KOMPAS.com - Jutaan orang yang tinggal di pulau-pulau tropis terancam menghadapi suhu panas yang makin berbahaya di masa depan, seiring perubahan iklim yang membuat cuaca panas dan lembap berlangsung lebih lama serta makin parah.
Melansir Phys, Jumat (24/7/2026) meskipun kenaikan suhu sering disebut sebagai dampak utama perubahan iklim, faktor kelembapan sebenarnya memegang peran sangat penting dalam menentukan sejauh mana tubuh manusia mampu menahan panas.
Saat udara sudah terlalu lembap, keringat kita sulit menguap, sehingga tubuh menjadi makin susah untuk mendinginkan diri.
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Geophysical Research Letters menemukan bahwa pulau-pulau yang berada paling dekat dengan garis khatulistiwa berisiko mengalami lonjakan bahaya panas lembap paling tinggi.
Jika emisi gas rumah kaca terus tinggi, cuaca panas ekstrem yang dulunya hanya terjadi sekali dalam sepuluh tahun diproyeksikan bakal terjadi setiap tahun pada tahun 2100. Bahkan, gelombang panas lembap yang berbahaya bisa melanda sejumlah pulau selama sekitar 300 hari dalam setahun.
Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Pulau-pulau tropis memang sudah menjadi salah satu wilayah terpanas di Bumi, tetapi risiko ancaman panas di masa depannya jauh lebih sulit dinilai dibandingkan wilayah daratan yang luas.
Banyak model iklim dunia tidak cukup detail untuk memetakan iklim di pulau-pulau kecil, sehingga wilayah pulau sering kali dianggap sebagai samudra, bukan daratan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, Lilian Bald, peneliti doktoral dari Pusat Penelitian Meteorologi Nasional Prancis bersama rekan-rekannya menggabungkan data dari 15 model iklim dunia dengan hasil pengamatan dari stasiun cuaca di 17 pulau tropis yang tersebar di Samudra Atlantik, Hindia, dan Pasifik.
Mereka kemudian menghitung perubahan Indeks Panas (Heat Index), yaitu standar ukur dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) yang menggabungkan suhu dan kelembapan udara untuk menggambarkan seberapa panas suhu yang dirasakan oleh tubuh manusia.
Para peneliti melihat dua jenis ancaman yakni cuaca panas lembap ekstrem yang langka, serta gelombang panas lembap berdurasi panjang.
Gelombang panas yang panjang ini mungkin suhunya tidak terlalu tinggi, tetapi tetap berbahaya karena tubuh manusia tidak punya waktu untuk memulihkan diri jika terus-menerus terpapar panas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa panas lembap ekstrem diperkirakan bakal makin parah di semua pulau yang diteliti, terutama wilayah yang makin dekat dengan garis khatulistiwa.
Antara tahun 2076 hingga 2100, para peneliti menemukan bahwa tingkat keparahan iklim ini bisa mencapai tingkat Indeks Panas sekitar 46 derajat C hingga 63 derajat C jika emisi gas rumah kaca berada pada tingkat tertinggi.
NOAA mengategorikan Indeks Panas di atas 40 derajat C sebagai level "Bahaya", di mana berada di luar ruangan terlalu lama dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat panas. Jika nilainya makin tinggi, kondisinya bahkan bisa mengancam jiwa.
Tim peneliti juga menemukan bahwa gelombang panas lembap yang berlangsung lama akan terjadi jauh lebih sering. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena tubuh manusia akan kesulitan memulihkan stamina jika suhu tinggi dan kelembapan bertahan terus-menerus dari hari ke hari.
Jika emisi gas rumah kaca terus berada pada level tertinggi, pulau-pulau yang dekat dengan garis khatulistiwa diprediksi bakal mengalami kondisi panas lembap yang berbahaya selama 160 hingga 320 hari setiap tahunnya pada akhir abad ini.
Baca juga: Dampak Pemanasan Samudra, Ukuran Hewan Laut Terus Mengecil
Alasan utama mengapa pulau-pulau di garis khatulistiwa sangat rentan adalah karena wilayah ini sejak awal memang tidak memiliki perubahan musim yang drastis. Saat suhu bumi makin panas, jumlah hari atau bulan yang sejuk makin berkurang untuk menyelingi cuaca panas, sehingga kondisi yang berbahaya tersebut bisa berlangsung jauh lebih lama tanpa henti.
Bagi penduduk yang tinggal di pulau-pulau tropis, perubahan ini bisa menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Panas lembap yang ekstrem dapat memicu kelelahan akibat panas, serangan panas, hingga hipertermia yang merupakan kondisi ketika suhu inti tubuh naik melampaui batas aman.
Kondisi ini bisa berakibat fatal atau mematikan, bahkan bagi orang dewasa yang masih muda dan sehat.
Ancaman ini tidak hanya berdampak pada kesehatan. Banyak masyarakat kepulauan yang saat ini sudah harus berjuang menghadapi tekanan iklim lain, seperti naiknya permukaan air laut, krisis air bersih, dan cuaca ekstrem.
Baca juga: Laporan PBB: Panas Ekstrem Kini Jadi Ancaman Besar bagi Pangan Dunia
Ini berarti lonjakan suhu panas akan menjadi beban berat tambahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tim peneliti memperingatkan bahwa beberapa pulau bisa mengalami kondisi yang makin sulit dan berbahaya bagi warganya untuk bekerja, bepergian, atau beraktivitas di luar ruangan tanpa adanya adaptasi.
Lantas, bisakah masa depan dengan emisi rendah membantu? Penelitian ini menemukan bahwa jika kita berhasil mengurangi emisi, suhu panas yang lembap memang akan tetap terjadi, tetapi perubahannya jauh lebih kecil dan tidak separah jika emisi terus dibiarkan tinggi.
Oleh karena itu, mengurangi emisi gas rumah kaca dapat membantu membatasi seberapa sering cuaca berbahaya itu terjadi. Sementara itu, langkah-langkah adaptasi seperti sistem peringatan dini gelombang panas, kemudahan akses pendingin udara, dan bangunan yang lebih tahan panas bisa membantu masyarakat bertahan menghadapi kenaikan suhu.
Seiring berlanjutnya perubahan iklim, para peneliti menyarankan agar pulau-pulau kecil tropis tidak lagi diabaikan dalam pemetaan risiko panas dunia. Meskipun wilayah mereka hanya sebagian kecil dari daratan Bumi, pulau-pulau ini bisa menjadi peringatan dini tentang bahaya yang akan dibawa oleh cuaca panas lembap di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya