Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental

Kompas.com, 28 Juli 2026, 12:36 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

"Masyarakat di wilayah berpenduduk jarang mungkin memiliki akses yang lebih terbatas ke layanan kesehatan mental dan perawatan darurat. Hal ini membuat mereka lebih rentan ketika gelombang panas memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada," terang Guo.

Ketersediaan fasilitas medis yang minim, jarak tempuh yang jauh untuk mendapat perawatan, serta rasa kesepian/terisolasi diduga ikut menjadi penyebabnya.

Pola berdasarkan usia ini berbeda dari beberapa temuan terdahulu. Sebuah studi tentang kunjungan darurat pernah menemukan bahwa anak-anak dan remaja sangat sensitif terhadap perubahan suhu, namun dalam penelitian ini justru pasien lansia yang menunjukkan dampak paling nyata.

Kedua temuan ini sebenarnya bisa sama-sama benar, karena cuaca panas dapat memengaruhi orang yang berbeda melalui cara yang berbeda pula.

Hawa panas membebani pikiran

Penelitian ini hanya menghitung jumlah pasien yang masuk rumah sakit, bukan proses biologis di dalam tubuh mereka, sehingga penyebab pastinya masih berupa dugaan ilmiah.

Sebagian besar alasannya berkaitan erat dengan tidur. Suhu panas membuat orang sulit tidur dan sering terbangun, padahal tidur yang terganggu adalah salah satu pemicu utama munculnya depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar.

Panas yang berkepanjangan tidak cuma merusak waktu istirahat. Suhu tinggi juga meningkatkan hormon stres, mengganggu suhu inti tubuh, serta mengikis kesabaran dan kendali diri yang biasanya menjaga agar gejala mental tidak kambuh.

Bagi seseorang yang kesehatan mentalnya sudah dalam kondisi rentan, panas terik selama seminggu penuh bisa menjadi dorongan terakhir yang membuat mereka harus dilarikan ke rumah sakit.

Efek penurunan kondisi yang lambat ini cocok dengan pola waktu dalam data. Lonjakan pasien masuk rumah sakit tidak hanya naik mendadak lalu menghilang begitu saja.

Angkanya terus merambat naik selama berhari-hari setelah malam panas pertama terjadi. Hal ini sesuai perkiraan bahwa dampak buruk panas itu menumpuk sedikit demi sedikit, bukan menyerang sekaligus.

Menghadapi musim panas yang lebih panas

Pola waktu ini memberikan pelajaran penting yang melampaui dunia medis. Perubahan iklim membuat gelombang panas berlangsung lebih lama, makin membakar, dan lebih sering terjadi, padahal panas ekstrem sendiri sudah menjadi salah satu cuaca paling mematikan dalam sejarah.

Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem

Salah satu studi memperkirakan angka kematian akibat gelombang panas secara global mencapai lebih dari 150.000 jiwa setiap tahunnya.

Bagi pihak rumah sakit, pesan dari riset ini sangat praktis. Gelombang panas tidak hanya mengirim orang ke IGD karena tersengat panas dan dehidrasi, tetapi juga memicu lonjakan "tersembunyi" atas kebutuhan penanganan kesehatan mental, hal yang jarang diperhitungkan oleh para perencana fasilitas medis.

"Bukti kami menunjukkan bahwa panas ekstrem dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada, meningkatkan tekanan psikologis, dan mempertinggi risiko pasien harus dirawat di rumah sakit," tambah Guo.

Bukti ini kini sulit untuk diabaikan. Hal yang dulunya hanya sekadar dugaan yang belum pasti, kini telah menjadi pola yang terukur dengan jelas berdasarkan data dari empat negara dan catatan selama dua dekade.

Kota-kota dan layanan kesehatan yang membuat perencanaan menghadapi cuaca panas kini bisa mulai memperhitungkan dampaknya terhadap pikiran. Mereka dapat menambah petugas layanan kesehatan jiwa dan penanganan krisis sebelum gelombang panas yang panjang melanda, bukan baru bersiap saat cuaca panas sudah terjadi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Bappenas Finalisasi Rencana Aksi Food Loss and Waste, Berharap Sistem Pangan Berdampak ke Krisis Iklim
Pemerintah
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
25 Juta Hektar Hutan Rumput Laut Global Terancam Lenyap akibat Krisis Iklim
Pemerintah
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
RUU Pangan Belum Cukup Mengatur Persoalan Sisa Pangan
LSM/Figur
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Bagaimana Asia Memenuhi Kebutuhan Energi untuk Lonjakan Pusat Data?
Pemerintah
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
RUU Pangan Dinilai Belum Cukup Antisipasi Krisis Iklim
LSM/Figur
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Kebakaran Hutan Kalimantan: 60 Persen Habitat Orang Utan Terdampak
Pemerintah
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau