Sebagai perempuan di sektor teknologi akuakultur yang masih didominasi laki-laki, ia kerap menghadapi keraguan ketika berdiskusi dengan mitra maupun turun langsung ke tambak.
"Saya sering menjadi satu-satunya perempuan di sektor ini. Ketika datang ke lapangan, tidak sedikit yang meragukan apakah saya mampu," ujarnya.
Namun, pengalaman sebagai insinyur sekaligus mantan petambak membuatnya memahami persoalan yang dihadapi pelaku budidaya, mulai dari tingginya biaya operasional hingga risiko gagal panen.
Pengalaman tersebut menjadi dasar pengembangan teknologi Crustea yang dirancang untuk menjawab persoalan nyata di lapangan.
Di dalam perusahaan, Nafi'ah juga berupaya membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif. Saat ini sekitar 55 persen posisi manajemen Crustea ditempati perempuan.
"Kami percaya perempuan memiliki kemampuan yang sama. Karena itu kami ingin membangun perusahaan yang inklusif dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk perempuan yang bekerja di sektor akuakultur," katanya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya