KOMPAS.com -Sebuah penelitian internasional terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature Food mengungkapkan bahwa usia memiliki peran penting yang sering terabaikan dalam memicu emisi gas rumah kaca dari sektor makanan.
Melansir Phys, Rabu (22/7/2026) penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah emisi dari makanan yang kita konsumsi bisa sangat berbeda di setiap tahap usia seseorang. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan kebutuhan gizi, perubahan jumlah penduduk, serta pola makan yang terus berubah.
Oleh karena itu, langkah untuk mengurangi emisi dari makanan perlu menyesuaikan dengan kelompok usia.
Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti internasional yang dipimpin universitas University of Groningen (ESRIG) ini meneliti emisi dari pola makan dan kualitas gizi di 149 negara, 22 kelompok usia, serta lima periode waktu dari tahun 2000 hingga 2019.
Baca juga: WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
Penelitian tersebut menemukan bahwa remaja dan dewasa muda secara konsisten menghasilkan emisi gas rumah kaca tertinggi per orang dari makanan yang mereka konsumsi.
Di sisi lain, meningkatnya jumlah lansia menjadi pemicu yang makin penting terhadap total emisi dari sektor pangan.
"Lansia sering dianggap memberikan sumbangan emisi karbon yang lebih tinggi. Namun, kami menemukan pola yang sedikit berbeda. Meningkatnya emisi dari kelompok lansia lebih disebabkan oleh jumlah populasi lansia yang makin banyak, bukan karena pola makan mereka yang tinggi emisi karbon," kata Yanxian Li, peneliti dari riset ini.
"Memahami siapa yang menyumbang emisi dari makanan sangat penting untuk merancang solusi iklim yang efektif. Oleh karena itu, pola makan yang ramah lingkungan harus mempertimbangkan perbedaan tingkat usia, kebutuhan gizi, dan kondisi di setiap wilayah," tegas Yuli Shan, profesor di University of Birmingham sekaligus salah satu penulis riset ini.
Penelitian ini menemukan bahwa daging dan produk olahan susu tetap menjadi penyumbang utama emisi karbon dari makanan, terutama di negara-negara kaya.
Di negara-negara berkembang, perubahan gaya hidup dan pola makan juga memegang peran penting. Sebagai contoh, melonjaknya emisi dari sektor pangan di China sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya konsumsi daging.
Sementara di India, beralihnya masyarakat untuk lebih banyak mengonsumsi produk susu berkontribusi besar terhadap kenaikan emisi.
Para peneliti menekankan bahwa upaya mengurangi emisi karbon harus tetap seimbang dengan pemenuhan gizi masyarakat.
"Di banyak negara berkembang, beralih ke makanan yang kaya nutrisi telah meningkatkan kualitas kesehatan warga, tetapi di sisi lain juga menaikkan emisi. Artinya, sekadar mengurangi jenis makanan tertentu justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan jika tidak hati-hati," jelas Klaus Hubacek, profesor di University of Groningen yang juga salah satu penulis riset ini.
Baca juga: Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Penelitian ini menemukan beberapa cara untuk mengurangi emisi dari sektor pangan, seperti memperbaiki sistem produksi makanan, mendukung perubahan pola makan yang ramah lingkungan, serta menyesuaikan langkah yang diambil dengan kondisi daerah setempat.
Para peneliti menyimpulkan bahwa strategi pengurangan dampak iklim tidak boleh lagi menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua orang.
Strategi tersebut harus memperhitungkan perubahan populasi, pola makan, kebutuhan gizi, serta perbedaan antarnegara dan wilayah.
Para penulis menegaskan kembali bahwa mengurangi emisi dari sektor pangan membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kelompok usia.
"Untuk kelompok usia muda, hal ini menekankan pentingnya edukasi dan lingkungan makanan yang sehat. Misalnya, lewat program yang mengajak anak-anak sekolah beralih ke makanan yang lebih sehat dan rendah emisi karbon," tambah Prajal Pradhan, profesor di University of Groningen yang turut menulis penelitian ini.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya