2025, dengan kapasitas baru terpasang mencapai lebih dari 511 GW.
Menurut IEA, tenaga surya kemungkinan besar akan terus berkembang pesat dalam beberapa tahun ke depan. Tenaga surya bahkan diperkirakan bakal menyalip tenaga angin tahun ini untuk menjadi sumber listrik terbarukan terbesar kedua di dunia, tepat di bawah tenaga air (PLTA).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya