Saat ini program telah memasuki tahun kedua dengan fokus rehabilitasi pada kawasan yang memiliki tutupan mangrove paling rendah.
Program tersebut melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) Flora Mangrove dalam proses pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan.
Selama periode Mei 2025 hingga April 2026, sebanyak 20.800 bibit mangrove telah ditanam dan dipelihara di Kawasan Hutan Lindung Angke Kapuk.
Menurut Agung, rehabilitasi mangrove juga menjadi bagian dari upaya adaptasi perubahan iklim yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup anak.
"Jika polusi berkurang dan ketangguhan iklim meningkat, manfaatnya akan sangat dirasakan anak-anak. Karena itu kami berkontribusi melalui rehabilitasi ekosistem mangrove," katanya.
Senada, Zone Program Manager Jawa dan Sumatera WVI Johny Noya mengatakan kerusakan lingkungan di kawasan pesisir berdampak langsung terhadap kesehatan, rasa aman, dan tumbuh kembang anak.
"Setiap kali banjir rob datang, anak-anak menjadi kelompok yang paling terdampak karena kehilangan tempat tinggal, ruang bermain, dan tempat belajar. Karena itu pemulihan lingkungan harus dilakukan secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai pihak," ujarnya.
Dalam memperingati Hari Mangrove Sedunia, WVI juga menggandeng Universitas Bina Nusantara (BINUS) dan Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) untuk melibatkan generasi muda dalam rehabilitasi ekosistem pesisir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya