Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Tambak Tak Lagi Harus Meluas demi Kejar Produksi...

Kompas.com, 27 Juli 2026, 20:02 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi banyak petambak tradisional, meningkatkan produksi selama ini identik dengan membuka lahan baru. Cara tersebut memang dapat menambah kapasitas budidaya, tetapi di sisi lain juga berisiko menggerus kawasan pesisir, termasuk hutan mangrove.

Berangkat dari persoalan itu, perusahaan teknologi akuakultur Crustea memilih pendekatan berbeda. Alih-alih mendorong ekspansi tambak, perusahaan rintisan ini berupaya meningkatkan produktivitas lahan yang sudah ada melalui pemanfaatan teknologi.

CEO dan Founder Crustea Roikhanatun Nafi'ah mengatakan peningkatan produksi dapat dilakukan dengan mengoptimalkan kualitas lingkungan di dalam tambak.

Perusahaannya mengembangkan sistem aerasi berbasis Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) yang mampu mengatur pasokan oksigen secara otomatis sesuai kebutuhan budidaya.

Baca juga: Perkuat Nilai Tambah Ekonomi Mangrove, Perempuan Pesisir di Kaltara Dilatih Olah Hasil Tambak

Dengan sistem tersebut, kadar oksigen di kolam menjadi lebih stabil sehingga tingkat kematian ikan dan udang dapat ditekan hingga 50 persen.

"Dengan teknologi kami, lahan seluas 500 meter persegi yang sebelumnya menghasilkan sekitar 500 kilogram kini bisa mencapai satu ton. Kami tidak membutuhkan lahan baru yang belum tentu aman bagi lingkungan. Yang kami lakukan adalah membuat lahan yang sudah ada menjadi lebih produktif," ujar Nafi'ah dalam sesi Membuka Potensi Ekonomi Berbasis Alam Indonesia pada Lestari Summit 2026, Rabu (22/7/2026).

Selain meningkatkan produktivitas, Crustea juga berupaya menekan biaya operasional yang selama ini menjadi tantangan utama para petambak.

Melalui pemanfaatan panel surya dan sistem IoT, penggunaan aerator dapat diatur secara otomatis sesuai kondisi tambak. Teknologi berbasis AI juga membantu menentukan kapan alat bekerja secara optimal dan kapan intensitasnya dapat dikurangi.

Menurut Nafi'ah, pendekatan tersebut mampu memangkas biaya energi hingga sekitar 80 persen tanpa mengurangi kualitas budidaya.

Dekarbonisasi akuakultur

Ia mengatakan inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya dekarbonisasi sektor akuakultur melalui pemanfaatan energi terbarukan dan teknologi digital.

Di sisi lain, Nafi'ah melihat peluang besar untuk meningkatkan produksi perikanan nasional tanpa harus memperluas kawasan budidaya.

Menurut dia, kebutuhan udang dan ikan di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 10 juta ton per tahun, sementara pasokan yang tersedia saat ini baru sekitar 1 juta ton.

Karena itu, Crustea tidak hanya menawarkan teknologi kepada petambak, tetapi juga mengembangkan model revitalisasi tambak yang kurang produktif agar mampu menghasilkan panen lebih tinggi sekaligus membuka akses ke pasar.

"Kami tidak hanya menjual teknologi, tetapi juga membantu mengoptimalkan kawasan budidaya yang sudah ada agar mampu memenuhi permintaan pasar, baik domestik maupun internasional," kata Nafi'ah.

Baca juga: Koperasi Desa Merah Putih di Pati Berdiri di Tengah Tambak, Kades Sebut Bakal Jadi Wisata

Di balik inovasi tersebut, Nafi'ah mengaku perjalanan membangun perusahaan tidak selalu mudah.

Sebagai perempuan di sektor teknologi akuakultur yang masih didominasi laki-laki, ia kerap menghadapi keraguan ketika berdiskusi dengan mitra maupun turun langsung ke tambak.

"Saya sering menjadi satu-satunya perempuan di sektor ini. Ketika datang ke lapangan, tidak sedikit yang meragukan apakah saya mampu," ujarnya.

Namun, pengalaman sebagai insinyur sekaligus mantan petambak membuatnya memahami persoalan yang dihadapi pelaku budidaya, mulai dari tingginya biaya operasional hingga risiko gagal panen.

Pengalaman tersebut menjadi dasar pengembangan teknologi Crustea yang dirancang untuk menjawab persoalan nyata di lapangan.

Di dalam perusahaan, Nafi'ah juga berupaya membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif. Saat ini sekitar 55 persen posisi manajemen Crustea ditempati perempuan.

"Kami percaya perempuan memiliki kemampuan yang sama. Karena itu kami ingin membangun perusahaan yang inklusif dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, termasuk perempuan yang bekerja di sektor akuakultur," katanya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
Vulkanik Anak Krakatau Menyebar ke 5 Provinsi, Ahli Peringatkan Risiko Kesehatan dari Menghirup dan Lingkungan Tercemar
LSM/Figur
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
Karhutla dan Abu Vulkanik Berisiko Ganggu Perdagangan Indonesia
LSM/Figur
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
PBB Peringatkan Kenaikan Permukaan Air Laut Jadi Ancaman Nyata Bagi HAM
Pemerintah
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Krisis Iklim Turunkan Performa Pembangkit Saat Permintaan Listrik Naik
Pemerintah
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau