Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pulau Tropis Diintai Risiko Panas Lembap Berbahaya

Kompas.com, 27 Juli 2026, 18:49 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Jutaan orang yang tinggal di pulau-pulau tropis terancam menghadapi suhu panas yang makin berbahaya di masa depan, seiring perubahan iklim yang membuat cuaca panas dan lembap berlangsung lebih lama serta makin parah.

Melansir Phys, Jumat (24/7/2026) meskipun kenaikan suhu sering disebut sebagai dampak utama perubahan iklim, faktor kelembapan sebenarnya memegang peran sangat penting dalam menentukan sejauh mana tubuh manusia mampu menahan panas.

Saat udara sudah terlalu lembap, keringat kita sulit menguap, sehingga tubuh menjadi makin susah untuk mendinginkan diri.

Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters menemukan bahwa pulau-pulau yang berada paling dekat dengan garis khatulistiwa berisiko mengalami lonjakan bahaya panas lembap paling tinggi.

Jika emisi gas rumah kaca terus tinggi, cuaca panas ekstrem yang dulunya hanya terjadi sekali dalam sepuluh tahun diproyeksikan bakal terjadi setiap tahun pada tahun 2100. Bahkan, gelombang panas lembap yang berbahaya bisa melanda sejumlah pulau selama sekitar 300 hari dalam setahun.

Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem

Risiko iklim tersembunyi di pulau-pulau kecil

Pulau-pulau tropis memang sudah menjadi salah satu wilayah terpanas di Bumi, tetapi risiko ancaman panas di masa depannya jauh lebih sulit dinilai dibandingkan wilayah daratan yang luas.

Banyak model iklim dunia tidak cukup detail untuk memetakan iklim di pulau-pulau kecil, sehingga wilayah pulau sering kali dianggap sebagai samudra, bukan daratan.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Lilian Bald, peneliti doktoral dari Pusat Penelitian Meteorologi Nasional Prancis bersama rekan-rekannya menggabungkan data dari 15 model iklim dunia dengan hasil pengamatan dari stasiun cuaca di 17 pulau tropis yang tersebar di Samudra Atlantik, Hindia, dan Pasifik.

Mereka kemudian menghitung perubahan Indeks Panas (Heat Index), yaitu standar ukur dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) yang menggabungkan suhu dan kelembapan udara untuk menggambarkan seberapa panas suhu yang dirasakan oleh tubuh manusia.

Para peneliti melihat dua jenis ancaman yakni cuaca panas lembap ekstrem yang langka, serta gelombang panas lembap berdurasi panjang.

Gelombang panas yang panjang ini mungkin suhunya tidak terlalu tinggi, tetapi tetap berbahaya karena tubuh manusia tidak punya waktu untuk memulihkan diri jika terus-menerus terpapar panas.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa panas lembap ekstrem diperkirakan bakal makin parah di semua pulau yang diteliti, terutama wilayah yang makin dekat dengan garis khatulistiwa.

Antara tahun 2076 hingga 2100, para peneliti menemukan bahwa tingkat keparahan iklim ini bisa mencapai tingkat Indeks Panas sekitar 46 derajat C hingga 63 derajat C jika emisi gas rumah kaca berada pada tingkat tertinggi.

NOAA mengategorikan Indeks Panas di atas 40 derajat C sebagai level "Bahaya", di mana berada di luar ruangan terlalu lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat panas. Jika nilainya makin tinggi, kondisinya bahkan bisa mengancam jiwa.

Tim peneliti juga menemukan bahwa gelombang panas lembap yang berlangsung lama akan terjadi jauh lebih sering. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena tubuh manusia akan kesulitan memulihkan stamina jika suhu tinggi dan kelembapan bertahan terus-menerus dari hari ke hari.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
Harga Minyak Naik, Indonesia Berisiko Rugi Rp 231 Triliun hingga Akhir 2026
LSM/Figur
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Ilmuwan: Suhu Lautan Dunia Catat Rekor Terpanas sepanjang Bulan Juli
Pemerintah
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
Penghijauan di Bandung Tak Cukup dengan Tanam Pohon, Harus Terhubung Jadi Koridor Hijau
LSM/Figur
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Kabar Baik, Angka Kerusakan Hutan Amazon Catat Rekor Terendah
Pemerintah
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
IPB: Populasi Orang Utan Sumatra Turun dan Masuk Keadaan Darurat Konservasi
LSM/Figur
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Perubahan Iklim Perpanjang Durasi Panas Ekstrem hingga 4 Jam per Hari
Pemerintah
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
Pangan yang Dikonsumsi di Indonesia Didominasi Tanaman 'Naturalisasi' dari Amerika Latin
LSM/Figur
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Bank Dunia: 520 Juta Warga Asia Selatan Terancam Panas Ekstrem Mematikan
Pemerintah
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Sempat Reda Pascapandemi, Angka Pengangguran Usia Muda Kini Naik Lagi
Pemerintah
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
Harga Minyak Naik, APBN Tertekan, Saatnya Indonesia Percepat Energi Bersih
LSM/Figur
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau