KOMPAS.com - Keberadaan pusat data yang dapat beroperasi dengan stabil kini menjadi hal yang sangat penting bagi hampir semua bidang kehidupan modern, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan, jaringan listrik, perbankan, pertahanan, hingga penanganan bencana.
Namun, penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports oleh tim ilmuwan atmosfer dari Universitas Hawai'i (UH) di M?noa mengungkapkan bahwa perubahan iklim di masa depan dapat menyulitkan penggunaan salah satu metode pendinginan pusat data yang paling murah dan paling hemat energi.
Melansir Phys, Jumat (26/6/2026) tim peneliti yang dipimpin oleh Christina Karamperidou, profesor ilmu atmosfer di UH M?noa, menganalisis data suhu dan tingkat kelembapan udara di seluruh dunia baik masa lalu maupun perkiraan masa depan.
Mereka kemudian membandingkan data tersebut dengan syarat yang dibutuhkan untuk menjalankan sistem "direct air free cooling" yaitu metode pendinginan gedung atau peralatan yang memanfaatkan udara dingin alami dari luar secara langsung.
Baca juga: Emisi Karbon Pusat Data Diprediksi Lebih Tinggi dari Perkiraan
"Kami menemukan bahwa masa-masa di mana suhu dan kelembapan udara melewati batas aman pendinginan alami kini terjadi lebih sering dan berlangsung lebih lama di banyak wilayah," kata Karamperidou.
"Hal ini akan mengurangi kesempatan penggunaan pendinginan alami bagi makin banyaknya data center di seluruh dunia," paparnya lagi.
Dalam studinya, Karamperidou dan timnya menggabungkan data cuaca per jam yang sangat rinci, simulasi model iklim, serta peta lokasi pusat data di seluruh dunia. Langkah ini memungkinkan mereka untuk mengukur seberapa sering kondisi udara luar melewati batas aman pendinginan alami, baik dari data sejarah masa lalu maupun perkiraan iklim di masa depan.
Dengan menganalisis kumpulan data dari seluruh dunia, para peneliti berhasil menemukan pola dan tren besar yang tidak akan terlihat jika penelitian hanya berfokus pada satu atau dua lokasi saja.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 45 tahun terakhir, jumlah jam dengan kondisi udara yang terlalu panas dan lembap telah meningkat secara signifikan sehingga tidak bisa menggunakan pendingin udara alami. Itu terutama terjadi di daerah tropis dan wilayah tenggara Amerika Serikat.
Analisis di tingkat lokasi dan pasar juga memperlihatkan bahwa makin banyak data center yang menghadapi udara panas dan lembap selama setidaknya tiga bulan dalam setahun. Perkiraan hingga pertengahan abad ini menunjukkan bahwa keterbatasan ini akan terus meluas seiring meningkatnya suhu dan kelembapan Bumi.
Salah satu temuan utama mereka adalah bahwa perubahan terbesar tidak selalu terlihat pada kondisi cuaca rata-rata harian. Di beberapa wilayah, kondisi pada hari-hari dengan cuaca terburuk justru memburuk jauh lebih cepat daripada cuaca rata-rata. Ini menunjukkan bahwa tekanan lingkungan makin menumpuk pada peristiwa-peristiwa langka namun berdampak besar.
"Dari sudut pandang operasional, hari-hari dengan cuaca terburuk itulah yang biasanya menjadi penentu dalam perencanaan darurat, pengalihan sistem, penyediaan sistem cadangan, dan keputusan keandalan," jelas Karamperidou.
Baca juga: Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
"Ini berarti perencanaan infrastruktur tidak boleh hanya melihat cuaca rata-rata, tetapi juga harus memperhitungkan bagaimana hari-hari yang paling ekstrem tersebut berubah dari waktu ke waktu," terangnya
Lebih lanjut, gabungan dari berbagai faktor tersebut pun kini menciptakan tantangan besar bagi masyarakat. Di tengah melonjaknya penggunaan kecerdasan buatan (AI), kebutuhan akan data center terus meningkat, justru di saat perubahan iklim makin membatasi cara pendinginan yang hemat energi. Memahami perubahan ini sangat penting demi keberlangsungan dan ketahanan jangka panjang.
"Penelitian kami membahas masalah yang berada di titik pertemuan antara iklim, teknologi komputer, energi, serta sumber daya air," kata Karamperidou.
"Kami berharap studi ini dapat membantu menentukan di mana teknologi baru dan metode pendinginan mutakhir bisa menjadi solusi atas pilihan sulit antara keandalan sistem, penggunaan energi, dan pemakaian air," tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya