Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

CEO KG: Jurnalisme Solusi dan Isu Keberlanjutan Jadi Peluang Baru di Tengah Tren "News Avoidance"

Kompas.com, 27 Juli 2026, 18:48 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Tren masyarakat yang mulai menghindari konsumsi berita (news avoidance) dan menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap media menjadi tantangan baru bagi industri pers.

Di tengah kondisi tersebut, jurnalisme berbasis solusi (solutions journalism) dan peliputan isu keberlanjutan dinilai menjadi peluang untuk kembali membangun kedekatan dengan audiens.

CEO Kompas Gramedia Andy Budiman Kumala mengatakan perubahan perilaku konsumsi informasi membuat media perlu menghadirkan pemberitaan yang lebih relevan, berpusat pada manusia, dan menawarkan perspektif solusi.

"Di tengah tantangan ini, masih ada peluang bagi media yang mampu menyampaikan cerita yang relevan secara pribadi dan berpusat pada manusia, serta mengembangkan jurnalisme yang berfokus pada solusi. Agenda keberlanjutan seperti perubahan iklim, kesehatan mental, dan kesejahteraan juga sangat beresonansi, khususnya dengan kelompok muda," ujar Andy dalam Opening Ceremony The 9th Sustainability Action for the Future Impact (SAMI) yang diselenggarakan Departemen Manajemen FEM IPB University, Senin (27/7/2026).

Baca juga: AHY: Pertumbuhan Ekonomi Harus Diimbangi Keberlanjutan Lingkungan

Pernyataan tersebut merujuk pada temuan Digital News Report dari Reuters Institute yang menunjukkan semakin banyak masyarakat secara sengaja membatasi konsumsi berita.

Laporan itu mencatat isu-isu seperti politik, konflik bersenjata, dan persoalan sosial mulai dihindari karena dianggap melelahkan, memicu kecemasan, dan menghadirkan informasi yang cenderung berulang.

Menurut Andy, kondisi tersebut semakin terasa di kalangan generasi muda. Selain menghadapi ketidakpastian ekonomi dan konflik global, sebagian anak muda juga menilai konsumsi berita dapat memicu stres maupun polarisasi dalam hubungan sosial.

Isu Keberlanjutan

Di sisi lain, meningkatnya perhatian publik terhadap isu keberlanjutan membuka peluang baru bagi industri media.

Andy mengatakan kebutuhan dunia usaha untuk mengomunikasikan program keberlanjutan secara kredibel terus meningkat, seiring dengan semakin kuatnya pengawasan publik terhadap praktik greenwashing atau klaim keberlanjutan yang menyesatkan.

Berdasarkan studi Kompas, sekitar 90 persen responden menilai perusahaan perlu mengungkapkan program keberlanjutan yang dijalankan.

Namun, penelitian tersebut juga menemukan adanya kesenjangan antara harapan dan tingkat pengetahuan masyarakat. Hanya sekitar 62 persen responden yang mengetahui perusahaan memiliki inisiatif dalam mengatasi persoalan lingkungan dan sosial.

Akibatnya, masyarakat cenderung berasumsi perusahaan tidak melakukan upaya apa pun ketika informasi mengenai program keberlanjutan tidak tersampaikan dengan baik.

"Dari responden yang tidak mengetahui adanya inisiatif keberlanjutan perusahaan, sekitar 73 persen beranggapan perusahaan tidak peduli terhadap isu tersebut. Padahal, belum tentu demikian. Tantangannya adalah bagaimana perusahaan mengomunikasikan upaya yang benar-benar mereka lakukan," kata Andy.

Menurut dia, komunikasi keberlanjutan menjadi semakin penting karena turut memengaruhi persepsi konsumen terhadap sebuah merek.

Baca juga: AEI: Lebih dari 800 Emiten Sampaikan Laporan Keberlanjutan, Hasil Evaluasi Terbit Juli 2026

Ia mengutip hasil studi lain yang menunjukkan hampir 70 persen konsumen bersedia beralih ke produk yang menerapkan prinsip environmental, social, and governance (ESG) selama kualitasnya setara dengan produk yang digunakan saat ini. Bahkan, sebagian konsumen mengaku bersedia membayar lebih untuk produk yang dinilai memiliki praktik keberlanjutan yang baik.

Meski demikian, Andy mengingatkan bahwa komunikasi keberlanjutan harus dilakukan secara kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan.

Ia mencontohkan kasus "Dieselgate" yang melibatkan Volkswagen pada 2015 sebagai salah satu contoh praktik greenwashing yang berdampak besar terhadap reputasi perusahaan.

Karena itu, menurut Andy, perusahaan tidak cukup hanya mengomunikasikan aktivitas keberlanjutan, tetapi juga perlu mengukur dampaknya terhadap perubahan persepsi publik maupun perilaku konsumen.

Ia menilai kerangka pengukuran dari International Association for Measurement and Evaluation of Communication (AMEC) dapat menjadi salah satu acuan untuk memastikan komunikasi keberlanjutan benar-benar memberikan dampak, bukan sekadar menghasilkan publikasi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau