"Masyarakat di wilayah berpenduduk jarang mungkin memiliki akses yang lebih terbatas ke layanan kesehatan mental dan perawatan darurat. Hal ini membuat mereka lebih rentan ketika gelombang panas memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada," terang Guo.
Ketersediaan fasilitas medis yang minim, jarak tempuh yang jauh untuk mendapat perawatan, serta rasa kesepian/terisolasi diduga ikut menjadi penyebabnya.
Pola berdasarkan usia ini berbeda dari beberapa temuan terdahulu. Sebuah studi tentang kunjungan darurat pernah menemukan bahwa anak-anak dan remaja sangat sensitif terhadap perubahan suhu, namun dalam penelitian ini justru pasien lansia yang menunjukkan dampak paling nyata.
Kedua temuan ini sebenarnya bisa sama-sama benar, karena cuaca panas dapat memengaruhi orang yang berbeda melalui cara yang berbeda pula.
Penelitian ini hanya menghitung jumlah pasien yang masuk rumah sakit, bukan proses biologis di dalam tubuh mereka, sehingga penyebab pastinya masih berupa dugaan ilmiah.
Sebagian besar alasannya berkaitan erat dengan tidur. Suhu panas membuat orang sulit tidur dan sering terbangun, padahal tidur yang terganggu adalah salah satu pemicu utama munculnya depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar.
Panas yang berkepanjangan tidak cuma merusak waktu istirahat. Suhu tinggi juga meningkatkan hormon stres, mengganggu suhu inti tubuh, serta mengikis kesabaran dan kendali diri yang biasanya menjaga agar gejala mental tidak kambuh.
Bagi seseorang yang kesehatan mentalnya sudah dalam kondisi rentan, panas terik selama seminggu penuh bisa menjadi dorongan terakhir yang membuat mereka harus dilarikan ke rumah sakit.
Efek penurunan kondisi yang lambat ini cocok dengan pola waktu dalam data. Lonjakan pasien masuk rumah sakit tidak hanya naik mendadak lalu menghilang begitu saja.
Angkanya terus merambat naik selama berhari-hari setelah malam panas pertama terjadi. Hal ini sesuai perkiraan bahwa dampak buruk panas itu menumpuk sedikit demi sedikit, bukan menyerang sekaligus.
Pola waktu ini memberikan pelajaran penting yang melampaui dunia medis. Perubahan iklim membuat gelombang panas berlangsung lebih lama, makin membakar, dan lebih sering terjadi, padahal panas ekstrem sendiri sudah menjadi salah satu cuaca paling mematikan dalam sejarah.
Baca juga: Kota-Kota di Asia dan Afrika Paling Terancam Cuaca Panas Ekstrem
Salah satu studi memperkirakan angka kematian akibat gelombang panas secara global mencapai lebih dari 150.000 jiwa setiap tahunnya.
Bagi pihak rumah sakit, pesan dari riset ini sangat praktis. Gelombang panas tidak hanya mengirim orang ke IGD karena tersengat panas dan dehidrasi, tetapi juga memicu lonjakan "tersembunyi" atas kebutuhan penanganan kesehatan mental, hal yang jarang diperhitungkan oleh para perencana fasilitas medis.
"Bukti kami menunjukkan bahwa panas ekstrem dapat memperburuk kondisi kesehatan mental yang sudah ada, meningkatkan tekanan psikologis, dan mempertinggi risiko pasien harus dirawat di rumah sakit," tambah Guo.
Bukti ini kini sulit untuk diabaikan. Hal yang dulunya hanya sekadar dugaan yang belum pasti, kini telah menjadi pola yang terukur dengan jelas berdasarkan data dari empat negara dan catatan selama dua dekade.
Kota-kota dan layanan kesehatan yang membuat perencanaan menghadapi cuaca panas kini bisa mulai memperhitungkan dampaknya terhadap pikiran. Mereka dapat menambah petugas layanan kesehatan jiwa dan penanganan krisis sebelum gelombang panas yang panjang melanda, bukan baru bersiap saat cuaca panas sudah terjadi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya